Bab Empat: Amarah Menggelegar
Dulu, ketika membicarakan pernikahan, Huan Yu dipenuhi kebahagiaan dan harapan, namun kini semuanya berubah menjadi luka.
“Menikah?” Shen Yichen menanggapi dengan tawa sinis, lalu menoleh ke arah Huan Yu dan berbicara dengan nada acuh tak acuh, “Sejak awal sampai sekarang, kita bahkan belum bertemu lima kali. Tunangan pun tidak ada, dari mana datangnya pernikahan? Lagipula, aku tidak pernah tahu kalau aku harus menikah dengan orang asing.”
Nada bicaranya sarat dengan kemarahan dan sindiran, tatapannya menancap tajam pada Huan Yu, rahangnya mengeras, seolah ingin melahapnya hidup-hidup.
Memang benar, mereka hanya bertemu beberapa kali, tapi urusan pernikahan ini sudah ditetapkan sejak kecil. Selama bertahun-tahun, Huan Yu selalu menyukainya. Meskipun pernikahan ini terasa terburu-buru, ayah Shen Yichen, Shen Shiping, pernah berkata bahwa perasaan itu sudah ada sejak masa kanak-kanak, hanya saja sekarang mereka harus menyambung kembali tali yang sempat putus.
Huan Yu berusaha menenangkan diri, menengadah, menatap dengan penuh keteguhan, “Pernikahan ini sudah ditetapkan sejak kecil, aku tidak akan menyerah begitu saja. Kau sudah beberapa kali pergi saat sesi foto, tak apa kalau fotonya belum diambil, nanti bisa diganti. Tapi pernikahan ini tetap harus terjadi...”
“Ha, diganti?” Shen Yichen mengejek, memotong ucapan Huan Yu, tatapannya tajam seperti pedang, penuh sindiran, “Kau bicara seolah-olah sangat teraniaya, menggambarkan dirimu begitu mulia. Huan Yu, kau pikir masih ada kesempatan untuk mengganti semuanya?”
Shen Yichen menatapnya dengan wajah semakin kelam, tinjunya yang terkepal menghantam meja kaca dengan keras. Kalau bukan karena meja itu terbuat dari kaca tempered, mungkin sudah hancur berkeping-keping di bawah amarahnya.
Tiba-tiba ia mendekat ke wajah Huan Yu, dengan suara rendah ia menghardik, “Apa-apaan janji pernikahan konyol ini! Kau pasti tahu, sejak awal aku tidak pernah berniat menikah denganmu! Kau tahu aku punya pacar, kau juga tahu kami sudah lama bersama, kenapa masih harus menyuruh ayahku mengusulkan pernikahan ini?”
Huan Yu memandang Shen Yichen yang sedang mengamuk, menggigit bibirnya erat-erat. Ia ingin mengepalkan tangan untuk menstabilkan tubuhnya yang limbung, namun tubuhnya terasa lemah, seolah tak punya tenaga, hingga genggamannya pun tak mampu mengeras.
Shen Yichen menatap tajam, matanya terpaku pada perempuan di hadapannya yang pucat dan gemetar, ingin rasanya ia membinasakannya.
Air mata jatuh bersamaan dengan dentuman tinjunya di atas meja kaca. Huan Yu menggigit giginya, berusaha menenangkan diri, lalu berkata dengan suara bergetar, “Shen Yichen, aku telah mencintaimu selama bertahun-tahun...”
Shen Yichen tertegun mendengar ucapan itu, nyaris mengira ia salah dengar. Ia mencari ingatan tentang Huan Yu di kepalanya, namun tak menemukan apa-apa.
Perempuan yang berusaha mendekatinya sudah sering ia temui, tapi yang memutarbalikkan kenyataan seperti ini baru pertama kali.
“Huan Yu, kapan aku pernah bertemu denganmu, sehingga kau berani berkata ‘bertahun-tahun’? Berapa kali kau melihatku, sehingga berani bicara soal cinta? Apa cinta bagimu semudah itu? Kau tahu arti menjaga harga diri?” Shen Yichen benar-benar terkejut. Melihat Huan Yu yang berlinang air mata, ia ingin mencekik perempuan itu.
“Katakan, berapa yang kau inginkan?” Kesabarannya sudah di ujung tanduk, melihat perempuan keras kepala dan tak mau mengalah di depannya, Shen Yichen akhirnya mengeluarkan jurus terakhir.
“Aku bukan menginginkan uang.” Ucapan Shen Yichen membuat hati Huan Yu bergetar hebat, air matanya tertahan di mata, hingga ia lupa untuk menangis.
“Benar juga, secara logika, kau putri seorang ketua partai kota, apa kau kekurangan uang? Atau kau memang senang mengejar lelaki seperti ini?” Shen Yichen menoleh menatapnya, pandangan penuh penghinaan.
“Aku hanya mengejar seseorang yang aku cintai...” Huan Yu berkata dengan air mata mengalir dan hati yang perih.