Prolog: Misteri Asal Usul, Abu Waktu dan Ruang

Mantra Dewa Taiji melahirkan air 1760kata 2026-02-07 16:24:15

Di bawah kaki Gunung Kunlun.

Sebuah ruang bawah tanah yang suram membentang tanpa tepi, satu-satunya cahaya berasal dari celah raksasa di atas, di mana jutaan cahaya bintang menetes lembut ke kegelapan.

Puluhan tiang kuno dari perunggu, setinggi seratus depa, berdiri kokoh di kekosongan luas ini, bak batu nisan para jawara yang tiada tara, menjulang menembus langit.

“... Tujuh puluh sembilan, delapan puluh, delapan puluh satu.”

“Benar saja, angka semesta itu delapan puluh satu. Bermula dari satu, berakhir pada sepuluh, berputar tanpa henti, abadi sepanjang waktu, urutannya tak pernah kacau.”

Di atas salah satu tiang perunggu, seorang pria berdiri diam membelakangi cahaya bintang yang membias di tubuhnya.

Bayangannya samar, wajahnya tak jelas, hanya matanya yang berkilau meneliti aula kuno yang remang itu.

Dalam semburat cahaya bintang, samar-samar terlihat bentuk ruang bawah tanah ini, menyerupai altar persembahan para raja kuno untuk langit.

Di bagian luar berdiri delapan puluh satu tiang perunggu mengelilingi sekeliling, teratur bersilangan. Setiap tiang dililit rantai besi sebesar ular yang menjulur ke tengah, menembus kekosongan yang berkabut.

Di bagian dalam, garis-garis tipis seperti benang ikan membentang, di antara mereka terdapat empat pola matahari raksasa, masing-masing menghadap delapan arah: timur, barat, selatan, utara, tenggara, barat daya, timur laut, dan barat laut.

Ruang bawah tanah itu dingin dan sunyi, hawa dingin merayap naik melalui tiang perunggu.

Sosok di atas tiang itu mengangkat tangan, membuat tanda rahasia untuk menghalau hawa dingin, namun tak mampu mengusir kesepian yang dalam di matanya.

Tiba-tiba, wajah pria itu berubah. Sebuah sensasi panas menyebar dari bahu kirinya, seperti api neraka yang membakar seluruh tubuhnya.

Sebuah tanda berwarna merah api tampak samar di balik bahu kirinya, memancarkan cahaya merah darah yang indah dan mengerikan!

“Kau juga merasakannya, bukan?”

Yang Qingxuan tersenyum getir, penuh kepahitan.

Tanda itu muncul sejak ia berusia enam tahun, menemaninya selama dua puluh empat tahun. Dari sosok yang tak dikenal hingga namanya mengguncang dunia, bertaruh nyawa dan akhirnya menjadi Guru Agung Wushu Negara Huaxia, tanda itu memberinya kehormatan dan kekuatan tak tertandingi, namun juga seperti iblis yang perlahan melahap tubuhnya.

“Ruang bawah tanah ini, tersembunyi di kaki Kunlun, apakah ini tempat takdirku?”

Yang Qingxuan terbatuk-batuk kegirangan, rona merah sakit merekah di wajahnya. “Tiga puluh tahun menjadi Guru Agung, dalam mimpi pun aku tak tahu siapa diriku. Ironis, sungguh ironis!”

Seiring gejolak emosi, kekuatan tanda itu membakar sendi dan tulangnya, membuat dahi Yang Qingxuan berkerut menahan sakit.

“Keberhasilan dan kehancuran datang bersama badai. Ini kesempatan terakhirku, aku harus menemukan jati diriku dan jawaban atas tanda ini!”

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berlari kencang di atas rantai besi, dalam beberapa detik melesat masuk ke bagian dalam formasi.

Selama bertahun-tahun, ia sering merasa seolah tubuh ini bukan miliknya sendiri, dan dengan kemunculan ruang bawah tanah dalam mimpinya, perasaan itu makin kuat membelenggu.

Tiba-tiba ia berhenti mendadak, begitu mendadak hingga energi dalam tubuhnya berkumpul di kaki, membuat rantai besi bergetar nyaring.

Mata Yang Qingxuan membelalak, menyaksikan pemandangan yang takkan pernah ia lupakan seumur hidupnya!

Di dalam formasi ternyata sangat luas, seolah berada di dunia lain. Di atas tanah datar yang bagaikan padang luas, jutaan monster raksasa tertusuk rantai besi di ratusan titik tubuhnya, terbelenggu di pusat formasi, merangkak lunglai di tanah!

Dan di tempat para binatang itu menyembah, berdiri seekor monster raksasa setinggi seratus depa, kedua tangannya terjulur ke depan, matanya yang telah membatu menatap langit yang diselimuti awan hitam, kosong tanpa jiwa.

Tubuh Yang Qingxuan menegang, beberapa menit kemudian ia baru sadar kembali.

Formasi ini sungguh menakutkan, semua monster itu dihukum berat, seolah dijadikan korban upacara misterius!

Ia pernah berperang ribuan mil, satu pedang menahan sejuta pasukan, melintasi gunung dan tembok batu, namun tak pernah melihat pemandangan semengerikan ini!

Pandangan Yang Qingxuan tertuju ke depan monster itu, lalu membatu.

Di telapak monster itu, tergeletak sebuah kompas perak, memancarkan cahaya perak berkilauan, indah menawan.

Hati Yang Qingxuan bergetar, melangkah di udara dan mendarat di telapak monster itu, menatap kompas itu dengan cermat:

Kompas itu bening dan halus, permukaan dalamnya dipenuhi pola rumit, dengan titik-titik perak yang memancarkan aura suci nan indah. Di atas piringan hitam legam, serpihan perak di dalam kompas kian memesona.

Yang paling mengejutkan, titik-titik perak itu bukan hiasan, melainkan bayangan yang diproyeksikan langsung dari bintang-bintang di langit!

Yang Qingxuan tertegun, menatap miliaran galaksi di dalam kompas itu, hatinya bergetar hebat, lalu tanpa sadar ia berseru, “Piringan Galaksi!”

Sebelum ini, ia tak pernah mendengar nama “Piringan Galaksi”.

Yang Qingxuan terperangah, seperti kehilangan jiwanya, mengangkat tangan dan menyentuh permukaan kompas itu, merasakan sensasi dingin merambat ke telapak tangannya.

Mendadak, rasa sakit luar biasa menyerang bahu kirinya, seolah-olah jiwanya tercerabut dari tubuh.

Di belakang Yang Qingxuan, cahaya merah muda menyembur ke atas, berubah menjadi cahaya ungu yang memancar, mentari raksasa bersinar garang memenuhi langit dan bumi.

Jutaan tubuh monster itu hancur lebur diterpa cahaya ungu, berubah menjadi debu yang terbang menghilang.

Wajah Yang Qingxuan pucat pasi, kekuatan tanda itu akhirnya lepas kendali, cahaya merah muda menarik bintang-bintang, menurunkan petir surgawi yang menyambar tubuhnya.

Sekejap saja, galaksi berpendar terang, api bintang menjalar di ruang bawah tanah.

Di tengah kekuatan pemusnah dunia itu, muncul bayangan raksasa yang samar, sosoknya tak jelas, namun berdiri angkuh di antara langit dan bumi, menatap bintang-bintang.

Hari itu, bebatuan Gunung Xu di Kunlun runtuh, suara gemuruh mengguncang langit dan bumi.

Di puncak awan, seberkas cahaya perak menembus langit, menembus ke semesta raya!