Bab Tiga Puluh Delapan: Peti Mati Hitam
Mendengar apa yang kukatakan, Paman Hantu terdiam. Beberapa saat kemudian, ia menghela napas pelan.
“Apa yang kau lihat sebelumnya seharusnya bukan aku,” ucapnya.
Perkataannya membuatku terkejut.
“Maksudmu apa?”
“Gunung Hantu ini dipenuhi asap ilusi. Jika terhirup, akan menimbulkan halusinasi. Aku pun awalnya tak menyadari, baru sadar ketika kita sudah terpisah.”
“Kau pasti terpengaruh asap itu, jadi melihat sosok lain yang kau kira aku.”
“Begitu pula dengan lelaki pemabuk yang kau sebutkan.”
“Gunung ini berbahaya, lelaki pemabuk itu mustahil berani mendaki ke sini.”
Aku terdiam. Namun, dalam hatiku masih ada keraguan. Sejak awal aku tidak merasakan sesuatu yang aneh, dan aku mengikuti Paman Hantu terus-menerus, nyaris tak pernah lepas sedetik pun. Selain itu, sebelum berangkat, nenek tua itu sudah mengingatkanku untuk tidak mempercayai siapa pun di tempat ini.
Kecuali jika nenek tua itu juga membohongiku.
Aku tiba-tiba merasa pikiranku kacau. Aku menatapnya.
“Apa alasan bagiku untuk mempercayaimu?”
Paman Hantu berpikir sebentar, lalu menarik Tali Penjinak Arwah dari pinggangnya dan melilitkannya ke tubuhnya sendiri.
Suara cambukan terdengar nyaring, keningnya tampak berkerut, tapi jelas ia tidak terluka sedikit pun.
Melihat itu, aku mulai goyah.
Seolah ingin membuatku lebih yakin, Paman Hantu kembali mengeluarkan Sabit Pemenggal Mayat, lalu menyayat lengannya sendiri.
Aku sampai merasa ngilu melihatnya, tapi tangannya sama sekali tidak terluka.
Tali Penjinak Arwah melukai jiwa.
Sabit Pemenggal Mayat untuk mengiris tubuh, yakni daging dan darah.
Tapi keduanya tidak membahayakan Paman Hantu sedikit pun.
Artinya...
Jika tidak salah, Paman Hantu di depanku inilah yang asli.
Aku pun menghela napas lega, tapi juga merasa ngeri setelah menyadari semua itu.
“Jadi yang kulihat tadi benar-benar bukan kau?”
Paman Hantu mengangguk, lalu bertanya, “Apa saja yang kau lihat?”
Aku berpikir sebentar, lalu menceritakan semua kejadian sebelumnya.
Wajah Paman Hantu tampak berubah, terutama saat aku menyebut nenek tua itu, wajahnya seketika memucat.
“Lelaki pemabuk itu mustahil datang ke gunung ini.”
“Nenek tua itu...”
“Dulu memang ada penjaga kuil di Kuil Penjaga Kota.”
“Jika dia benar-benar ada, kau mungkin dalam bahaya.”
“Maksudmu apa?” tanyaku, masih belum mengerti sepenuhnya.
“Kau tersesat karena asap ilusi, lalu diselamatkan oleh nenek tua itu. Namun sebagai penjaga kuil, tugasnya melindungi Kuil Penjaga Kota ini. Kau sudah memberitahunya tujuanmu ke sini, jadi dia tidak mungkin tinggal diam.”
“Besar kemungkinan, ia akan segera mencarimu lagi.”
“Kalau begitu, kenapa sejak awal ia tidak membunuhku?” aku heran.
Paman Hantu menjelaskan, “Kau sebagai penjaga desa membawa aura Penjaga Kota. Jika ia membunuhmu begitu saja, tidak ada untungnya baginya. Tapi begitu memasuki tempat ini, aura itu akan menghilang.”
Hatiku langsung berdebar kencang.
“Tapi itu hanya dugaanku saja,” ujar Paman Hantu sambil menatap sekeliling.
“Karena kau sudah sampai, lebih baik kita cari dulu Pedang Dewa Bumi itu.”
Selesai berbicara, Paman Hantu berjalan ke bagian dalam kuil.
Kepalaku semakin penuh oleh berbagai pikiran. Rasanya seperti saat di Desa Ibu-Anak dulu, aku tak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang palsu.
