Bab Empat Puluh: Bukan Benar-benar Pemabuk Tua
Mendengarkan percakapan mereka berdua, hatiku langsung terasa tegang. Suara mereka sangat mudah kubedakan. Aku bisa merasakan keraguan di suara Paman Hantu. Begitu pula aku bisa menangkap kegelisahan Si Pemabuk Tua.
Dalam hati, aku mulai berdoa tanpa henti: Paman Hantu, jangan ragu lagi, cepat buka peti mati bersama Si Pemabuk Tua. Cepatlah!
Dengan hati berdebar, aku menunggu lagi beberapa saat. Untunglah, akhirnya Paman Hantu berhasil diyakinkan oleh Si Pemabuk Tua. Tak lama kemudian, aku mulai merasakan peti mati itu bergetar. Tak berapa lama, terdengar suara berderit, tutup peti perlahan-lahan didorong terbuka.
Seiring tutup peti makin terbuka, perasaan tertekan yang membuatku tak bisa bergerak perlahan mulai sirna. Sampai akhirnya tutup peti benar-benar terbuka sepenuhnya, aku langsung duduk tegak dari dalam peti.
Paman Hantu dan Si Pemabuk Tua jelas terkejut. Jelas mereka tidak menyangka aku ada di dalam peti mati.
“Bagaimana kau bisa di dalam?” tanya Paman Hantu lebih dulu.
Dahi Si Pemabuk Tua juga mengerut. “Nak, lalu di mana barangnya?”
Aku tersenyum pahit. “Jangan ditanya.”
Lalu aku menceritakan semua yang terjadi sebelumnya pada mereka. Setelah mendengarkan ceritaku, wajah Paman Hantu dan Si Pemabuk Tua langsung berubah muram.
Si Pemabuk Tua memastikan, “Jadi maksudmu, ada seseorang yang menyamar sebagai Paman Hantu?”
“Dia yang menyebabkan kau terjebak di dalam?” tanyanya lagi.
Aku mengangguk.
Wajah Si Pemabuk Tua langsung menunjukkan kemarahan. Paman Hantu sendiri masih cukup tenang, hanya mengernyitkan dahi. “Kalau yang menyamar jadi aku juga manusia, berarti ada seseorang yang sudah datang ke sini sebelum kita,” katanya.
“Dan orang itu tahu latar belakang kita, tahu apa tujuan kita ke sini.”
“Siapa orang itu?” tanyaku.
Paman Hantu menggeleng, kemudian melanjutkan, “Masih ada kemungkinan lain.”
“Apa maksudmu?” tanyaku.
Paman Hantu menatapku sekilas, lalu melihat Si Pemabuk Tua. “Mungkin saja dia bukan manusia.”
Aku tertegun, seketika merasa merinding.
“Paman Hantu, apa lagi yang kau tahu?” Si Pemabuk Tua kini menatap Paman Hantu.
Paman Hantu menatap arca Dewa Penjaga Kota yang entah sejak kapan sudah kembali seperti semula, lalu mengalihkan pandangannya padaku. “Dari apa yang kau ceritakan tadi, patung Dewa Penjaga Kota itu memang ada masalah.”
“Dan yang menyamar jadi aku lalu mengembalikan patung itu seperti semula, pasti punya tujuan tertentu.”
“Mungkin saja tujuannya juga untuk mendapatkan Pedang Dewa Bumi.”
“Kau maksudkan, patung Dewa Penjaga Kota itu kunci untuk menemukan Pedang Dewa Bumi?” aku mengernyit. “Kalau begitu, bukankah berarti dia sudah mendahului kita?”
Si Pemabuk Tua menepuk pahanya. “Kalau begitu, tunggu apa lagi?”
“Cepat cari saja!”
“Siapa pun dia, yang penting kita temukan dulu Pedang Dewa Bumi!” serunya hendak beranjak.
Namun di saat itu juga, Paman Hantu tiba-tiba mengeluarkan Tali Penjinak Arwah dari pinggangnya dan langsung melemparnya ke arah Si Pemabuk Tua!
“Argh!” Si Pemabuk Tua menjerit kesakitan. Seketika aku melihat asap hitam keluar dari punggungnya, tubuhnya mulai berputar-putar aneh. Ia menoleh dengan tatapan tak percaya pada Paman Hantu.
“Kau... bagaimana kau bisa tahu?”
Paman Hantu tetap tenang. “Kau terlalu piawai berakting.”
