Tuan Ketiga dari keluarga Jin bagaikan rembulan yang terang di langit malam, dingin dan tiada tanding, tak seorang pun berani mendekat. Suatu hari, saat pembukaan galeri seni milik sahabatnya, banyak orang melihat Tuan Ketiga Jin ditemani seorang gadis. Matanya bulat laksana buah aprikot, sorotnya cerdas dan memesona. Begitu mereka mencari tahu, terdengar kabar keluarga Jin akan segera menggelar pesta bahagia; gadis itu adalah calon menantu yang telah dipilih sendiri oleh Kakek Jin, dan kini dibawa oleh Tuan Ketiga Jin untuk diperkenalkan ke masyarakat. Namun siapa sangka, di sudut lorong, Tuan Ketiga Jin justru menekan sang "calon keponakan menantu" ke dinding, jemarinya saling bertaut dengan jemari sang gadis, membangkitkan gairah dan godaan. Sejak saat itu, sosok Tuan Ketiga Jin yang selama ini bak dewa atau Buddha, akhirnya memiliki seseorang yang ia simpan dalam relung hatinya.
Paviliun Teh Awan Qi.
Yan Jing Tang mendorong pintu kayu berukir dan melangkah masuk dengan anggun.
Suara ayahnya, Yan Yuan Zong, masih terdengar dari ponselnya, “Sudah kubilang ikut denganku, tapi kau tetap membantah. Keluarga Jin bukanlah keluarga yang mudah dihadapi. Kau sudah sampai duluan, jangan bicara sembarangan, mengerti?”
Yan Jing Tang mengiyakan, lalu memutuskan sambungan telepon.
Pandangan matanya langsung tertuju pada pria yang duduk di sofa kayu merah. Rambutnya hitam pendek rapi, kemeja hitam, celana panjang hitam, bahkan sepatu kulitnya pun hitam. Namun, penampilannya itu tidak membuatnya tampak kaku, justru memancarkan kesan dewasa dan tenang.
Yan Jing Tang tak dapat melihat wajah pria itu dengan jelas; akhirnya matanya terpaku pada kancing manset pria itu: berlian emas yang berkilauan memantulkan cahaya matahari.
Sebuah rasa tertarik muncul di matanya. Yan Jing Tang melangkah mendekat dan duduk tegak di sofa yang berhadapan langsung dengan pria itu.
“Tuan Muda Jin ternyata tidak seperti yang digosipkan,” ujar Yan Jing Tang.
Pria itu mengangkat kelopak matanya, sorot matanya jatuh pada wajah Yan Jing Tang, bukan dengan tatapan melecehkan, melainkan terkesan acuh tak acuh.
Tak ingin membuang waktu, Yan Jing Tang pun langsung berbicara tanpa basa-basi, “Tuan Muda Jin sudah punya orang yang disukai. Kebetulan, aku juga begitu. Rencana perjodohan ini semata-mata keinginan ayahku. Tuan Muda Jin tak perlu memikirkannya. Namun, aku sendiri tidak bisa membangkang perintah ayahku. Nanti, aku harap Tuan Muda Ji