Bab 6: Aku! Lin Taotao telah kembali!
Saat itu, Lin Wenhai mengeluarkan sebuah bungkusan kain kecil dari balik bajunya.
"Selama bertahun-tahun ini, kau telah melahirkan empat anak untukku, namun aku bahkan belum pernah membelikanmu sesuatu yang layak. Aku berpikir, setelah kau melahirkan anak ini, aku harus memberikanmu sesuatu. Sayangnya, aku hanyalah pria kasar yang tidak mengerti barang-barang wanita. Jadi, aku meminta Nona Lianxiang untuk memesankan gelang ini pada perajin perak yang ia kenal. Tadi saat aku mengantar barang, ia kebetulan memberikan gelang yang sudah jadi ini padaku. Aku khawatir kakak iparmu salah paham karena hal ini."
Lin Taotao melihat ukuran lingkaran gelang itu dan mau tak mau menggerutu dalam hati.
[Pria bajingan tak tahu malu! Lingkaran sekecil itu, mana mungkin tangan Ibu yang besar bisa masuk! Jelas-jelas itu dibuat untuk pelacur, tapi dia masih berani bersikap seolah itu dibuat untuk istrinya sendiri! Cih! Benar-benar tidak tahu malu!]
Wang Jinzhi yang sempat melamun merasa hatinya bergetar. Khawatir Lin Wenhai menyadari kebencian di matanya, ia segera menundukkan kepala lebih dalam.
"Wen, Wenhai, kau benar-benar perhatian." Ia mengulurkan tangan menerima gelang perak itu.
Saat kembali mendongak, Wang Jinzhi berusaha tersenyum sebodoh biasanya. "Aku tentu percaya padamu. Kakak laki-lakiku juga bersikap gegabah karena mengkhawatirkanku. Jangan salahkan dia. Biar Ibu menemanimu pergi ke tempat tabib Wu untuk memeriksakan diri."
Lin Wenhai menyeka darah mimisan di bibirnya, menahan amarah yang hampir membuat gigi gerahamnya retak. Tidak menyalahkannya? Setelah dipukuli hingga ibunya sendiri mungkin tak akan mengenalinya, ia bahkan ingin membunuh Wang Dahu saat itu juga! Namun, ia terpaksa diam seperti orang bisu, menelan kepahitan tanpa bisa mengeluh.
"Ti-tidak apa-apa. Ibu tidak ada di rumah, kau dan anak-anak sudah banyak dibantu oleh mertuaku. Biar aku pergi sendiri saja." Lin Wenhai terhuyung-huyung berpegangan pada meja dan kursi saat berjalan keluar. Ia takut jika tinggal lebih lama, nyawanya akan melayang di tangan Wang Dahu.
Begitu suara pintu halaman tertutup terdengar, Wang Dahu berseru, "Puas sekali! Sudah seharusnya dia diperlakukan seperti ini sejak dulu! Sebelumnya, kami bersaudara selalu menahan amarah, tidak berani membentaknya karena takut dia akan melampiaskan kemarahan padamu setelah pulang. Hari ini akhirnya dendam terbayar!"
"Benar! Mulai sekarang, kita tidak perlu bersikap sopan lagi pada keluarga binatang itu!" Wang Tian meninju tangannya sendiri.
Wang Dahu menyeka noda darah di tangannya, mengeluarkan kalung perak dari bungkusan di sampingnya, lalu memakaikannya pada bayi mungil itu. Di tengah kalung tersebut tergantung sebuah liontin umur panjang sebesar telapak tangan orang dewasa.
"Bao'er, ini adalah tanda kasih sayang dari kakek, nenek, dan paman-pamanmu. Semoga Bao'er kita selalu hidup damai dan segala keinginannya tercapai."
Melihat liontin perak itu, mata Wang Jinzhi memerah. "Seharusnya, nenek dan ayahnya yang menyiapkan semua ini. Semua salahku, karena aku tidak disukai, anak-anak pun tidak dianggap oleh mereka."
Melihat itu, Wang Tian melambaikan tangannya. "Kita tidak mengharapkan apa pun dari mereka. Jinzhi, cepat beri anak ini nama."
