Bab Enam Belas: Kunjungan ke Taman Hiburan
Halaman (1/3)
Astaga, taman hiburan sebesar ini benar-benar bisa dikosongkan begitu saja. Orang kaya memang seenaknya.
“Tidak perlu, Paman Qin. Taman hiburan memang lebih menyenangkan kalau ramai.” Ia menolaknya dengan halus.
Xu Wan melirik ke samping dan melihat Gu Huaizhi bersandar malas di kursinya. Ia tidak punya kegiatan apa pun karena semua majalah, koran, dan tabletnya disita oleh Nenek, memaksanya menemani mereka.
Bagus, bagus. Suasana hatinya jadi semakin baik.
Dengan penuh semangat, ia menatap Gu Huaizhi. “Ayo!”
Ia belum pernah bermain di taman hiburan sebesar ini. Sejak kecil, ia memiliki ketertarikan yang sulit dijelaskan terhadap tempat semacam itu. Kebetulan sudah lebih dari sebulan ia berada di sini, tetapi karena kakinya terluka dan sulit berjalan, ia belum sempat bersenang-senang. Kali ini ia akan bermain sepuasnya.
Bahkan dari dalam mobil, mereka bisa mendengar jeritan pengunjung dan keributan anak-anak dari dalam taman hiburan.
Gu Huaizhi mengernyit. Ia tidak menyukai tempat yang dipenuhi kebisingan seperti ini. Setelah terdiam cukup lama, ia berkata, “Bisakah kau memilih tempat yang sedikit… lebih tenang?”
Misalnya pameran, kafe, kilang anggur, atau tempat semacam itu.
Xu Wan mendengus dalam hati. Ia memang sengaja memilih tempat ini.
Saat memiliki waktu luang, Gu Huaizhi memang sesekali pergi melihat pameran. Dahulu, Xu Wan yang asli pernah membelikannya tiket pameran lukisan demi mengambil hatinya. Ia menunggu dari pagi hingga malam, tetapi Gu Huaizhi tak kunjung muncul.
Mengingat hal itu, rasa tidak sukanya terhadap Gu Huaizhi semakin besar. “Aku suka tempat ini! Pokoknya aku tidak mau!”
Setelah berkata begitu, ia langsung turun dari mobil.
“Tuan Muda, turuti saja Nyonya Muda,” bujuk Paman Qin.
Gu Huaizhi melirik Paman Qin, lalu akhirnya ikut turun dari mobil.
Sebelum berangkat, Xu Wan sudah menentukan tujuannya. Mengenakan qipao pesanan khusus tentu tidak praktis, jadi ia berganti pakaian menjadi kaus merah muda nyaman dengan potongan pinggang, dipadukan dengan celana jins lebar berpinggang tinggi. Rambut ikalnya yang menyerupai ganggang laut juga diikat menjadi ekor kuda tinggi, membentuk lengkungan indah saat terayun di udara.
Gu Huaizhi berdiri di samping mobil dan mengamatinya sekilas.
Hm. Gaya berpakaian itu sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan dikenakan Xu Wan. Apakah seseorang yang kepalanya terbentur hingga rusak juga bisa mengalami perubahan selera?
“Ayo!” Karena tidak mendengar suara langkah dari belakang, Xu Wan menoleh dengan tidak sabar untuk mendesaknya.
Gu Huaizhi masih mengenakan kemeja hitam dan celana panjang jas. Meski tidak serapi biasanya saat pergi ke kantor dengan dasi terikat sempurna, penampilannya tetap tampak agak tidak cocok dengan taman hiburan. Ia sangat mirip…
Xu Wan menatapnya, lalu tertawa geli karena pikirannya sendiri.
Gu Huaizhi menyadari bahwa Xu Wan telah mengamatinya dari atas ke bawah, kemudian tiba-tiba menunjukkan senyum yang agak aneh. Alisnya sedikit berkerut. “Apa yang kau tertawakan?”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
“Eh! Kau benar-benar mirip orang yang berdiri di depan taman hiburan sambil membagikan brosur dan menjual asuransi. Hahaha…” Xu Wan tertawa hingga membungkuk, memegangi perutnya, lalu menepuk bahunya.
Gu Huaizhi melirik jari-jari ramping yang bertengger di lengannya. Ia tidak mengatakan apa-apa, tetapi maksudnya untuk tidak disentuh Xu Wan terlihat sangat jelas.
Karena sudah memutuskan untuk kembali dan tidak menginginkan uang seratus juta miliknya, Xu Wan pun bertekad melakukan apa pun yang membuatnya bahagia.
Karena itu, ia bukan hanya tidak melepaskan tangannya, tetapi malah sengaja menggosok-gosokkannya pada lengan Gu Huaizhi. Di balik kain kemeja yang tipis, ia samar-samar dapat merasakan suhu tubuh pria itu.
“Ayo, Suamiku!” Xu Wan mengaitkan lengannya pada lengan Gu Huaizhi dan menariknya menuju antrean wahana kapal bajak laut.
Antrean kapal bajak laut itu sangat panjang. Xu Wan mulai gelisah. Ia melihat-lihat wahana lain, tetapi tanpa terkecuali semuanya juga memiliki antrean panjang.
Ia menyesal. Seharusnya tadi ia tidak mengatakan bahwa ia menyukai keramaian. Terlalu ramai juga ternyata tidak menyenangkan.
