Bab 92: Bayangan Merah di Atas Gunung
Tentu saja, semua ini hanyalah dugaan dari pihakku. Bagaimanapun juga, penjaga desa memang bertugas menjaga roh desa, jadi ketika terjadi hal seperti ini, merekalah yang paling dulu terkena akibatnya, karena penjaga desa memang ditakdirkan menjadi pelindung dari segala bencana yang menimpa desa tersebut. Aku hanya bisa menganggap kejadian ini sebagai sebuah pengecualian.
Tak lama kemudian, aku mengikuti Xuer ke rumahnya. Rumahnya kini telah dipenuhi kain putih berkabung, dan di depan pintu terdapat sebuah peti mati yang kosong. Xuer berkata peti itu disiapkan untuk putrinya, namun sebelum putrinya sempat dimakamkan, jenazahnya dicuri oleh istrinya. Karena itu, peti mati itu dibiarkan teronggok di sana.
Begitu aku melangkah masuk ke rumah Xuer, terdengar suara tangisan seorang perempuan, sesekali diselingi jeritan pilu. Xuer memberitahu bahwa itu adalah istrinya yang kini sudah kehilangan akal sehat.
Xuer membawaku ke kamar tempat istrinya berada. Sekilas kulihat seorang perempuan meringkuk di sudut ruangan, rambutnya berantakan dan tubuhnya gemetar hebat, mulutnya terus-menerus menggumam, “Jangan bunuh aku,” “Maafkan aku,” “Aku tidak sengaja.”
Aku memperhatikannya dengan saksama, namun tak kutemukan keanehan lain pada dirinya, kecuali bau busuk yang menyengat dari seluruh tubuhnya, seperti ada sesuatu yang sedang membusuk.
Aku bertanya pada Xuer, “Istrimu memang selalu seperti ini?”
“Sejak kapan bau busuk itu muncul pada dirinya?”
Xuer berpikir sejenak lalu menjawab, “Sejak pulang dari gunung, ia sudah seperti ini. Aku memaksanya mandi, tapi ia menolak dan terus bertingkah aneh. Bahkan untuk makan saja aku harus memaksa.” Ia menatapku penuh harap, “Tuan Li, apa sebenarnya yang terjadi pada istriku?”
Aku menggeleng pelan, “Untuk saat ini, aku belum menemukan keanehan apapun.”
Ia menghela napas kecewa, “Mungkin ia hanya terlalu ketakutan melihat keadaan tragis putri kami.” Kemudian ia bertanya, “Apa kau mau naik ke gunung untuk melihat-lihat?” Dalam sorot matanya, jelas ia menaruh harapan padaku, namun tampak pula kekhawatiran bila aku merasa tersinggung. Ia buru-buru menambahkan, “Guru Anda bilang, Anda sangat ahli. Jika Anda naik ke gunung, pasti tidak akan terjadi apa-apa. Selain itu... kalau Anda tidak naik, masalah ini tidak akan bisa selesai.”
Mendengar kata-katanya, aku hanya bisa diam. Rupanya Li Bowon memang suka berbicara tanpa pikir panjang.
Namun aku pun tidak bisa membantah, jadi aku meminta Xuer mengantarku ke lokasi yang disebutkannya.
Saat mendekat ke kaki gunung yang dimaksud Xuer, aku mulai merasakan keanehan. Gunung itu tidak terlalu tinggi, mirip dengan Gunung Arwah di Desa Fengling, namun seluruh puncaknya diselimuti kabut tebal yang tampak kelam dan suram. Berdiri di kaki gunung saja sudah membuat perasaan tertekan yang sulit dijelaskan.
Xuer memeluk tubuhnya sendiri, gemetar ketakutan. “Tuan Li, di sinilah tempatnya. Sejak putriku meninggal, gunung ini jadi aneh. Setiap hari diselimuti kabut, dan bila didekati, hawa dinginnya menusuk tulang. Apalagi setelah orang-orang yang menemaniku naik gunung dulu mengalami musibah, gunung ini makin menakutkan. Tidak ada lagi yang berani mendekat. Jadi... Anda akan naik sendiri, kan?”
Aku melirik Xuer tanpa berkata apa-apa. Aku tahu, walau dari mulutnya ia bilang kasihan pada putrinya, emosi yang paling mendominasi dalam dirinya adalah rasa takut.
Tapi itu wajar saja. Siapa pun orang biasa yang mengalami kejadian seperti ini pasti akan mengalami trauma berat seperti istrinya. Xuer sendiri terbilang cukup berani.
