Bab Empat Puluh Satu: Tiga Batang Dupa
Secara refleks, aku langsung ingin mendorong pintu itu terbuka. Namun sebesar apa pun tenagaku, pintu utama itu sama sekali tak bergeming, seolah ada sesuatu dari dalam yang menghalanginya. Aku mulai memanggil Paman Hantu. Namun, tak ada jawaban darinya. Jangan-jangan dia tersedot ke dalam peti mati itu? Inikah yang dimaksud Paman Hantu sebagai ilmu menukar langit dan bumi? Begitu peti mati itu dibuka, orang yang membukanya akan menggantikan orang yang semula disegel di dalamnya, lalu kembali terkurung di sana?
Hati kecilku langsung tenggelam dalam kecemasan. Kalau memang begitu, bagaimana aku bisa menyelamatkan Paman Hantu? Andaikan saja aku bisa mendorong pintu utama ini terbuka, setelah aku membuka tutup peti, bukankah aku juga akan kembali terperangkap di dalamnya? Ini benar-benar jalan buntu. Aku juga tak habis pikir, mengapa dulu Paman Hantu dan Pemabuk Tua bisa membuka pintu utama ini saat aku terkurung dalam peti mati hitam, sedangkan kali ini aku tidak bisa? Atau ada persoalan lain yang belum aku ketahui?
Memikirkan itu, aku mencoba menenangkan diri. Jika aku tak bisa masuk ke dalam aula utama, sudah pasti aku takkan bisa menyelamatkan Paman Hantu. Kalaupun bisa masuk, andaikata dugaan kami benar, yang menantiku di dalam sana tetaplah jalan buntu. Jadi jalan yang tersisa hanyalah satu, yakni menemukan sosok yang sejak awal menyamar sebagai Paman Hantu. Hanya dia yang tahu rahasia di dalam aula utama, hanya dia yang tahu cara menyelamatkan Paman Hantu. Tapi di mana aku harus mencarinya?
Aku menengok ke sekeliling. Setelah mengikuti Paman Hantu palsu ke kelenteng ini, aku langsung dibawa menuju aula utama, jadi aku belum melihat-lihat tempat lain. Baru sekarang aku menyadari di kedua sisi aula utama masing-masing ada bangunan yang sedikit lebih kecil. Di depan masing-masing bangunan itu berdiri sebuah patung. Kedua patung itu sama-sama dalam posisi berlutut, satu laki-laki dan satu perempuan, menghadap ke arah aula utama. Tatapan mata mereka tampak putih kosong, persis seperti patung penjaga kelenteng. Tak hanya itu, saat menatap kedua patung itu, jantungku berdebar tak menentu.
Setelah ragu sejenak, aku memutuskan melangkah ke bangunan kecil di sebelah kanan. Kini aku memang tak punya pilihan lain. Meski aku tak mencari Pedang Dewa Bumi, aku tak mungkin membiarkan Paman Hantu begitu saja. Kalau tidak, aku akan dihantui rasa bersalah seumur hidup, meski harus pergi sendirian.
Namun baru saja aku sampai di depan patung laki-laki yang berlutut di depan bangunan kanan, patung itu tiba-tiba bergerak. Tangan kanannya yang semula menempel di lutut, perlahan terangkat, memperlihatkan sebuah pola aneh. Pola itu hitam dan putih, seperti dua ekor ikan. Di bagian hitam ada sedikit putih, mirip bola mata. Namun di bagian putih, bagian tengah yang seharusnya bola mata, tampak seperti ada yang kurang.
Gerakan tangan patung itu seolah meminta sesuatu dariku. Aku belum mengerti, lalu mencoba berjalan ke sisi lain, tapi patung itu bergerak mengikutiku. Tak hanya itu, pintu di belakang patung pun menutup otomatis. Seolah aku takkan bisa lewat sebelum memberikan apa yang dia butuhkan. Tapi justru ini membuatku makin yakin, mungkin memang ada sesuatu di dalam bangunan kecil ini.
