Liang Xin berasal dari keluarga terhukum, dan mengira seumur hidupnya takkan pernah mendapat kesempatan untuk bangkit. Tak disangka, pada usia delapan tahun, pelayan arwah yang dahulu pernah melayani leluhur keluarga Liang datang menemuinya untuk bersumpah setia... Menempuh jalan menuju surga berarti harus memutuskan segala keterikatan duniawi. Bagi para pertapa, hanya ada jalan langit dalam pandangan mereka; mereka tak tergerak oleh apa pun, tak terpengaruh oleh suka dan duka duniawi. Hati jalan, bukanlah hati manusia. Namun, Liang Xin adalah pengecualian. Ia memiliki kekuatan, tetapi tidak memiliki hati jalan. Melihat keluarganya berbahagia, ia pun tersenyum lebar. Menyaksikan temannya marah, ia pun ikut merasa geram. Tatkala wanita cantik lewat di hadapannya, ia bahkan tak bisa menahan diri untuk menghirup aroma harum yang melintas... Karena hati manusianya inilah, Liang Xin tetap menjadi insan. Dunia manusia adalah surga kebahagiaannya. Jika harus memilih antara menjadi dewa atau manusia, tanpa ragu ia akan memutuskan: Mengangkat gunung!