Bab Dua Puluh Tujuh: Kematian Si Tua Buta
Perkataan Si Pemabuk Tua itu membuat Paman Hantu terdiam. Setelah beberapa saat, ia baru berkata lirih, "Biarkan saja dia memilih sendiri."
Aku sedikit tertegun, lalu merasakan tatapan Paman Hantu mengarah padaku. Sementara mata Si Pemabuk Tua sejak awal tak pernah lepas dari diriku. Hatiku agak ciut, tapi setelah berpikir sejenak aku tetap berkata, "Peti Penjaga Arwah itu sangat penting bagiku."
Si Pemabuk Tua mendengus dengan nada mencemooh. "Lebih penting dari nyawamu?"
Aku mengangguk, entah dari mana keberanian itu muncul, aku menatap matanya tanpa menghindar. Ia pun tertawa terbahak-bahak, namun tawanya segera menghilang, lalu dengan suara dingin ia berbalik dan langsung pergi.
Aku menatap punggungnya yang perlahan menjauh, perasaanku campur aduk, penuh kebingungan. Sebenarnya apa yang membuat dia begitu takut pada Peti Penjaga Arwah itu? Hanya karena aku menyebutnya saja, dia sudah merasa akan ada yang mati?
Saat aku masih dilanda tanda tanya, suara Paman Hantu menembus lamunanku. "Ayo, sudah saatnya pulang."
Aku pun tersadar, Paman Hantu sudah berjalan lagi sambil memukul gong di tangannya. Banyak pertanyaan berkecamuk di benakku, namun melihat raut wajahnya yang tampak enggan bicara, aku hanya bisa menahan rasa penasaran dan terus mengikuti dari belakang.
Syukurlah kali ini Paman Hantu tidak lagi mengajakku berkeliling desa, melainkan membawaku ke sebuah rumah yang menyala cahaya lilin. Aku sudah memperhatikan rumah ini sebelumnya, letaknya di samping balai pemujaan Desa Penjaga Jiwa. Isi rumah itu hampir sama dengan milik Si Pemabuk Tua, hanya saja ada dua peti mati hitam-putih, satu besar dan satu kecil.
Tutup peti yang besar terbuka lebar, di dalamnya ada kasur dan bantal, sedangkan peti kecil tertutup rapat, di sampingnya ada tungku berisi abu kertas. Sebelum aku sempat berkata apa-apa, Paman Hantu menunjuk peti besar itu dan berkata, "Malam ini, kau tidur di sana."
Aku tertegun, sudut bibirku sedikit berkedut. "Tidur di peti mati?"
Paman Hantu menjawab datar, "Rumah ini seadanya. Kalau kau keberatan, tidur saja di lantai."
"Aku tidur di lantai saja," jawabku spontan, tanpa menyadari senyum tipis di bibir Paman Hantu saat mengucapkan kata-katanya tadi.
Ia pun tak banyak bicara lagi, langsung mengeluarkan kasur dari peti dan melemparkannya padaku, lalu dengan sigap merebahkan diri di dalam peti itu. Aku masih ingin bertanya soal Peti Penjaga Arwah, namun suara dengkurannya segera terdengar dari dalam peti.
Aku pun hanya bisa mengelus perutku yang kosong. Tadi di rumah Si Pemabuk Tua hanya makan sedikit kacang tanah, bahkan baru meneguk sedikit arak saja sudah diusir. Kini perutku masih keroncongan.
Kupikir bisa mendapat makan di rumah Paman Hantu, ternyata dia tak memedulikan hal itu sama sekali. Tak ada pilihan lain, aku pun memeluk kasur dan mencari tempat di pojok untuk berbaring. Lantai terasa dingin, aku membungkus tubuhku dengan kasur, meringkuk sekecil mungkin agar tak terlalu kedinginan dan menahan lapar.
Begitu berbaring, rasa kantuk menyerang tiba-tiba, kelopak mataku berat sekali, hanya sempat melawan sebentar lalu tertidur pulas. Samar-samar, aku mendengar suara Paman Hantu dari dalam peti.
