Bab tiga puluh: Memohon Turunnya Dewa
Melihat kejadian itu, aku tak kuasa menahan napas, pikiranku seakan beku. Apakah si Tua Buta itu hidup kembali dengan cara lain? Aku teringat saat pertama kali tiba di Desa Fengling. Orang pertama yang kutemui adalah si Tua Buta, saat itu aku bahkan sempat memanggilnya nenek, meski akhirnya dia menolakku mentah-mentah. Kini melihatnya setelah mati malah menjadi seperti ini, hatiku terasa campur aduk.
Namun aku tak membiarkan diriku hanyut terlalu lama dalam kesedihan. Segera aku menguasai diri dan mulai mencari peluang untuk melarikan diri. Namun saat itu, seluruh bagian luar klenteng sudah terkepung rapat. Satu-satunya jalan hanyalah pintu utama klenteng Desa Fengling. Tapi jelas mereka tidak akan membiarkanku masuk. Mereka bahkan berharap aku cepat mati agar bisa mencari Peti Penahan Roh itu.
Satu-satunya hal yang bisa sedikit kuminum adalah, entah kenapa, makhluk-makhluk yang keluar dari peti itu tampaknya tidak tertarik padaku. Meski aku terjebak di antara mereka, aku sama sekali tidak mendapat perhatian ataupun gangguan. Itu memberiku waktu untuk memikirkan cara menghadapi situasi ini.
Saat itulah aku menyadari, selama ini apapun yang terjadi, selalu ada yang membantuku. Karena itu aku seringkali tidak perlu berpikir terlalu banyak, selalu saja ada seseorang yang menyelesaikan masalahku. Di Desa Nyonya pun begitu. Sampai di Desa Fengling, pada awalnya masih ada Paman Hantu, meski tidak terlalu banyak membantuku, tapi cukup membuatku secara tak sadar bergantung padanya, apalagi karena dia kenal dengan Si Tua Penikmat Asap.
Memikirkan itu, aku menghela napas. Setelah berpikir panjang, akhirnya aku mengeluarkan jimat Kota Penjaga yang diberikan Si Tua Penikmat Asap sebelum aku berangkat. Aku memang tak punya kemampuan apa-apa. Kalau mau jujur, aku tak ada bedanya dengan orang biasa. Satu-satunya yang bisa kuandalkan hanyalah jimat itu.
Namun, ketika aku mengeluarkan jimat Kota Penjaga itu, aku malah jadi bingung sendiri. Sewaktu Si Tua Penikmat Asap memberikannya, aku tak memperhatikannya. Setelah kuperhatikan, ternyata jimat-jimat itu bergambar... wanita! Beberapa yang tidak bergambar wanita juga aneh-aneh. Satu bergambar benda seperti cambuk. Satu lagi seperti sabit. Ada pula satu yang lebih aneh lagi, bergambar sepotong pakaian.
Aku jadi melongo, tanpa sadar teringat ketika dulu Si Tua Penikmat Asap mengajakku menemui kakak perempuan saat acara pernikahan, di mana para wanita di kertas merah itu juga berpakaian seperti rombongan pengantin. Lalu apa gunanya? Aku jadi kecewa.
Namun aku tahu, dalam keadaan seperti ini aku hanya bisa mencoba peruntungan. Dalam hati aku berdoa semoga Si Tua Penikmat Asap tidak menipuku, lalu memilih satu jimat bergambar wanita yang menurutku paling enak dipandang. Aku pikir, meski tidak berguna, setidaknya jika nanti makhluk-makhluk itu tiba-tiba tertarik padaku, jimat itu bisa sedikit melindungiku.
Tanpa ragu lagi, aku segera mengeluarkan pemantik api yang selalu kubawa dan menyalakan kertas merah itu. Dalam sekejap, kertas merah itu berubah menjadi abu. Namun entah kenapa, tepat saat kertas itu lenyap menjadi abu, kepalaku tiba-tiba terasa nyeri, tubuhku pun muncul perasaan aneh seakan ada sesuatu yang menghilang dari dalam diriku.
Bersamaan dengan itu, tanpa sadar aku mengucap dengan lantang, "Penjaga Desa Nyonya."