“Aku tidak mau bermain. Aku akan menunggumu di samping.” Jelas sekali Gu Huaizhi merasa membuang waktu untuk mengantre demi permainan membosankan seperti ini sama sekali tidak perlu.
Sambil berkata begitu, ia hendak menarik lengannya yang masih dipegang Xu Wan. Namun, perempuan itu bersikeras tidak mau melepaskannya.
“Aku tidak mau! Kita sudah sampai di sini! Hati-hati, nanti aku mengadu kepada Nenek dan memintanya membuatmu menemaniku seperti ini setiap hari!” Xu Wan mengangkat dagu dengan bangga.
Bermain sendirian tentu tidak menyenangkan. Ia ingin melihat ekspresi panik Gu Huaizhi, yang biasanya selalu tenang dan terkendali!
Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuatnya bersemangat. Xu Wan menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan penuh harap.
Gu Huaizhi memandang wajahnya yang berseri-seri dan tanpa sadar terpaku sesaat. Ternyata Xu Wan juga bisa bersikap seganas dan seberani itu.
Dahulu, Xu Wan selalu bersikap sangat rendah diri di hadapannya atau justru bertindak sangat gila. Sementara itu, Gu Huaizhi tidak pernah memiliki waktu maupun keinginan untuk memahaminya.
“Kau sedang mengancamku?” tanyanya setelah beberapa saat.
Orang-orang yang mengenal Gu Huaizhi tahu bahwa hal yang paling dibencinya adalah ancaman.
“Jelas.” Ia sama sekali tidak menyembunyikannya dan terus terang mengakui bahwa dirinya memang sedang mengancam Gu Huaizhi.
“Tidak akan berguna.” Pria itu menarik lengannya dengan wajah dingin, lalu hendak pergi.
“Jangan-jangan kau tidak berani bermain? Kalau memang tidak berani, bilang saja terus terang. Aku bukan orang yang suka memaksa. Tapi kalau mencari-cari alasan, kau jadi kelihatan sok. Aku tidak bilang kau harus memainkan wahana tertentu, hanya saja menurutku kita sudah sampai di sini. Kalau bukan karena tidak berani, bermain sebentar memangnya kenapa? Kalau begini, kau benar-benar membuatku merasa bahwa kau itu…”
Cerewetnya membuat orang-orang di depan dan belakang mereka melirik dengan berbagai ekspresi. Ocehannya yang tiada henti membuat pelipis Gu Huaizhi berdenyut. Pada akhirnya, karena sudah tidak tahan lagi, ia menutup mulut Xu Wan dengan telapak tangannya.
“Kau ngapain? Lepaskan aku…” Ia berusaha menyingkirkan tangan besar dengan buku-buku jari tegas itu sambil meronta tidak puas.
“Diam. Antre dengan tenang.” Ucapannya singkat dan padat.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Hehe.” Xu Wan langsung menunjukkan ekspresi puas karena berhasil mencapai tujuannya, lalu diam.
Sesekali Xu Wan berjinjit untuk melihat antrean yang tak kunjung bergerak. Ia menghela napas bosan.
“Kenapa tidak tertawa lagi? Bukankah kau suka keramaian?” Gu Huaizhi malah menambahkan sindiran dari samping.
Xu Wan menatapnya dengan heran. “Bukankah biasanya kau sangat hemat bicara? Kenapa sekarang malah banyak omong?”
Tatapan dingin pria itu memunculkan sedikit senyum. “Beginikah caramu memperlakukan orang yang kau sukai?”
Tidak menyangka Gu Huaizhi akan berkata seperti itu, Xu Wan langsung memasang ekspresi seolah-olah melihat hantu.
Tidak bisa begini. Ia harus membalas dengan membuatnya jijik.
“Aku sudah tidak menyukaimu,” katanya serius.
Senyum di mata Gu Huaizhi memudar sedikit. Ia hanya menatap Xu Wan tanpa berkata-kata.
“Aku mencintaimu, Suamiku. Beginilah caraku mencintai seseorang.” Sambil berkata begitu, Xu Wan membuat bentuk hati dengan kedua tangannya, lalu mengedipkan satu mata.
Pria itu terdiam dengan ekspresi kaku selama beberapa saat, kemudian pura-pura tidak terjadi apa-apa dan memalingkan wajah.
Sudut bibir Xu Wan tak kuasa terangkat. Ia berhasil membuat Gu Huaizhi merasa jijik. Hatinya pun terasa puas.
“Nona, apakah Anda membutuhkan layanan bebas antre?” Seorang pria bermasker dan bertopi bisbol menghampiri mereka.
Xu Wan segera mengibaskan tangan. “Tidak perlu.”
“Perlu.” Suara berat Gu Huaizhi terdengar.
Xu Wan langsung menoleh kepadanya dengan ekspresi seolah-olah ia sudah gila.
Orang ini pasti calo atau penipu.
“Untuk kami berdua, berapa harganya?” Gu Huaizhi tidak menghiraukannya dan langsung menanyakan harga.
“Wah, Kawan, Anda memang terus terang. Harga saya paling murah. Dengan dua ratus ribu, saya bisa membantu kalian melewati antrean di semua wahana!” katanya penuh keyakinan.
Gu Huaizhi dengan cepat memberikan dua ratus ribu kepada pria itu. Ia begitu cepat membayarnya sampai Xu Wan belum sempat bereaksi, uang itu sudah berpindah ke tangan si pria.
Halaman (3/3)