Bab 11 Apa Sebenarnya yang Terjadi Padamu?

Depois que eu morri, meu ex-marido escroto enlouqueceu Susu vai ficar rica da noite para o dia. 1234kata 2026-07-31 10:07:14

Su Zhi, yang tadinya tenang, menggerakkan matanya sedikit. Terlihat menyedihkan? Ya, memang. Bahkan Xu Fei saja bisa melihat kondisinya saat ini, bagaimana mungkin Fu Jinnan tidak menyadarinya? Demi wanita itu, dia benar-benar tidak memedulikan apa pun lagi.

"Bisa dibilang, aku juga telah diperas habis-habisan," ucapnya sambil tersenyum kecut, sudut bibirnya tertarik membentuk ekspresi yang dipaksakan.

Melihat itu, Xu Fei tersenyum jahil. "Oh, jadi bosmu itu menghabiskan malam dengan berpesta pora ya? Ck, tidak kusangka bos yang berwajah dingin itu ternyata punya sisi seperti ini di balik layar."

Sambil berbicara, ia melemparkan inti apel ke dalam tempat sampah hingga terdengar bunyi "buk!" yang cukup keras.

Hati Su Zhi mencelos. Ia menatap ke arah tempat sampah itu lekat-lekat. Ia merasa dirinya pun seperti sampah, dibuang begitu saja oleh pria itu.

"Tidak, kami akan bercerai."

Tatapan matanya yang mati terpaku di mata Xu Fei. Sahabatnya itu terlihat tidak percaya, alisnya bertaut. "Apa? Omong kosong apa yang kau katakan, Su Zhi? Jangan bercanda seperti itu."

Xu Fei berdiri dan menggenggam tangan Su Zhi.

"Kau tahu apa yang sedang kau lakukan? Itu Fu Jinnan! Bukankah kalian pasangan yang paling saling mencintai?"

Kisah cinta mereka dulunya sangat melegenda di kalangan sosialita. Bahkan saat keluarga Su bangkrut, sang Direktur Fu itu tetap setia mendampingi. Namun kini, Su Zhi justru mengatakan bahwa mereka akan bercerai.

Su Zhi yang memang sedang lemah, tubuhnya berguncang saat ditarik oleh Xu Fei. Ia terbatuk dua kali.

"Lantas kenapa? Semuanya sudah berakhir, Xu Fei."

Di dasar matanya, tidak ada lagi riak emosi. Seolah-olah ia sedang membicarakan masalah orang lain yang tidak penting.

Tadi malam, Su Zhi sudah merasakan sakit yang teramat sangat. Demi seorang wanita, pria itu mengabaikan hubungan mereka yang telah terjalin bertahun-tahun. Ia merasa dirinya seperti lelucon, masih dengan naifnya menunggu penjelasan dari Fu Jinnan.

Xu Fei menatap wajah Su Zhi yang tampak kuyu. Tidak ada lagi sisa-sisa semangat yang dulu terpancar. Wajah yang dulunya ceria itu, entah sejak kapan, kini sedingin es.

"Belakangan ini, Direktur Fu memang terlihat sangat dekat dengan putri saudagar dari luar negeri itu. Apakah karena ini?"

Ia tidak bisa menemukan alasan lain untuk meragukan hubungan Su Zhi dan Fu Jinnan, selain berita yang sedang viral di seluruh media sosial akhir-akhir ini.

Su Zhi mencibir dingin, "Jika bukan dia, pasti akan ada wanita lain. Fu Jinnan tidak setia padaku." Teringat foto-foto itu, tatapan matanya kini seolah bisa membeku menjadi es.

Xu Fei mengerti. Tidak ada istri yang sanggup menghadapi kelakuan suaminya yang seperti ini, dan ia tidak menyangka Fu Jinnan adalah pria yang demikian.

"Apakah dia tidak memberikan penjelasan? Kalian..." Sebelum kalimatnya selesai, ia melihat darah mengalir deras dari bawah hidung Su Zhi. Ia menjerit kaget, "Ada apa denganmu?"

Dengan panik, ia mengambil tisu basah dari meja. Su Zhi menerimanya dan menekan tisu itu ke hidungnya, namun darah itu seolah tidak bisa berhenti mengalir.

Su Zhi menggigit bibirnya erat-erat. Kepalanya terasa seolah dihantam ribuan kuda yang berlari kencang, sakitnya membuat ia sulit bernapas.

Ia tidak tahu, ternyata rasanya akan sesakit ini.

Xu Fei yang kebingungan panik bukan main. Ia belum pernah melihat kejadian seperti ini dan berniat segera memanggil ambulans.

Tiba-tiba, sebuah tangan menggenggam pergelangan tangannya. Dengan ngeri, ia menyadari bahwa tangan itu milik Su Zhi. Su Zhi menggelengkan kepalanya pelan, "Jangan, jangan lakukan itu."

Air mata Su Zhi mengalir deras. Ia berjongkok di lantai sambil memegangi hidungnya, butuh waktu lama baginya untuk bisa kembali bernapas dengan tenang.

"Tidak apa-apa, pergi ke rumah sakit pun tidak ada gunanya." Su Zhi membuang tisu itu ke tempat sampah, lalu menatap tajam ke mata Xu Fei. "Percuma, Xu Fei."

Xu Fei tidak mengerti maksudnya, ia hanya mengangguk kaku dan bertanya lagi, "Sebenarnya apa yang terjadi padamu?"