Bab 8: 'Gerbang'
“Orang gila bisa membunuh semua orang di tempat ini, dan aku juga bisa membunuh semua orang di sini.”
“Kalau begitu, bukankah itu bisa membuktikan...”
“Bahwa akulah si gila dari Jalan Pusat.”
“Hmm...”
Tiba-tiba, Su Yang tersadar, dan saat ia menengadahkan kepala memandang ke depan, tempat itu sudah kosong melompong.
Orang-orang itu entah sudah lari ke mana.
Bahkan truk besar itu pun ditinggalkan begitu saja, teronggok sendirian di tanah lapang.
“Mengapa mereka pergi...”
“Mereka sudah pergi, kepada siapa lagi aku harus membuktikan bahwa aku adalah aku...”
Su Yang perlahan kembali sadar, sorot matanya yang sebelumnya keruh kini menjadi jernih.
“Tampaknya, aku masih harus menyiapkan lebih banyak saksi.”
Senyum tipis muncul di sudut bibir Su Yang. Ia memungut senter yang terjatuh saat orang-orang itu panik melarikan diri, lalu melangkah ke arah bak truk, membuka pintu, dan menatap sepasang demi sepasang mata yang membelalak ketakutan. Senyum di wajah Su Yang semakin lebar.
“Tolong ingat wajahku.”
“Namaku Su Yang.”
“Si gila dari Jalan Pusat.”
“Tolong...”
“Jangan lupakan.”
Sambil berbicara, Su Yang menyalakan senter itu dan mengarahkannya ke wajahnya sendiri.
Para ‘perampok kejam’ itu bersumpah, wajah ini takkan pernah mereka lupakan seumur hidup!
Dalam benak mereka hanya ada satu kata.
Iblis yang tersenyum.
Mereka, yang di luar gang gelap Kota Shanhai, sudah terkenal sebagai para penjahat bengis, kini duduk berjajar rapi, tubuh terikat tambang, seperti anak kecil yang penurut, mengangguk kompak.
“Siapa namaku?” tanya Su Yang pada mereka dengan nada lembut.
“Mmm... mmm!” seru mereka serempak, meski mulut tersumbat.
“Bagus.”
“Jangan pernah lupa, ya.”
“Nanti kalau bertemu orang lain, jangan lupa ceritakan seperti apa wajahku.”
“Sampai jumpa!”
Dengan ramah Su Yang melambaikan tangan pada mereka, lalu berbalik pergi, meninggalkan para perampok itu yang hanya bisa saling pandang.
Andai mereka tak takut pada keganasan Su Yang dan mulut mereka tidak tersumbat, mereka pasti ingin meneriaki punggung Su Yang, “Hei, sebelum pergi, bisa nggak lepasin dulu tali kami!”
Sayangnya, semua itu hanya bisa mereka pendam dalam hati. Akhirnya, mereka saling mendekat dan berusaha membantu satu sama lain untuk melepaskan tali.
Satu truk penuh bergerak serempak, menimbulkan suasana aneh.
Di sisi lain.
Su Yang berdiri di depan pintu gudang, mendorongnya dengan sekuat tenaga!
Pintu besar gudang terbuka perlahan, diiringi suara berderit yang menyakitkan telinga.
Gudang itu luasnya sekitar dua ratus meter persegi, hanya diterangi beberapa lampu kuning redup, sekadar cukup untuk melihat isi ruangan.
Di sudut, beberapa sosok meringkuk di lantai. Mendengar suara pintu terbuka, mereka spontan menggigil, sampai akhirnya melihat Su Yang—orang asing bagi mereka—lalu diam beberapa saat.
Su Yang melewati mereka, berjalan sendirian ke bagian terdalam gudang.
Orang-orang itu langsung bangkit, melarikan diri seperti orang kesetanan, dan seketika hilang ditelan gelapnya malam.
“Sepertinya...”
“Pintunya yang ini.”
Su Yang berdiri di sudut paling dalam gudang.
Di sekitarnya, berjejer benda-benda tua yang jelas sudah termakan usia, semuanya berdebu tebal.
Di pojok, sebuah pintu kayu yang sudah dilepas, teronggok begitu saja.
Di bawah cahaya lampu, samar-samar terlihat ukiran pada pintu kayu itu, meski sebagian besar tertutup debu.
“Hmm?”
Menatap pintu kayu, Su Yang tiba-tiba mengernyit, wajahnya sedikit pucat.
