Bab Tujuh Belas: Turun Dari Kuda!

Penjaga Desa Pilihan Takdir Nama rendah mudah dirawat 2464kata 2026-02-07 18:44:50

Melihat aku menoleh ke belakang, si Perokok Tua baru membuka mulut dan berkata, "Turun dari kuda!" Mendengar dua kata itu, aku langsung tertegun, secara refleks ingin turun dari kuda, namun yang tak kusangka, dua ‘orang’ yang tadinya hanya menuntun kuda itu justru bersamaan mengulurkan tangan dan mencengkeram kedua kakiku, tampak tak ingin membiarkanku turun.

Aku pun merasa heran di dalam hati. Sebelumnya, kedua ‘orang’ di sini sama sekali tak peduli padaku, terutama saat Zhuang Yue dan Liu Ming muncul, mereka pun memilih mengabaikan, membiarkan saja mereka ingin menarikku turun dari kuda. Mengapa sekarang, saat aku sendiri ingin turun, justru mereka menahanku?

Aku kembali berusaha cukup lama, namun tangan kedua ‘orang’ itu seperti capit besi, mencengkeram kakiku erat-erat. Akhirnya, ketika aku benar-benar tak berdaya, aku hanya bisa menoleh ke si Perokok Tua dan berkata, "Aku tak bisa turun, bagaimana kalau kau bantu?"

Si Perokok Tua sama sekali tak berniat membantuku. Tatapannya padaku malah memancarkan ketidaksabaran.

"Begitu saja tak bisa," katanya.

"Lalu, setelah ini kita harus bagaimana?" Aku cemberut, baru ingin membantah, tiba-tiba kedua ‘orang’ yang mencengkeram kakiku itu bersamaan mengedipkan mata padaku, mulut mereka juga bergerak-gerak.

Dua suara lirih pun terdengar di telingaku.

"Jangan turun!"

Kata-kata itu membuat semua protes yang hendak kulontarkan langsung kutelan. Aku pun secara refleks melirik si Perokok Tua yang sudah tampak sangat tidak sabar, memastikan bahwa ia tak mendengar kedua ‘orang’ itu bicara. Keningku pun mengerut.

Aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan si Perokok Tua.

Sebelumnya aku memang belum memperhatikan.

Saat melihatnya, reaksi pertamaku adalah merasa aman, sehingga aku tak menaruh curiga bahwa si Perokok Tua yang sekarang ini berbeda dengan biasanya; tak lagi setenang dan sedewasa dulu.

Sejak aku mengenalnya, si Perokok Tua tak pernah menunjukkan sikap tak sabar, bahkan ketika ucapanku kadang membuatnya tak nyaman, ia pun tak pernah tampak gusar.

Terutama satu hal, walaupun ia tetap membawa pipa rokok, sejak aku melihatnya kembali hanya satu kali ia mengisapnya, lalu tak pernah lagi menyentuhnya. Dan jika memang benar ia ingin aku segera turun dari kuda, melihat aku tak bisa turun, ia pasti sudah langsung turun tangan membantuku, apalagi kedua ‘orang’ itu tiba-tiba mengendalikan tubuhku, jelas-jelas mencurigakan.

Namun kali ini, ia sama sekali tak bertindak.

Menyadari semua itu, untuk sementara aku urungkan niat turun dari kuda. Meski tetap berpura-pura berusaha turun, sebenarnya aku tak sungguh-sungguh. Aku terus berpura-pura ingin turun, sambil meringis menatap si Perokok Tua. "Benar-benar tak bisa."

"Kedua orang ini entah kenapa, mencengkeramku erat-erat dan tak mau melepaskan."

Mata si Perokok Tua tiba-tiba memancarkan kilatan dingin.

Meski hanya sekilas, aku jelas melihatnya.

Hal ini semakin meyakinkanku bahwa ada yang tak beres dengannya.

Benar saja, setelah mendengar ucapanku, ekspresi tidak sabar dan dingin pada wajah si Perokok Tua semakin jelas.

Namun ia tetap tak berniat membantuku, malah terus mendesak, "Kalau kau tak segera turun, akan terlambat."

"Saat itu, tak ada seorang pun yang bisa menolongmu!"

Aku hanya bisa tertawa dingin dalam hati.

Saat ini aku sudah hampir pasti yakin bahwa si Perokok Tua di hadapanku memang bermasalah.

Aku pun memutuskan untuk tak lagi mempedulikannya, malah menyeringai dan tertawa terkekeh.

Kupikir, apapun tujuan dia menyuruhku turun, selama aku tetap pura-pura bodoh, seharusnya tak akan salah.

