Bab 007 Suasana Hati yang Buruk
Awalnya, Su Sui mengira duduk sebangku dengan Xu Jinzhao hanyalah sementara, namun tak disangka sudah beberapa hari berlalu dan dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin pindah tempat duduk.
Meskipun hari itu Xu Jinzhao sempat mengatakan ingin berkenalan kembali dan Su Sui pun telah mengangguk setuju, ia tetap merasa belum terbiasa.
Belum lagi masalah lain, sejak Xu Jinzhao pindah dua hari yang lalu, kelas 18 mendadak sering didatangi wajah-wajah asing di luar ruang kelas. Konon, mereka datang karena penasaran ingin melihat langsung sosok "murid pindahan yang sangat tampan" itu. Sebagai teman sebangku sementaranya, Su Sui mau tidak mau ikut menjadi sorotan.
Bagi Xu Jinzhao, hal semacam ini sudah menjadi makanan sehari-hari. Ia tetap tidur dan makan dengan santai, sama sekali tidak terpengaruh. Namun, Su Sui yang biasanya tenang mana pernah dikerumuni orang sebanyak itu?
Berkali-kali ia ingin bertanya kapan Xu Jinzhao akan pindah tempat duduk, tetapi setiap kali kata-kata itu sampai di ujung lidah, ia urung mengucapkannya. Ia berpikir, mungkin di lubuk hatinya yang terdalam, ia sebenarnya masih ingin duduk sebangku dengan laki-laki itu.
Hari ini saat jam istirahat, beberapa siswi kembali muncul di pintu belakang kelas. Su Sui sudah mengenali mereka; mereka adalah siswi dari kelas jurusan bahasa di sebelah. Dua hari terakhir mereka hanya mengintip diam-diam dari luar, namun hari ini mereka tampak memberanikan diri.
"Hei, teman!"
Su Sui secara refleks menoleh ke luar pintu, lalu melihat beberapa siswi itu melambai ke arahnya. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan ragu: "Apa kalian memanggilku?"
Gadis-gadis itu mengangguk heboh: "Ya, benar! Kamu!"
Su Sui melirik sekilas ke arah orang yang sedang tertidur di atas meja di sebelahnya, lalu bangkit dan berjalan keluar kelas.
"Ada apa ya?"
"Teman, bolehkah tolong panggilkan teman sebangkumu?" tanya seorang siswi berambut pendek dengan malu-malu.
Su Sui menunduk melihat kantong hadiah yang dipegang gadis itu, dan seketika ia bisa menebak maksudnya. Entah mengapa, saat itu muncul satu pikiran di benaknya: jangan bantu dia. Dan ia pun benar-benar melakukannya.
"Dia... temperamennya agak buruk," ucap Su Sui sambil menggigit bibir, jawaban yang tidak nyambung dengan pertanyaan tadi.
Mendengar itu, gadis-gadis itu saling berpandangan. Siswi yang tadi bicara melirik ke arah Su Sui yang tampak lembut dan polos, lalu beralih menatap Xu Jinzhao yang sedang tidur. Ia langsung menganggap ucapan Su Sui sangat bisa dipercaya. Setelah berpikir sejenak, ia menyerahkan barang itu kepada Su Sui, "Kalau begitu, boleh tolong titipkan ini di mejanya?"
Yah, mereka rupanya belum berniat menyerah.
***
Su Sui terpaksa mengangguk setuju. Beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi, Su Sui kembali ke tempat duduknya dan tanpa bicara meletakkan kantong hadiah itu di sisi meja Xu Jinzhao.
Selama itu, Xu Jinzhao masih menelungkupkan wajahnya di lipatan lengan. Su Sui memandangi bagian belakang kepala laki-laki itu dan tak bisa menahan diri untuk berpikir: sebenarnya apa yang dimakan orang ini sampai bisa tumbuh seperti itu? Berdasarkan pengamatannya beberapa hari ini, ia mendapati nilai Xu Jinzhao tetap bagus seperti sebelumnya, bahkan bisa masuk peringkat atas di kelas mereka.
Mungkin karena ingin menguji kemampuan murid yang tiba-tiba "terjun payung" ke kelas unggulan mereka ini, banyak guru mata pelajaran yang senang memanggilnya untuk menjawab pertanyaan. Namun, setiap kali Xu Jinzhao selalu memberikan jawaban yang sempurna. Alhasil, kesan semua orang terhadapnya berubah dari "si angkuh" menjadi "si jenius".
Hanya Su Sui yang tahu bahwa selama pelajaran, laki-laki itu lebih banyak menguap. Entah apa yang ia kerjakan di malam hari. Orang itu tidur di kelas setiap hari, tapi nilainya tetap lebih baik daripada dirinya yang setiap hari tekun mengerjakan soal. Benar-benar membuat orang iri sampai kesal.
