Ada yang pernah menggambarkan tragedi seperti ini: sang penulis dengan penuh ketelitian membangun sebuah vas bunga yang indah menawan di hadapan para pembaca, lalu mengayunkan palu besi dan menghancurkan vas itu hingga berkeping-keping—itulah tragedi. Dalam Peperangan Licik, aku juga mengayunkan palu besi ke arah vas bunga, namun yang hancur justru palunya.