Tidurlah. Kalau ingin tidur, tidurlah.
Suaranya seolah mengandung kekuatan magis, membuatku merasa aman, hingga aku lupa rasa lapar, lupa dingin, bahkan lupa sedang berada di Desa Penjaga Jiwa, tempat asing yang menurut Si Pemabuk Tua bisa merenggut nyawa sewaktu-waktu.
Ternyata aku memang lengah.
Saat terbangun, rumah Paman Hantu sudah penuh orang. Aku masih terbungkus kasur, tapi entah sejak kapan tubuhku sudah terikat erat dengan tambang, layaknya penjahat. Sementara Paman Hantu dikepung oleh orang-orang dengan wajah tegang.
Kulihat, selain Si Pemabuk Tua, tak ada satu pun yang kukenal. Selain tiga orang, sisanya semuanya buta—ya, inilah sisa-sisa orang Desa Penjaga Jiwa. Aku rupanya diikat oleh mereka.
Hatiku mencelos, tak tahu apa yang terjadi. Segera aku berteriak, "Paman Hantu, kenapa aku diikat?"
Mendengar suaraku, para lansia buta itu menoleh ke arahku serempak. Meski mereka tak bisa melihat, bola mata mereka yang memutih membuat bulu kudukku berdiri. Aku bisa merasakan kebencian mereka yang mengarah padaku. Kebencian yang membuatku makin bingung.
Paman Hantu berkata dengan suara berat, "Si Tua Buta sudah mati."
Aku tertegun. "Bukankah dia—"
Belum selesai bicara, Si Pemabuk Tua menatapku tajam, tatapannya tak segarang para lansia buta itu, tapi penuh kekecewaan. Aku baru sadar, yang dimaksud pasti kakek tua dengan satu mata buta yang pertama kali kutemui.
"Mana mungkin?" Aku tak percaya.
Si Pemabuk Tua pun melangkah mendekat, suaranya dingin, "Anak muda, apa yang kau lakukan semalam?"
Aku masih bingung. Setelah berpikir sejenak, aku berkata, "Semalam aku bersama Paman Hantu. Setelah sampai di sini, aku langsung tidur. Itu bisa dibuktikan oleh Paman Hantu."
Si Pemabuk Tua melirik Paman Hantu yang berwajah suram. "Kau yakin?"
Mendengar itu, aku makin bingung. "Apa kalian kira aku yang membunuhnya?"
"Selain kau, siapa lagi?" Tiba-tiba salah satu lansia buta berbaju abu-abu membentak, "Siapa lagi yang akan membunuhnya selain kau?"
"Aku sudah bilang, siapa saja yang mencari Peti Penjaga Arwah, pasti akan mencelakakan kami. Kalau pun bukan kau yang membunuh, pasti kau terlibat!"
"Aku..."
Aku menoleh pada Paman Hantu, baru sadar matanya yang memerah. Aku hendak meminta ia menjadi saksi, tapi Si Pemabuk Tua sudah mendengus lagi, "Memang benar kau semalam di sini, Paman Hantu juga jadi saksi. Tapi benda ini..."
Ia mengeluarkan secarik kertas merah dan melemparkannya ke lantai.
"Stiker Penjaga Kota?"
Aku tertegun.
Si Pemabuk Tua berkata dingin, "Stiker Penjaga Kota hanya boleh dimiliki oleh Penjaga Desa. Benda ini ditemukan di samping jenazah Si Tua Buta. Selain kau, siapa lagi pemiliknya?"
"Paman Hantu juga Penjaga Desa, bukankah dia juga punya?" tanyaku pada Paman Hantu.
Ia menghela napas pelan. "Memang aku punya stiker Penjaga Kota. Tapi setiap Penjaga Desa memiliki stiker yang berbeda."
Sambil bicara, ia mengeluarkan setumpuk kertas dari sakunya, tapi warnanya kuning, bukan merah.
"Apa lagi yang mau kau katakan?"