Namun aku bingung memandang bagian putih di tangan patung. Yang kubawa hanya Tali Penjinak Arwah, Sabit Pemenggal Mayat, Jubah Pelindung Penjaga Kelenteng, dan secarik kertas penjaga kelenteng. Sisanya hanya pakaian biasa dan alat pembuat api. Tak ada satu pun yang sesuai dengan bentuk bagian putih itu. Kucari-cari cukup lama, tetap saja tak menemukannya. Aku mulai pusing. Sepertinya, kalau aku tak bisa memberikan apa yang diminta patung itu, aku benar-benar takkan bisa masuk.
Syukurlah, tak lama kemudian aku menemukan petunjuk. Ternyata bagian hitam itu bukan hanya mirip dengan bagian putih, tapi terbuat dari cairan, seperti setetes air. Kucoba sentuh, terasa lengket, dan setelah kucium, tercium bau amis darah yang samar. "Apa ini darah?" Aku tersentak. Tanpa ragu, kutekan gigiku pada jari, lalu meneteskan setitik darah ke bagian putih yang kosong itu.
Benar saja, begitu darahku menyentuhnya, warnanya langsung berubah hitam, dan patung itu kembali bergerak. Tangannya turun, lalu patung itu berdiri dan membuat gerakan mendorong pintu. Detik berikutnya, pintu bangunan kecil itu terbuka. Aku benar-benar tercengang, karena kejadian ini di luar nalar. Kutanam pandang pada patung itu sesaat, memastikan tak ada perubahan lagi, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum masuk ke dalam.
Begitu masuk, api langsung menyala di dalam bangunan kecil itu. Deretan lilin di kedua sisi dinding sudah menyala semua, membuat ruangan itu terang benderang. Di tengah ruangan, tampak seonggok kerangka duduk bersila menghadap meja persembahan.
Di atas meja ada sebuah tempat dupa, dengan tiga batang dupa yang setengah terbakar. Di belakang meja berdiri sebuah patung, mirip sekali dengan patung penjaga kelenteng di aula utama, dan kali ini utuh tanpa cacat. Aku sedikit kecewa, karena di ruangan ini tak ada apa-apa selain itu.
Meski kecewa, pengalaman dari peti mati hitam di aula utama membuatku lebih teliti. Benar saja, tak lama kemudian aku menemukan selembar kertas pada kerangka itu. Kertas itu tampak familiar. Setelah aku ambil, aku langsung teringat: kertas itu sama persis dengan uang kertas yang diberikan nenek tua sebelum aku masuk ke kelenteng, hanya saja lembaran ini utuh dan bukan uang kertas sembarangan.
Pada kertas itu tertulis beberapa baris kata, seolah ditulis terburu-buru.
"Bagi yang masuk ke dalam aula, jika engkau adalah orang terpilih, dan punya permohonan, bakarlah dupa penjaga kelenteng."
"Menyalakan satu dupa, bisa masuk ke Aula Penjinak Arwah."
"Dua dupa, bisa membuka Peti Pengusir Kejahatan."
"Tiga dupa, bisa masuk ke Aula Penjaga Kelenteng!"
Membaca tulisan ini, aku menatap tempat dupa di meja persembahan. Benar saja, ada tiga batang dupa di sana.
"Aula Penjinak Arwah, Peti Pengusir Kejahatan, Aula Penjaga Kelenteng?" gumamku, dan tenggelam dalam pikiranku.
Kata-kata itu mudah dipahami. Maksudnya, jika engkau adalah orang pilihan penjaga kelenteng, di sini kau bisa menyalakan tiga batang dupa itu, dan jumlah yang dinyalakan menentukan apa saja yang bisa dilakukan. Namun, kata "Aula Penjaga Kelenteng" membuatku bingung, sebab sejak awal aku dan Paman Hantu langsung masuk ke aula utama. Kecuali, aula utama itu bukanlah Aula Penjaga Kelenteng yang sebenarnya.
Memikirkan itu, mataku membelalak. Kemungkinan itu sangat mungkin terjadi. Lagi pula, kelenteng ini memang penuh keanehan.