Bab Seratus Tiga: Sang Penghubung Dewa
Setelah menyaksikan dahsyatnya efek Lembar Memohon Dewa, aku pun semakin menantikan isi lanjutan dari “Menembus Ketuhanan”. Dan memang, isi lanjutan dari buku ini tidak membuatku kecewa.
Seluruh buku ini terbagi ke dalam tiga bagian: Memohon Dewa, Menembus Ketuhanan, dan Menjelma Menjadi Dewa.
Bagian pertama, Memohon Dewa, bisa dibilang adalah pengantar dari buku ini, yaitu penerapan Lembar Memohon Dewa. Bagian ini sudah pernah kubaca dan kuasai, bahkan beberapa kali aku bisa lolos dari bahaya berkat penggunaan Lembar Memohon Dewa.
Bagian kedua, Menembus Ketuhanan, adalah inti sesungguhnya dari buku ini. Jika penggunaan Lembar Memohon Dewa berarti meminjam kekuatan “dewa” yang ada di dalam lembar tersebut, lalu membiarkan kekuatannya mengendalikan tubuhku dan merasakan kesadaranku untuk melakukan sesuatu melalui diriku, maka Menembus Ketuhanan adalah kebalikannya. Dalam tahap ini, aku harus menguasai kekuatan Lembar Memohon Dewa, mengubah kekuatan itu menjadi bagian dari diriku, menjadikan diriku sendiri “dewa” dalam batas tertentu, sehingga kekuatan Lembar Memohon Dewa bisa kugunakan secara utuh.
Sedangkan bagian ketiga, Menjelma Menjadi Dewa, bila dua bagian sebelumnya adalah variasi pemanfaatan Lembar Memohon Dewa, bagian ini justru menuntun untuk melepaskan ketergantungan pada lembar itu sama sekali. Ini adalah tahap di mana seseorang benar-benar menjadi “dewa”.
Melihat bagian ini, aku akhirnya paham mengapa Li Bowen mengatakan bahwa Penjaga Desa yang berhasil menuntaskan “Menembus Ketuhanan” akan menjadi manusia setingkat Dewa Bumi di dunia ini. Dan mengapa dalam “Menembus Ketuhanan” disebutkan bahwa hanya dengan menguasai Lembar Memohon Dewa, seseorang baru mungkin menjadi Dewa Bumi yang hidup di dunia. Karena seluruh rahasia ini, pada hakikatnya, adalah cara bagi manusia biasa untuk menjadi “dewa”.
Tak heran, seorang Dewa Bumi yang hidup seratus tahun lalu mampu membunuh Dewa Kota di Desa Fengling dengan tangannya sendiri. Sebab, ia sendiri memang telah menjadi “dewa”. Seorang dewa, tentu mampu membunuh dewa lain!
Namun, untuk mencapai tahap ketiga, yaitu Menjelma Menjadi Dewa, terlebih dahulu harus menguasai tahap kedua, Menembus Ketuhanan. Dan tahap kedua ini sama sekali tidak semudah tahap pertama. Bukan sekadar mengetahui cara menggunakan Lembar Memohon Dewa, melainkan harus benar-benar berkomunikasi dengannya, mendapatkan pengakuan sejati, bukan hanya sekadar membuatnya tunduk.
Cara mendapatkan pengakuan Lembar Memohon Dewa inilah yang menjadi bagian tersulit kedua. Jika tahap pertama adalah proses seleksi bagi Penjaga Desa yang pantas mempelajari “Menembus Ketuhanan” lewat peristiwa turun dewa, maka tahap kedua adalah tahap di mana seseorang benar-benar menjadi penembus ketuhanan.
Selain itu, aku juga akhirnya tahu apa sebenarnya “dewa” yang ada dalam Lembar Memohon Dewa. Lembar asli hanya ada sembilan lembar. Atau lebih tepatnya, hanya ada sembilan lembar yang muncul bersama “Menembus Ketuhanan”. Sembilan lembar ini dibuat oleh seorang Dewa Bumi yang membagi kekuatan dirinya menjadi sembilan bagian sebelum wafat, dan sembilan bagian itu adalah wujud kekuatan Menjelma Menjadi Dewa dalam “Menembus Ketuhanan”.
Dewa Bumi itu bernama Dewi Xuan Nu. Tak ada yang tahu asal-usulnya, hanya diketahui kehadirannya pernah mengubah takdir para Penjaga Desa, dan membuka jalan baru bagi mereka, yaitu jalan menuju Dewa Bumi, yang disebut Menjelma Menjadi Dewa. Buku “Menembus Ketuhanan” pun berasal dari dirinya.
