(Tidak ada harem, tidak mengikuti pola klise, tidak tokoh yang tak terkalahkan, tidak ada sistem, bukan cerita tanpa logika, bukan cerita yang hanya memuaskan pembaca; bila keberatan, harap pertimbangkan sebelum membaca.) Istana surgawi dari masa kuno telah menjadi puing-puing, para dewa yang dulunya agung kini terlelap dalam tidur panjang. Zaman berubah, lautan menjadi daratan, segala kisah kuno hanya tersisa dalam mitos dan legenda. Ribuan tahun kemudian, reruntuhan istana surgawi kembali membentang di atas langit, dan para dewa yang tertidur perlahan bangkit satu per satu... Dewa tanpa kepala melangkah di kehampaan, tongkat besi yang berkarat mengeluarkan ratapan pilu. Jarak antara dewa dan manusia semakin menyempit. Ketika hati manusia dipenuhi nyala api bernama hasrat, mereka berusaha mendekati para dewa, mencoba mengambil keuntungan dari harimau… Di tengah semua itu, seorang yang dianggap gila oleh masyarakat, mengendarai kereta kuda melintasi tanah tandus, menjadi sosok yang disebut-sebut sebagai tabu oleh banyak orang.
“Permisi, apakah dokter psikolog ada di sini?”
Toko yang tampak reyot itu perlahan terbuka, disertai suara berdecit dari pintu kayu tua yang memekakkan telinga. Su Yang masuk dengan senyum ceria, menengok ke dalam, matanya penuh rasa ingin tahu mengamati sekeliling.
Seorang pria berperawakan kekar keluar dari kamar mandi, memandang ke arah Su Yang dengan kegelisahan yang samar di balik matanya. Ia reflek melirik ke kamar mandi, lalu tergesa-gesa menutup pintu.
“Hari ini tutup!”
Pria kekar itu menjawab datar. Ketika ia bicara, ada bekas luka seperti kelabang di pipinya yang bergerak-gerak, membuat wajahnya tampak lebih garang.
“Hmm…”
“Anda dokter psikolognya?” Su Yang baru sadar, mengangguk kecil lalu melangkah masuk ke dalam toko.
“Aku sudah bilang, hari ini tutup. Apa kau tidak mengerti?” Pria itu semakin berkerut kening, suaranya kini dingin dan tangan kanannya tanpa sadar bertumpu di pinggang.
“Aku mengerti, tapi aku sakit.”
Senyum di wajah Su Yang mendadak lenyap, ia menatap mata pria kekar itu dengan serius, lalu berkata sungguh-sungguh, “Tugas dokter adalah menolong yang sakit dan terluka! Apa Anda ingin mengkhianati sumpah profesi Anda?”
“Kau mengancamku?”
Suasana di ruang konsultasi yang sempit itu tiba-tiba membeku. Tegang dan panas seolah-olah api siap membakar udara.
“Tentu tidak!”
“Aku cuma pasien malang yang membutuhkan pertolongan!”
Ekspresi serius Su Yang berubah lagi jadi ceria, bahkan lebih cerah dari sebelumnya. “Kalau tidak segera diobati, aku bisa mati!”
“Harus h