Bersamaan itu, Tali Penjinak Arwah kembali diayunkan keras ke tubuh Si Pemabuk Tua. Tubuhnya pun benar-benar berubah. Daging dan darahnya kabur, perlahan berubah jadi kepulan asap hitam dan tampak tulang belulang di dalamnya.
Namun tiba-tiba dia malah tertawa.
“Nak, sudah terlambat.”
“Tak lama lagi kalian pasti mati.”
“Semuanya akan mati...”
Aku agak bingung. Tali Penjinak Arwah hanya berefek pada arwah. Jadi, Si Pemabuk Tua di depanku ini palsu?
Aku menatap Si Pemabuk Tua yang kini hanya tinggal tumpukan tulang belulang, cukup lama baru akhirnya menoleh pada Paman Hantu.
“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanyaku.
Wajah Paman Hantu rumit. “Si Pemabuk Tua tak akan ikut kita naik gunung.”
“Walaupun dia sangat mirip, pada akhirnya hanya bisa meniru wujudnya saja.”
“Dan, dia punya satu kelemahan yang mencolok.”
“Apa itu?” tanyaku penasaran.
Paman Hantu menatap tulang belulang di tanah. “Si Pemabuk Tua sudah lama tinggal di Desa Fengling, sudah terbiasa dengan banyak hal aneh, tapi dia sangat berhati-hati dan tenang dalam segala situasi.”
“Itu sebabnya, semua orang yang tinggal di Desa Fengling sangat menghormatinya.”
“Tapi aku yakin dia bukan Si Pemabuk Tua yang asli, justru karena satu hal di sini.”
Paman Hantu menoleh ke arah peti mati hitam itu.
“Peti mati ini punya segel khusus dari aliran Tao.”
“Si Pemabuk Tua itu murid duniawi dari aliran Maoshan.”
“Dia pasti tahu, kalau ada segel seperti ini artinya sangat berbahaya. Tapi sejak awal dia malah menyuruhku membuka peti, jelas ada yang tak beres.”
“Kalau begitu, kenapa kau tetap membuka petinya?” aku tidak mengerti.
Sebab, dari yang dikatakan Paman Hantu, bukankah dia sudah tahu Si Pemabuk Tua palsu? Kenapa masih mau membuka peti bersama dia? Tidak takut terjadi apa-apa?
Paman Hantu tidak menjawab, melainkan berjalan ke peti, lalu mencabut segel di atasnya.
“Segel ini sudah pernah dibuka sebelumnya.”
“Jadi aku menduga, pasti ada yang lebih dulu membuka peti ini sebelum kita.”
Aku pun langsung paham, dan mulai kagum pada kejelian Paman Hantu. Kalau aku, pasti takkan secerdik itu. Setidaknya, belum untuk sekarang.
Setelah menenangkan diri, aku bertanya lagi, “Sekarang kita mesti bagaimana? Kita masih belum punya petunjuk soal Pedang Dewa Bumi.”
Pandangan Paman Hantu kembali tertuju pada peti mati hitam itu.
“Peti ini pasti ada yang aneh.”
“Dari ceritamu, seharusnya ada sesuatu di dalam peti hitam ini. Setelah pertama kali kau membukanya, isinya pasti sudah kabur, dan kepala Dewa Penjaga Kota itu adalah semacam segel.”
“Setelah kepala itu dikembalikan ke patung, pasti sesuatu pun terpicu, makanya kau terjebak di dalam.”
“Kalau dugaanku benar...” Paman Hantu mengerutkan dahi.
“Ini kemungkinan besar adalah semacam ilmu pertukaran nasib.”
“Kau membuka peti, jadi kaulah yang menggantikan makhluk yang keluar, lalu disegel di dalam.”
“Yang menyamar jadi aku, tujuannya memang untuk melepaskan makhluk yang ada di dalam.”
“Lalu, bagaimana dengan yang menyamar jadi Si Pemabuk Tua?” tanyaku.
Paman Hantu terdiam, seolah sedang berpikir.
Tiba-tiba terdengar suara berderit.
Kelopak mataku langsung bergerak refleks.
Dan seketika itu juga, aku melihat patung Dewa Penjaga Kota yang sudah kembali ke tempatnya itu perlahan bangkit lagi.
Namun kali ini, mata putihnya tidak menatapku, melainkan menatap ke arah Paman Hantu.
Wajah Paman Hantu langsung berubah drastis.
“Lari!” teriaknya, sambil mendorong tubuhku keras-keras keluar dari aula.
Bersamaan dengan itu, pintu aula kembali tertutup rapat dengan suara berat.