Bahkan sekarang, meski Tali Penjinak Arwah dan Sabit Pemenggal Mayat tidak bisa melukai Paman Hantu di depanku, benarkah ucapannya bisa dipercaya?
Aku tidak yakin.
Saat itu aku hanya merasa benar-benar tak berdaya.
Aku ragu sejenak, tapi akhirnya tetap mengikuti Paman Hantu.
Bagian dalam kuil adalah aula utama Kuil Penjaga Kota.
Sama seperti di luar, aula ini juga sudah sangat kusam dan usang, bahkan ketika masuk, bau busuk dan lapuk langsung menusuk hidung, membuatku spontan mengerutkan kening.
Tapi itu bukan hal terburuk. Berbeda dengan peti mati hitam-putih di luar, di dalam aula ini berserakan beberapa kerangka manusia, masing-masing tanpa tengkorak kepala.
Di tengah-tengah kerangka itu, ada sebuah peti mati berwarna hitam pekat.
Peti mati hitam itu tersembunyi dalam kegelapan, jika tidak didekati hampir mustahil terlihat.
Bukan hanya itu, baru melihat sekilas saja ke arah peti itu, jantungku langsung berdebar keras, seolah ada sesuatu yang juga menatapku dari dalam.
“Peti Penjinak Arwah?”
Aku terkejut.
Namun segera kusingkirkan pikiran itu.
Kalau memang itu Peti Penjinak Arwah, tentu kami tidak perlu lagi mencari Pedang Dewa Bumi. Paman Hantu dan yang lain pasti sudah tahu benda itu ada di sini.
Tanpa sadar aku menjauhkan diri dari peti hitam itu.
Barulah perasaan tak nyaman di dadaku sedikit berkurang.
Aku kembali mengamati isi aula, namun selain kerangka-kerangka dan peti hitam tadi, ruangan ini benar-benar kosong. Satu-satunya benda yang tersisa hanyalah sebuah meja persembahan, dan di belakangnya sebuah patung.
Patung itu pun sama seperti kerangka-kerangka tadi, bagian kepalanya sudah lenyap, hanya tersisa badannya.
Ketika aku masih belum punya petunjuk apa-apa, tiba-tiba Paman Hantu memanggilku.
Sejak masuk ke aula, ia memang sibuk memeriksa kerangka-kerangka itu, dan saat memanggilku, ia sedang berdiri di depan peti mati hitam.
“Buka peti itu!”
Paman Hantu menunjuk peti hitam tersebut.
Aku terkejut.
“Untuk apa dibuka?” Aku sebenarnya ingin menolak, sebab firasatku terhadap peti hitam itu sangat buruk. Namun, mata Paman Hantu menatapnya tajam dan tidak berpaling sedikit pun.
“Mungkin Pedang Dewa Bumi ada di dalamnya!” katanya.
Mendengar itu, aku sempat tertegun, lalu tanpa sadar kembali memandang peti hitam itu.
“Kau yakin?”
Paman Hantu memandang sekeliling, “Di Kuil Penjaga Kota ini, selain peti hitam-putih biasa di luar, hanya peti hitam ini yang berbeda sendiri. Jika Pedang Dewa Bumi benar-benar disembunyikan di sini, kemungkinan besar ada di dalamnya.”
Argumennya masuk akal, membuatku sedikit tergoda.
“Bagaimanapun juga, peti ini harus dibuka!” Paman Hantu bersikeras.
Akhirnya aku tidak ragu lagi dan melangkah mendekati peti itu.
Saat itulah aku sadar, di sambungan antara tutup dan badan peti hitam itu, menempel selembar kertas bertuliskan simbol-simbol aneh.
Aku bertanya pada Paman Hantu, “Apa ini?”
Ia melirik sebentar, “Aku juga tidak tahu, tapi sepertinya sudah lama sekali.”
“Cabut saja.”
“Kalau ternyata Pedang Dewa Bumi tidak ada di dalam, nanti tinggal pasang lagi.”
Aku mengangguk lalu segera mencabut kertas itu.
Entah kenapa, begitu kertas itu terlepas, punggungku terasa sangat dingin, bahkan samar-samar aku seperti mendengar suara tawa dingin.
Spontan aku menoleh ke samping, tapi selain Paman Hantu yang masih menatap peti hitam itu, tak ada siapa pun di situ.
“Ada apa?” tanya Paman Hantu padaku.
Aku agak bingung, tapi akhirnya menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
“Lebih baik kita buka dulu petinya.”