Bab Empat Puluh Empat: Kebetulan?
Mendengar kata-kata itu, aku langsung merasakan firasat buruk. Jangan-jangan kedatanganku ke tempat ini bukanlah sebuah kebetulan? Setelah merenung sejenak, aku akhirnya memutuskan untuk keluar dan melihat-lihat. Entah ini kebetulan atau tidak, toh aku sudah ada di sini dan tak mungkin bisa menghindar lagi.
Aku menghela napas pelan lalu melangkah keluar dari kamar. Saat melewati kamar Liu Shan, pintunya masih tertutup rapat. Aku sempat ingin memanggilnya, tapi setelah berpikir, kalau benar ini soal mayat bangkit, mungkin lebih baik Liu Shan tidak tahu apa-apa.
Tak lama kemudian aku tiba di depan rumah Paman Macan. Orang-orang yang tadi mengerubungi peti mati kini sudah menyingkir menjauh, hanya Paman Macan yang berlutut di depan peti mati itu, terus-menerus membenturkan kepalanya ke tanah sambil menangis dan memohon, “Ayah, pergilah dengan tenang.”
“Anakmu mohon, ayah.”
Sementara di dalam peti, jasad ayah Paman Macan yang seharusnya terbaring tenang kini telah berdiri tegak, menatap Paman Macan dengan mata kosong tapi sangat mengerikan.
Untung nyali Paman Macan memang besar, atau mungkin karena itu ayahnya sendiri sehingga ia tak setakut orang lain. Kalau tidak, pasti sudah lari menjauh seperti yang lain.
Aku menatap jasad ayah Paman Macan. Entah hanya perasaanku, dari tubuhnya aku merasakan aura yang begitu akrab, mirip dengan aura tulang dendam.
Hanya saja, di Desa Penjaga Jiwa, tulang dendam terbentuk karena terlalu lama berada dan juga karena adanya Peti Penahan Jiwa. Sedangkan ayah Paman Macan baru saja meninggal, jasadnya pun masih utuh. Kalaupun benar bangkit, ia belum bisa disebut tulang dendam, paling-paling hanya semacam mayat berjalan.
Namun, bagaimanapun juga, kenapa bisa ada mayat yang bangkit?
Aku menatap jasad ayah Paman Macan, entah mengapa semakin lama aku merasa ada yang aneh.
Saat itu, orang-orang yang sudah menyingkir mulai kembali bergosip.
“Kalian pikir ini ada hubungannya sama makam yang ditemukan di bukit belakang beberapa hari lalu?”
“Beberapa yang meninggal belakangan ini, sepertinya semua pernah ke sana. Bukankah ayahnya Si Macan yang pertama menemukan makam itu?”
“Jangan-jangan memang sial begini? Katanya itu cuma makam biasa.”
“Siapa yang tahu. Beberapa hari lalu ada pendeta yang masuk ke sana, sampai sekarang belum keluar.”
Makam lagi?
Mendengar itu kepalaku langsung terasa berat, seketika keinginanku untuk ikut melihat makam benar-benar hilang. Sampai sekarang aku masih trauma dengan urusan makam.
Dulu di Desa Penjaga Jiwa itu pun karena terpaksa.
Sekarang, untuk ikut campur dalam masalah ini aku benar-benar tidak yakin. Apalagi sejak tahu ayah Paman Macan baru saja meninggal dan aku bisa sampai ke sini, aku mulai curiga ini semua bukan kebetulan. Hal itu membuat hatiku makin tak tenang.
Memang, sekarang aku punya Jimat Pemanggil Dewa, sehingga tidak seperti dulu yang hanya bisa pasrah. Tapi aku juga tidak mau gegabah mengambil risiko.
Tentu saja, aku juga punya motif tersendiri.
Yaitu kalau memang aku datang ke sini bukan kebetulan, maka walaupun aku tak ingin terlibat, cepat atau lambat masalah ini pasti akan menimpaku juga.
Namun, baru saja aku hendak kembali ke kamar, tiba-tiba Paman Macan yang sedang bersujud mengeluarkan jeritan memilukan. Aku refleks menoleh, dan seketika mataku membelalak.
Tanpa aku sadari, jasad ayah Paman Macan telah melompat keluar dari peti, dan kini melompat-lompat mendekati Paman Macan.