Saat Su Sui sedang melamun menatap kepala Xu Jinzhao, tak disangka laki-laki itu tiba-tiba menoleh dan perlahan membuka matanya. Su Sui tidak sempat memalingkan wajah, dan pandangan mereka pun bertemu secara tak terduga.
Xu Jinzhao terdiam beberapa detik, lalu mengangkat tangan untuk memijat tengkuknya, bangkit duduk, dan bertanya dengan suara serak, "Lihat apa?"
Su Sui mengerjapkan mata, langsung tersadar. Telinganya memanas, dan ia buru-buru membuang muka, "Tidak, aku tidak melihatmu."
Begitu mengucapkannya, ia langsung menyesal. Mengapa terdengar seperti orang yang sedang berusaha menutupi sesuatu? Sambil berpikir demikian, ia diam-diam melirik Xu Jinzhao di sampingnya. Benar saja, laki-laki itu sedang menatapnya dengan senyum tipis.
"..."
Xu Jinzhao merasa teman sebangku barunya ini seperti tempurung yang tertutup rapat. Jika dia tidak mengajak bicara lebih dulu, Su Sui bisa tidak mengeluarkan sepatah kata pun sepanjang hari. Mengetahui gadis itu memiliki kulit yang tipis, ia tidak lagi terus memandangnya. Pandangannya beralih ke benda di atas meja.
Ia mengambil benda itu, "Apa ini?" Tasnya terlihat mencolok sekali.
Mendengar pertanyaannya, Su Sui menjelaskan, "Itu, tadi ada yang mencarimu, tapi kau sedang tidur..."
Belum selesai ia bicara, Xu Jinzhao memotongnya dengan tawa kecil, "Jadi, kau yang berbaik hati dan bertindak sendiri untuk membantu membawanya masuk?"
Meskipun laki-laki itu sering berbicara dengan nada seperti ini, entah mengapa Su Sui tetap merasa ada sindiran dalam kata-katanya. Apakah dia menganggap dirinya terlalu ikut campur?
"Maaf..."
"..." Xu Jinzhao menatapnya dengan bingung. Untuk apa dia minta maaf?
Ia baru saja hendak mengatakan sesuatu, namun bel masuk berbunyi. Su Sui sudah mengeluarkan buku pelajaran dan duduk dengan tegak. Sudahlah, lagipula gadis pendiam ini jarang bicara, lebih baik tidak ditanya lagi, nanti malah terlihat seperti dia sedang menindas gadis kecil.
Ia meletakkan barang itu ke ambang jendela di sampingnya, lalu berpura-pura mengeluarkan buku matematika.
Pak Huang masuk ke kelas dengan wajah yang agak berat. Sebelum mulai mengajar, ia mengumumkan satu hal: Huang Xiaoyan, siswi di kelas mereka, memilih untuk cuti sekolah karena alasan pribadi. Mendengar kabar ini, suasana kelas seketika riuh, semua orang mulai berbisik-bisik.
Pak Huang pun kali ini tidak memasang wajah galak seperti biasanya untuk menegur mereka; ia hanya menepuk papan tulis dan mulai mengajar.
Begitu pelajaran usai, siswi yang duduk di depan Su Sui berbalik dan bertanya, "Hei, apa kau tahu kenapa Huang Xiaoyan cuti?"
Su Sui menggeleng, "Tidak tahu."
"Kalian kan biasanya cukup dekat, masa dia tidak pernah cerita padamu?"
"Tidak."
Melihat Su Sui yang irit bicara, siswi di depan itu merasa bosan, mendengus, lalu berbalik kembali. Saat itu, beberapa siswa lain mulai berdiskusi.
"Tadi aku mendengar, waktu kembali ke kelas, aku sempat melihat ibu Huang Xiaoyan. Sepertinya dia menangis saat meninggalkan kantor guru."
"Ah? Karena apa?"
"Siapa yang tahu."
"Pantas saja sudah hampir seminggu masuk sekolah dia tidak pernah terlihat, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Perbincangan mereka sayup-sayup terdengar oleh Su Sui. Ia teringat akan sebuah unggahan media sosial yang aneh dari Huang Xiaoyan saat liburan musim panas lalu. Mungkinkah sesuatu yang buruk benar-benar terjadi?
Xu Jinzhao bersandar di dinding, memainkan pulpennya, dan menoleh menatap Su Sui, "Hei, si Huang Xiaoyan itu teman sebangkumu sebelumnya, bukan?"
"Ya." Su Sui mengangguk, lalu menoleh dengan heran, "Bagaimana kau tahu?"
"Tebak saja."
Su Sui hanya ber-oh ria, pikirannya melayang jauh.