Setelah si orang gila tua meninggal, aku selalu mengira hanya aku sendiri yang tersisa di desa ini, sampai pada tahun itu, dua pria datang membawa kamera ke desa, katanya mereka ingin membuat film dokumenter tentang pernikahan berjalan...
Ketika orang gila tua itu meninggal, ia hanya meninggalkan tiga pesan untukku.
Pertama, siapa pun yang datang ke desa, laki-laki boleh masuk, perempuan harus diusir.
Kedua, setiap pagi aku harus duduk di gerbang desa, dan di siang hari berpura-pura seperti orang bodoh.
Ketiga, begitu malam tiba, aku harus tetap di rumah, membakar uang kertas, dan apa pun yang kudengar atau terjadi, aku tidak boleh melangkah keluar dari pintu rumah walau setengah langkah.
Setelah menyampaikan tiga pesan itu, orang gila tua itu memintaku menirukan tawa bodohnya, lalu setelah melihat aku menirunya dengan cukup baik, ia menghembuskan napas terakhirnya tanpa penyesalan, meninggalkan dunia dengan senyum di wajahnya.
Belakangan aku baru tahu, senyumnya itu adalah tanda ia akhirnya merasa terbebas.
Saat itu usiaku delapan tahun.
Itu juga adalah tahun keempat aku hidup di desa kering ini setelah ditemukan oleh orang gila tua itu.
Desa kami bernama Desa Ibu.
Dalam ingatanku, desa ini memang desa kering, hanya aku dan orang gila tua saja yang tinggal, sejak hari ia menemukanku, setiap hari yang ia lakukan bersamaku adalah duduk di gerbang desa, tersenyum bodoh ke arah luar, duduk sampai malam tiba, makan, minum, buang air, semua dilakukan di tempat.
Apakah ada orang lewat atau tidak, kami hanya tertawa bodoh di sana. Anjing-anjing liar yang lewat pun sampai gemetar, takut kalau-kalau detik berikutnya mereka akan dipanggang oleh orang gila tua itu.
Tapi aku tahu, orang gila tua itu sebenarnya tidak benar-benar gila.
Setiap malam