Wang Jinzhi menggendong bayi yang sedang menjulurkan lidah kecilnya itu dengan raut bingung.
"Bagaimana kalau Taohua (Bunga Persik)? Ini kan bulan ketiga, saat bunga persik bermekaran, sangat cocok," ujar Wang Tian.
[Hu hu hu, aku lebih suka nama 'Tao' (Melarikan diri) yang diberikan oleh leluhur. Lin Taotao, bukankah nama itu terdengar bagus!]
Mendengar suara batin bayi mungil itu, Wang Jinzhi segera berkata, "Nama 'Tao' saja! Maknanya, seseorang yang selamat dari bencana besar pasti akan memiliki keberuntungan di masa depan. Beruntung anak ini membawa berkah, takdirnya memang tidak boleh berakhir."
"Baik! Kau ibunya, terserah padamu. Taotao, tidak buruk, terdengar cukup manis."
[Bagus sekali! Memang benar, hanya Ibu kandungku yang paling menyayangiku. Tenang saja Ibu, aku ini sangat hebat! Mulai sekarang, aku yang akan melindungi Ibu. Pokoknya, dengan aku, Lin Tao, yang memimpin, lihat siapa yang berani memusuhi Ibu! Aku! Lin Taotao telah kembali!]
Lin Taotao melambaikan tangan kecilnya yang gempal, ingin membentuk simbol hati. Namun... tangan kecil yang menyebalkan ini tampaknya punya kemauan sendiri. Tidak ada pilihan lain, ia mengerucutkan bibirnya, berusaha membentuk mulut kecilnya menjadi bentuk hati.
Memiliki ibu yang begitu mengerti isi hatinya, siapa yang tidak akan mencintainya? Mendengar suara batin si bayi, Wang Jinzhi tak kuasa menahan senyum, hatinya terasa manis dan hangat.
Memiliki putri seperti ini pasti adalah berkah yang ia kumpulkan selama beberapa kehidupan!
"Putriku, ikutlah pulang bersama Ibu membawa anak-anak," ucap Wang Tian lembut.
Wang Dahu juga menyahut, "Benar! Uang tidaklah penting. Di hati Ayah, Ibu, dan kakak-kakakmu, kalianlah yang paling berharga."
Lin Taotao merasa cemas. Dalam takdir aslinya, sang ibu seharusnya meninggal di keluarga Lin. Jika ia bisa membujuk ibunya pergi sekarang, bukankah itu berarti mengubah takdirnya sepenuhnya? Itu artinya ada satu kesempatan lagi untuk menghancurkan belenggu nasib!
Tunggu! Kesempatan!
Ia ingat dalam buku aslinya, Lin Wenhai menjual putra keduanya, Lin Qiusou, ke toko daging tak lama setelah menjual putrinya, karena butuh uang untuk menafkahi si pelacur. Karena itulah, Lin Wenhai bertemu dengan tokoh antagonis pria kedua dalam buku ini. Jika dihitung, sepertinya itu akan terjadi dalam satu atau dua hari ke depan!
Lin Taotao merasa sangat mendesak. Menyelamatkan orang dan mengubah takdir tidak sulit, tetapi syaratnya adalah ia harus bisa bertemu dengan orang tersebut.
[Ibu! Masih ragu apa lagi! Kalau tidak segera menjemput Kakak, takutnya nanti tidak akan pernah bisa bertemu lagi!]
Jantung Wang Jinzhi berdegup kencang. Ia melihat langit di luar pintu, lalu menatap bayi di pelukannya.
"Kata Ibu benar, besok pagi kita akan segera menjemput Chuyi dan yang lainnya."
Wang Tian dan Wang Dahu merasa gembira, dan Lin Taotao jauh lebih bahagia! Semakin banyak kesempatan seperti ini, semakin besar peluangnya untuk melepaskan diri dari belenggu takdir!
Malam itu, setelah menidurkan bayi mungilnya, Wang Jinzhi bangkit dan pergi ke kamar ibu mertuanya, Lin Niushi. Uang yang didapat dengan susah payah oleh orang tua dan kakak-kakaknya, serta penderitaan yang ia dan anak-anaknya alami di keluarga Lin selama ini, tidak mungkin dibiarkan begitu saja.