Namun baru saja aku mulai tertawa bodoh, si Perokok Tua pun ikut menyeringai, ekspresi tidak sabar dan dingin di wajahnya lenyap, tergantikan tatapan puas.

"Bagus!" katanya, seraya mengambil pipa rokok dan mengisapnya sekali, "Ternyata kau tak sebodoh itu."

Mendengar ucapannya, aku jadi bingung.

Secara refleks, aku melirik ke arah dua ‘orang’ di sisi kiri dan kanan.

Kulihat di mata mereka sebersit kebingungan, walau segera lenyap, berganti dengan ketenangan, lalu perlahan mereka melepaskan cengkeraman pada kakiku.

Melihat ini, aku tak tahan untuk bertanya, "Apa kau benar-benar si Perokok Tua?"

Ia memelototiku, lalu melanjutkan, "Dewa Penjaga Kota pasti sudah beberapa kali mengujimu."

"Setelah ini, jika tak ada kejadian di luar dugaan, masalah yang lebih besar akan datang padamu."

Aku hanya bisa mengeluh dalam hati, merasa si Perokok Tua benar-benar pandai berpura-pura, bahkan aku pun tertipu. Aku pun bertanya lagi, "Lalu, apa yang harus kulakukan?"

Si Perokok Tua menepuk-nepuk punggung kuda di bawahku dan berkata, "Turunlah."

"Kau yang menuntun kuda, aku yang duduk di atas."

Aku sedikit bingung.

Ia lalu menjelaskan, "Tadi kau selalu di atas kuda, makhluk-makhluk utusan Dewa Penjaga Kota itu pasti sudah mengingatnya. Kita tukar posisi, jadi kalau ada masalah, aku bisa melindungimu."

Mendengar penjelasannya, tanpa ragu aku pun segera turun dari kuda.

Alasanku begitu tegas kali ini adalah karena aku yakin si Perokok Tua memang orang yang hebat. Kalau ia sudah berkata demikian, pasti ia punya keyakinan sendiri, jadi tak perlu banyak bicara.

Namun baru saja aku turun, dua ‘orang’ yang tadinya menuntun kuda mendadak seperti kesetanan, satu tangan mencengkeram tanganku, satu lagi berusaha menyeret si Perokok Tua yang duduk di atas kuda turun.

Mulut mereka pun mengeluarkan suara rintihan, seperti sangat panik.

Saat aku masih heran, si Perokok Tua langsung menancapkan pipa rokoknya ke salah satu ‘orang’ itu. Percikan api di pipa rokok seketika berubah menjadi kobaran api besar, yang dalam sekejap membakar tubuh ‘orang’ itu hingga menjadi abu.

Makhluk-makhluk seperti ini memang jelmaan stiker merah dari Dewa Penjaga Kota, meski aku tak tahu bagaimana caranya, namun aku tahu mereka memang hanya selembar kertas merah. Tapi aku tak menyangka si Perokok Tua begitu tegas membakar salah satunya.

Sedangkan ‘orang’ satunya lagi, melihat kejadian itu, langsung melepaskan cengkeramannya dari si Perokok Tua, seperti ketakutan, lalu berlari ke arah tandu, seolah mencari perlindungan dari peti mati di dalamnya.

Si Perokok Tua hanya meliriknya dan berkata datar, "Kalian ada hubungannya dengan dia, aku sebenarnya tak ingin melukai kalian."

"Kali ini, anggap saja sebagai peringatan."

Setelah berkata demikian, ia menoleh padaku.

"Tuntun kudanya, jalan!"

Aku pun tersadar, dan setelah melirik abu di tanah serta ‘orang’ yang lari ke samping tandu mencari perlindungan dari peti mati, aku mengangguk, menuntun kuda ke depan.

Kali ini, kudanya melangkah dengan cepat, tak seperti sebelumnya saat aku menungganginya, setiap langkah terasa berat.

Kalau dengan kecepatan yang lambat seperti tadi, mungkin butuh beberapa jam sebelum kami sampai di gerbang Desa Anakku, tapi setelah bertukar posisi dengan si Perokok Tua, hanya butuh sekitar sepuluh menit.

Namun, seperti yang dikatakan si Perokok Tua, aku harus memimpin rombongan mengelilingi desa dulu sebelum bisa pulang, dan sampai di gerbang desa pun hanya pertanda perjalanan baru saja dimulai. Jadi aku tak merasa lega sedikit pun.

Namun, yang membuatku heran adalah, begitu sampai di gerbang desa, kuda itu justru berhenti.

Bukan hanya itu.

Suara musik perayaan yang meriah pun mendadak lenyap.

Sebagai gantinya, terdengar suara gonggongan anjing yang nyaring, dan sebuah helaan napas panjang.