Aku tak menggubrisnya lagi dan langsung mulai mendaki gunung itu sendirian.
Begitu aku menginjakkan kaki di lereng, cermin delapan penjuru pemberian Li Bowon mulai bersinar lembut. Bahkan jubah pelindung yang kupakai juga memancarkan cahaya tipis yang mengelilingi tubuhku, memberiku kehangatan.
Dengan dua benda itu melindungiku, aku pun mulai menapaki jalan setapak menuju ke atas. Suasana di gunung sangat sunyi, hingga setiap kali aku menginjak rerumputan liar, suara itu terdengar jelas. Seolah-olah aku sedang berada di ruang hampa, bukan di tengah hutan.
Perasaan seperti ini hanya pernah kualami ketika pertama kali menaiki Gunung Arwah. Meski tidak seberat aura mencekam waktu itu, jelas ada sesuatu yang tidak beres di gunung ini.
Semakin jauh menanjak, cahaya dari cermin delapan penjuru di tubuhku makin terang. Aku mulai merasakan hawa dingin menusuk, hingga akhirnya tiba di lereng tengah gunung dan berhenti.
Di sana, kulihat jejak kaki yang berantakan serta noda-noda darah yang sudah menghitam, menetes dan meluas menuju ke arah hutan, tak jelas di mana ujungnya.
Aku mengikuti jejak darah itu, dan tak lama kemudian sampai di sebuah tumpukan rumput liar. Rumput itu tampak sengaja dirapikan seseorang, tercium bau busuk samar, dan di atasnya kulihat belatung-belatung kecil merayap. Terdapat pula noda darah segar yang menempel.
Aku teringat ucapan Xuer bahwa istrinya dulu membawa jenazah putrinya ke gunung ini, meletakkannya di atas tumpukan rumput, lalu melakukan ritual pemakaman arwah. Tumpukan rumput inilah tempat putrinya “hidup kembali”.
Namun, saat aku berjongkok hendak memeriksanya, cermin delapan penjuru yang kupakai tiba-tiba bergetar hebat. Seketika aku merasa ada hawa dingin menusuk dari belakang, seperti ada sesuatu yang sedang menatapku tajam.
Refleks aku menoleh, sekilas kulihat bayangan merah melintas cepat.
Aku terkejut, tapi teringat ucapan Xuer bahwa setelah putrinya dibawa ke sini, istrinya mengenakannya gaun merah. Aku pun segera mengejar bayangan itu.
Di saat itulah aku menyadari satu hal penting: putrinya kemungkinan bukan lagi menjadi arwah gentayangan, tapi berubah menjadi makhluk hidup tanpa jiwa—seperti mayat berjalan.
Karena jika benar ia adalah arwah, aku pun tidak akan bisa melihatnya, sama seperti ketika aku bersama Li Bowon menjumpai arwah-arwah di rumah makan itu—tanpa bantuan Li Bowon, satu pun tidak bisa kulihat. Berdasarkan cerita Xuer, kemungkinan besar putrinya memang menjadi salah satu makhluk hidup tanpa jiwa.
Namun usahaku mengejar bayangan merah itu tak membuahkan hasil. Di rerumputan liar, hanya tertinggal jejak kaki berlumuran darah, yang tak lama kemudian menghilang begitu saja.
Hal ini membuat hatiku mulai diliputi kecemasan.
Aku pernah berhadapan dengan mayat hidup sebelumnya, bahkan menghadapi mayat hidup jenis terbang bersama Li Bowon. Namun, sekalipun mayat hidup terbang itu sudah memiliki kesadaran diri, tetap saja mereka tampak canggung dan jauh berbeda dengan manusia.
Kali ini, aku justru merasakan sesuatu yang ganjil—seolah-olah putri Xuer benar-benar berubah menjadi makhluk hidup tanpa jiwa, namun perilakunya sangat mirip manusia. Kalau tidak, mengapa ia begitu pandai bersembunyi dan menghindariku?
Setelah sekian lama mencari, aku tak kunjung menemukan bayangan merah itu. Ketika aku kembali ke tempat tumpukan rumput tadi, tumpukan itu sudah lenyap tanpa jejak.
Jantungku langsung berdegup kencang.
Saat itu juga, aku sadar bahwa kejadian ini jauh lebih aneh dari semua yang pernah kualami. Aku pun tak berani berlama-lama di sana, dan dengan perasaan waswas segera berlari turun gunung, sementara cermin delapan penjuru terus memancarkan cahaya terang, membuatku merasa seolah ada sepasang mata yang tak henti-hentinya mengawasi.