Jadi, apa yang dikatakan Li Bowen tidaklah salah, hanya saja pengetahuannya belum lengkap. Yang mengejutkanku, menurut deskripsi dalam buku ini, sembilan Lembar Memohon Dewa yang asli persis sama dengan yang kumiliki. Dengan kata lain, mungkin saja semua Lembar Memohon Dewa yang ada padaku adalah asli. Dulu aku sempat heran, mengapa gambar dalam lembar-lembar itu semuanya perempuan. Kini aku paham, sebab kekuatan itu berasal dari Dewi Xuan Nu, Dewa Bumi yang hidup di dunia.
Namun, hal ini juga membuatku sedih. Dulu di Desa Fengling, karena salah cara, aku pernah memakai salah satu Lembar Memohon Dewa. Setelah digunakan, lembar itu berubah menjadi abu. Aku masih ingat, wanita yang kupanggil waktu itu menatapku dengan tatapan dingin dan acuh tak acuh.
Aku hanya bisa tersenyum pahit, lalu mengeluarkan Lembar Memohon Dewa dan membuka bagian kedua dari buku itu.
Menurut petunjuk dalam buku, untuk menjalin hubungan dengan Lembar Memohon Dewa, selain harus membuatnya mengakui pemilik, juga harus menggunakan cara “turun dewa” untuk berkomunikasi dengan “dewa” di dalamnya. Artinya, aku harus mendapat pengakuan dari “dewa” dalam lembar itu, agar ia mau melepaskan kendali atas kekuatannya.
Namun, “dewa” yang ditemui lewat cara turun dewa hanyalah sebagian dari wujudnya saja. Untuk benar-benar bertemu dengan “dewa” sejati dalam lembar itu, setelah turun dewa, aku harus masuk ke dalam mimpi dan berkomunikasi dengannya.
Singkatnya, setelah menggunakan turun dewa, aku harus membiarkan diriku tertidur.
Setelah memastikan caranya, aku pun tanpa ragu mengambil Lembar Memohon Dewa yang paling sering kupakai, lalu melafalkan mantra. Begitu mantra selesai, kekuatan Lembar Memohon Dewa meledak, menghadirkan sensasi yang sudah akrab, dan perlahan-lahan aku kehilangan kendali atas tubuhku, hanya kesadaranku yang tetap terjaga.
Akhirnya, sekali lagi aku melihat sosok yang sudah sangat kukenal itu. Karena aku memang tak berniat melakukan apa pun, setelah muncul, ia pun tetap duduk diam seperti diriku, posisi tubuhnya hampir sepenuhnya menyatu dengan tubuhku.
Mengikuti petunjuk dalam buku, aku mulai mengosongkan pikiran dan membiarkan diriku perlahan-lahan tenggelam dalam kantuk. Proses ini sangat lambat. Karena aku tidak sepenuhnya menguasai tubuhku, hanya kesadaranku saja yang paling jelas, maka yang bisa kulakukan adalah berusaha mengaburkan kesadaranku itu.
Sayangnya, aku sama sekali tak berpengalaman dalam hal ini. Sampai kekuatan Lembar Memohon Dewa menghilang, aku tetap tak mampu membawa diriku ke dalam tidur.
Meski begitu, aku tak merasa kecewa. Kalau proses ini memang semudah itu, tentu semua Penjaga Desa yang mempelajari “Menembus Ketuhanan” sudah menjadi Dewa Bumi di dunia. Jelas hal itu mustahil.
Aku segera mencoba lagi untuk kedua kalinya, namun sudah pasti gagal lagi. Lalu mencoba ketiga kali, keempat kali, hingga akhirnya aku bahkan lupa sudah berapa kali, tapi tetap saja belum berhasil.
Walaupun penggunaan turun dewa tidak terlalu menguras tenagaku, tapi bila terlalu sering, tubuhku tetap saja menanggung beban berat. Seusai kegagalan berikutnya, aku berniat keluar sebentar untuk menghirup udara segar.
Namun, ketika hendak menyimpan kembali Lembar Memohon Dewa, aku baru sadar bahwa tubuhku sudah tak sanggup berdiri. Seluruh badanku terasa lemas, mungkin karena sejak tadi aku terus menahan diri, dan begitu sedikit saja aku rileks, rasa lelah langsung membanjiri tubuhku. Kepalaku terasa berat dan pandanganku mulai mengabur.
Entah itu hanya perasaanku atau apa, saat aku hampir terjatuh ke atas meja, tiba-tiba sosok yang sangat kukenal muncul di hadapanku. Lalu, suasana di sekitarku mulai berubah semakin nyata.
Beberapa saat kemudian, di depanku telah hadir sebilah peti mati. Di atas peti mati itu, sosok yang sudah sangat kukenal itu menatapku dengan tenang.