Mengembara ke selatan, melanglang ke utara, mengarungi empat penjuru lautan; gunung para dewa, bidadari surgawi, dan ilmu gaib nan agung. Tiada tempat bernaung, hanya hidup mengembara; bahkan para dewa pun sukar merasakan kebebasan sejati.
Fajar menyingsing, di kaki sebuah gunung yang tak diketahui namanya terdengar riuh rendah suara orang-orang. Di lereng, seorang pemuda berambut cepak dan berkacamata minus yang berubah warna, memandang bodoh ke arah manusia yang mulai sibuk di bawah sana, berkelompok beberapa orang.
Seorang bocah laki-laki berusia dua belas atau tiga belas tahun mengenakan baju panjang, wajah mudanya dipenuhi kegelisahan, mencarinya ke lereng. Saat sudah dekat, ia mengatupkan kedua tangan dan berkata, "Maaf, Tuan, apakah Anda melihat istriku? Tingginya segini, memakai gaun merah panjang, wajahnya lonjong..." Sambil bicara, bocah itu juga menggerakkan tangan memberikan gambaran.
Zhang Yi masih dipenuhi kabut di kepalanya, mungkin efek mabuk semalam belum sepenuhnya hilang, atau mungkin ia belum menerima kenyataan yang terjadi di hadapan. Namun, ia mengerti ucapan bocah kecil itu. Inilah seorang bocah yang belum tumbuh dewasa, membanggakan kekayaannya kepada seorang pria lajang yang hampir berusia tiga puluh.
Siapa bilang zaman dulu itu feodal? Lagi pula, anak sekecil itu sudah berani menikah, tak takut sakit atau apa? Apakah hidupnya sudah cukup? Zhang Yi menoleh dengan kaku ke arah semak-semak tak jauh dari situ.
Bocah itu mengucapkan terima kasih dan berjalan menuju semak-semak. Tak lama kemudian terdengar beberapa suara terkejut, suara lelaki dan perempuan. Lalu suara marah si bocah, "Berani kau berkhianat! Aku akan menceraikanmu!" Setelah itu terdengar suara perempuan yang memohon dengan lirih, terputus-putus dan tak jelas.
Orang-orang