Wajah Paman Macan langsung pucat pasi.
Orang-orang yang tadi bersembunyi kini kabur panik sambil berteriak, “Mayat hidup... ada mayat hidup!”
Mayat hidup adalah salah satu jenis mayat berjalan, pernah disebutkan oleh Paman Hantu padaku.
Tapi selain tulang dendam, rasanya ini pertama kalinya aku melihat mayat hidup.
Tapi kenapa ayah Paman Macan bisa berubah menjadi mayat hidup?
Aku memandangi jasad itu, dahi berkerut, baru kemudian aku sadar kenapa aku merasakan aura tulang dendam darinya.
Di kening jasad ayah Paman Macan, samar-samar muncul gumpalan asap hitam. Asap itu terasa persis seperti aura dendam pada tulang dendam.
Namun aku tidak begitu mengerti soal mayat hidup, jadi aku tidak bisa memastikan apa sebenarnya asap hitam itu.
Melihat Paman Macan yang ketakutan dan berusaha menghindar, aku sempat ragu. Dengan Sabit Pemenggal Mayat, aku sebenarnya bisa mengatasi mayat hidup semacam ini tanpa perlu Jimat Pemanggil Dewa, tapi aku benar-benar enggan mengambil risiko.
Tapi tampaknya Paman Macan melihat aku tidak lari, langsung menganggapku sebagai penyelamat. Ia berlari terhuyung-huyung ke arahku. Kukira dia akan menjadikanku tameng, tapi ternyata ia langsung menarik tanganku dan berbisik cemas, “Ngapain bengong di situ?”
“Ayo lari!”
Melihat aku diam saja, ia makin panik, “Mau mati di sini, hah?”
Aku menatapnya heran.
Dia kira aku sudah ketakutan sampai beku, cengkeraman tangannya makin erat, “Ayo cepat!”
Matanya bergantian menatapku dan jasad ayahnya yang semakin dekat, wajahnya dipenuhi ketakutan.
“Ayah...”
“Anakmu mohon, ayah.”
“Tolong pergilah dengan tenang!”
Entah kenapa, saat itu hatiku terasa hangat. Setelah berpikir sejenak, aku tak ragu lagi, kulepaskan tanganku lalu mencabut Sabit Pemenggal Mayat dari pinggang dan melangkah maju.
Mungkin karena Jimat Pemanggil Dewa memberiku rasa percaya diri, kali ini aku sama sekali tidak merasa takut.
Meski ada sedikit rasa enggan, sebab aku tahu jika aku sudah turun tangan, urusan ini akan menempel padaku, dan kalau belum selesai aku mungkin tak akan bisa pergi. Namun sikap Paman Macan membuatku sungguh tak tega berdiam diri.
Barangkali karena aku memang seorang penjaga desa.
Menjaga desa, menenangkan arwah.
Menjaga manusia, menenangkan jiwa.
Melihat aku bukan lari malah maju mendekat, Paman Macan jelas terkejut, kakinya lemas hingga berlutut di tanah. Tapi ekspresinya segera berubah dari ketakutan menjadi tak percaya.
Sebab Sabit Pemenggal Mayat di tanganku telah mengayun tepat di kepala jasad ayahnya, tepat di tempat asap hitam itu.
Aku sendiri tak tahu kenapa harus begitu, hanya saja naluriku berkata di situlah kuncinya.
Begitu sabit mengenai sasarannya, jasad ayah Paman Macan langsung berhenti, lalu jatuh terjerembab dan tak bergerak lagi. Setelah memastikan semuanya aman, aku cabut sabitku dan menoleh pada Paman Macan yang masih terpaku ketakutan.
“Paman Macan.”
“Sepertinya sudah beres.”
Paman Macan menelan ludah, perlahan berdiri, lalu tiba-tiba kembali berlutut seperti baru ingat sesuatu.
“Orang sakti...!”
“Tak kusangka aku bisa bertemu orang sehebat Anda.”
Aku tak kuasa menahan sudut bibirku yang sedikit berkedut, firasat buruk langsung menyergap.
Sepertinya aku tak akan bisa lepas dari masalah ini.
Itulah yang langsung terlintas di benakku.
Dan benar saja, orang-orang yang tadi sudah kabur kini kembali, bahkan langsung mengerumuniku seolah sudah tahu apa yang terjadi.