"Dengan jiwa sebagai penghubung."
"Memohon..."
"Keturunan Dewa turun!"
Aku tak tahu kenapa tiba-tiba mengucapkan kata-kata itu, tapi aku benar-benar tidak bisa menahan diri, seolah-olah setelah menggunakan jimat Kota Penjaga, aku memang harus mengucapkan mantra itu. Begitu suaraku selesai, perasaan bahwa sesuatu keluar dari dalam tubuhku semakin kuat, tubuhku semakin lemas.
Hingga di hadapanku muncul siluet merah, barulah perasaan aneh itu perlahan hilang. Mataku membelalak.
"Kakak perempuan?"
Gaun merah tipis dan tubuhnya yang indah sempurna membuatku spontan teringat pada sosok yang lama menghantui mimpiku. Aku sempat linglung. Sampai dia berbalik dan memandangku, wajah asing nan dingin tanpa emosi itu membuatku tersadar.
Aku hanya merasa kecewa. Tapi segera aku bisa menerima kenyataan. Kakak perempuan itu, demi aku, sudah dibawa pergi oleh Kota Penjaga, mana mungkin dia akan muncul di hadapanku dengan cara seperti ini?
Namun saat aku masih linglung, tiba-tiba kudengar suara lembut memanggil,
"Xuan Tian."
Aku tertegun. Cepat-cepat menoleh ke sekeliling, tapi yang kulihat hanya mayat-mayat yang bergerak seperti zombie, tak ada orang lain. Apakah itu hanya halusinasiku?
Saat itu, siluet merah dari jimat Kota Penjaga langsung menerobos ke tengah kerumunan makhluk itu.
Tak lama kemudian, ia lenyap di antara kerumunan tersebut. Hatiku langsung tenggelam, aku tak bisa menahan tawa getir. Memang aku tak seharusnya menaruh harapan pada wanita yang muncul dari jimat seperti itu.
Namun tak lama kemudian, aku malah tertegun. Wanita itu bergerak seperti hantu, berkelit di antara tulang-belulang, membuat mereka kebingungan, sementara di tangannya entah sejak kapan muncul seutas tali merah.
Semakin lama ia bergerak, tali merah itu telah membelit tulang-belulang itu, seperti dulu aku diikat dengan tali rami oleh Si Tua Penikmat Anggur dan teman-temannya. Dalam sekejap, suasana berubah menjadi aneh.
Wanita dari jimat Kota Penjaga ini ternyata sehebat itu?
Aku menelan ludah, menatap sisa-sisa kertas merah di tanganku, lalu buru-buru menyimpannya. Aku tahu Si Tua Penikmat Asap tak akan menipuku! Andai saja aku tahu jimat ini sehebat itu, aku tak perlu hampir menjadi korban persembahan si Tua Buta itu!
Perasaan putus asaku langsung berubah menjadi semangat. Namun, pada saat itu juga, dadaku terasa sakit menusuk. Tak lama kemudian, kerongkonganku terasa manis, dan aku tak mampu menahan semburan darah segar dari mulutku.
Tubuhku langsung limbung, kedua kakiku lemas, aku jatuh terduduk di tanah. Sementara itu, siluet wanita yang semula bergerak lincah di antara mayat-mayat mendadak berhenti, menatapku dengan mata hampa, lalu perlahan berubah menjadi abu.
Aku terpaku. Tali merah di tubuh para mayat itu pun seketika hancur. Lebih dari itu, begitu tali itu lenyap, para mayat itu serempak menatapku dengan lubang kosong di kepala mereka.
Bulu kudukku berdiri. Aku berusaha bangkit, tapi kakiku terlalu lemas hingga mustahil untuk berdiri.
"Teriakan marah tiba-tiba meledak dari mulut salah satu mayat, lalu mereka serempak menerjang ke arahku, seolah aku adalah musuh bebuyutan yang ingin mereka cabik-cabik.
Aku terkejut dan tanpa sadar tubuhku jatuh ke belakang, tapi sia-sia, sebentar saja satu mayat sudah melompat ke arahku, tengkorak kepalanya langsung menggigit dadaku.