Gambaran-gambaran berkelebat di benaknya, semakin lama semakin cepat.
Di bawah tekanan yang begitu hebat, otaknya seolah hendak meledak.
Su Yang terengah-engah, setetes keringat menetes dari dahinya.
Ia meraih rak barang di sampingnya agar tidak jatuh.
Pada saat yang sama, pintu kayu yang tampak biasa saja itu tiba-tiba bergetar pelan.
“Sakit sekali...”
“Sudah lama... sangat lama... aku tidak pernah... merasa sesakit ini...”
“Mengapa... mengapa gambaran ini, dalam mimpiku... dalam mimpiku tidak ada...”
Meski dalam keadaan seperti itu, Su Yang tetap berusaha menjaga kesadarannya, menatap pintu kayu itu dengan mata merah darah.
Perlahan, gambar-gambar yang berkelebat di benaknya mulai melambat.
Meski masih buram dan terpotong-potong, kali ini ia bisa melihat dengan lebih jelas.
Gambaran itu terhenti.
Seperti bingkai-bingkai gambar.
Pertama.
Adegan yang sama dengan saat ini, hanya saja Su Yang di dalam gambar tampak lebih baik, meski sedikit kelelahan, ia mendorong pintu kayu di depannya.
Ketika pintu terbuka, cahaya keemasan yang menyilaukan memenuhi gudang.
Samar-samar, terdengar alunan musik bak dari surga.
Di seberang pintu, terbentang dunia lain!
Batu bata emas, atap zamrud, burung bangau terbang, semuanya indah luar biasa.
Seorang lelaki tua berhati lembut berdiri di atas awan, tersenyum pada Su Yang, mengulurkan tangan, membelai dahi Su Yang dari kejauhan.
Gambar berhenti di situ.
Kedua.
Dunia manusia berubah!
Jalan menuju keabadian terbuka!
Semua makhluk fana kini dapat melangkah ke dunia abadi.
Bahkan, cukup dengan mendongak, mereka bisa melihat istana-istana dewa dan gunung-gunung abadi berdiri di atas awan.
Sedangkan Su Yang, telah menjadi manusia dengan bakat tertinggi di dunia fana.
Si gila dari gang hitam yang dulu dibenci semua orang, kini jadi sosok yang dikagumi dan diidolakan banyak orang.
Dalam gambar itu...
Su Yang berdiri gagah di atas lautan, dikerumuni banyak orang.
Dengan senyum di wajah, ia mengayunkan pedang.
Air laut terbelah!
Gelombang raksasa menggulung!
Ketiga.
Dari istana abadi nun jauh di sana, tangga surgawi turun, langsung menuju ke kaki Su Yang!
Saat itu, Su Yang telah paruh baya.
Para bidadari melayang anggun di udara, memetik kecapi, menabur bunga, menanti Su Yang melangkah masuk ke surga.
Di kejauhan.
Para pendekar abadi memandang Su Yang dengan penuh iri.
Manusia biasa pun bersimpuh, bersujud di tanah.
Hingga di sini!
Gambaran terputus!
Su Yang sadar dari keadaan linglung itu, sakit di kepalanya perlahan mereda.
Pintu kayu itu berhenti bergetar, cahaya samar yang tadi terpancar pun lenyap, kembali seperti pintu tua biasa.
Segalanya seolah berhenti.
Semua kembali normal.
Yang menarik, kini Su Yang, baik ekspresi maupun gerak-geriknya, sama persis dengan dirinya pada gambar pertama.
Artinya...
Pintu itu ada tepat di hadapannya.
Selama Su Yang mengikuti gambaran itu, mendorong pintunya perlahan, masa depan akan berjalan seperti dalam gambaran tadi—menjadi abadi, mencapai kesempurnaan.
Meski semua itu terdengar seperti dongeng, setelah kejadian barusan, hal-hal tak masuk akal seperti itu tiba-tiba terasa wajar.
“Sepertinya, ini jalan yang bagus.”
“Kekuatan besar, akhir yang sempurna.”
“Tapi...”
Su Yang menatap pintu di hadapannya, bibirnya melengkungkan senyum tipis: “Menurut gambaran itu, sekarang tanganku sudah menempel di pintu.”
“Tapi kenyataannya, aku belum...”
“Jika semua yang barusan kulihat adalah masa depan, maka di saat ini, masa depan itu...”
“Sepertinya sudah berubah.”