Bab 38: Namaku Qi Tian, Akulah Qi Tian
“Meskipun aku tidak tahu apa itu Monyet Shen...”
“Monyet Shen itu sebenarnya makhluk apa, tapi...”
“Tapi aku tahu, saat ayahku memberiku nama ini… adalah…”
“Agar aku menjadi…”
“Dewa Monyet!!!”
Suara monyet itu masih lemah, namun ketika ia berkata sampai akhir, suara serak itu berubah menjadi raungan rendah!
Di saat itu, seolah-olah ketakutannya telah benar-benar lenyap, yang tersisa dalam benaknya hanyalah satu tekad.
Bunuh mereka.
Bunuh...
Bunuh semua orang yang menyakiti Tongtong!
Selama ini, energi panas yang selalu terasa tak cocok dengan dirinya, kini tiba-tiba menyatu dengan sempurna!
Dalam bayang-bayang kesadarannya, ia seakan melihat sebuah pintu.
Bersinar megah dan indah!
Di atasnya tertulis... 'Langit Selatan'!
Angkuh, tak gentar...
Perasaan yang tak bisa dijelaskan tumbuh dalam dirinya!
“Sendirian pun dapat menapaki puncak langit, menertawakan segala makhluk hina di angkasa.”
“Namaku Qi Tian, akulah Qi Tian.”
“Qi Tian—Tongkat menari di cakrawala.”
Raungan parau keluar dari mulut monyet itu.
Sosok bayangan berdiri angkuh di belakangnya.
Meski hanya samar-samar terlihat dari belakang, namun sekali memandangnya saja sudah membuat hati bergetar!
Sebuah tongkat besi terbuat dari cahaya berada di genggaman monyet itu, dan di detik berikutnya ia melompat tinggi, menghantamkan tongkat ke arah Tikus Zi.
Melihat bayangan di belakang monyet itu, mata Tikus Zi dipenuhi ketakutan.
Namun ketakutan itu bukan ditujukan pada monyet itu, melainkan pada bayangan tersebut.
“Itu...”
“Itu masih hidup!”
“Tidak!”
“Tidak mungkin ia masih hidup!”
“Tidak mungkin, mustahil!”
Saat tongkat itu hampir menghantam dirinya, Tikus Zi melangkah di atas bayangan, menghilang lagi dari tempat semula.
Lantai hancur berkeping!
Tikus Zi muncul beberapa meter jauhnya, tetap dalam keadaan terkejut.
“Jika mampu memberi berkah...”
“Itu artinya...”
“Itu artinya ia masih hidup.”
“Ternyata dia adalah penerima berkah dari sosok itu, jika... jika dia diberi kesempatan...”
“Kekuatannya... kekuatannya bisa melampauiku.”
“Tidak!”
“Aku tak boleh memberinya masa depan!”
“Aku juga tidak boleh membiarkan sosok itu bangkit!!!”
Begitu Tikus Zi tersadar kembali dan memandang monyet itu, matanya kini sepenuhnya dipenuhi niat membunuh tanpa keraguan!
Ia ketakutan!
Takut jika monyet itu diberi peluang untuk tumbuh!
Takut jika sosok itu akan bangkit kembali!
“Sayang sekali...”
“Kau bahkan belum mengerti seperseribu pun dari kekuatannya.”
“Kalau tidak, hari ini mungkin akulah yang mati.”
Bersamaan dengan gumaman itu, ekspresi Tikus Zi menjadi serius. Uap hitam pekat melingkar di pergelangan tangannya, dan bayangan di bawah kakinya pun semakin melebar.
Menghadapi monyet yang kembali menyerangnya, kali ini ia tidak mundur, melainkan menggunakan uap hitam itu sebagai cambuk, menghadangnya di depan.
Begitu tongkat besi tertahan, bayangan di belakangnya berubah menjadi seekor tikus raksasa, seketika melompat keluar dari kegelapan, menerkam monyet itu, membuka mulutnya lebar-lebar, lalu menggigit keras.
Darah memercik.
Dada monyet itu berlumuran darah, nyaris tak berbentuk.
“Kekuatan Dewa, bukan untuk digunakan seperti itu.”
Tikus Zi terkekeh, matanya memancarkan kenikmatan: “Tak kusangka... akhirnya aku punya kesempatan membunuhnya!”
“Walaupun hanya secercah kesadarannya!”
“Hahahahaha!”
Di tengah tawa gilanya, gigitan tikus raksasa itu semakin kuat!
Monyet itu terjatuh, meraung pelan, matanya yang memerah menatap tajam ke arah Tongtong yang masih digenggam Wang Qiusheng.
“Lepas...”
“Lepaskan dia!!!”
Energi panas dalam tubuh monyet terus bergolak, kekuatannya melonjak, hingga akhirnya ia melepaskan diri dari cengkeraman tikus raksasa itu.
Ia terhuyung mencoba bangkit, namun tak mampu.
“Bodoh sekali manusia fana.”
“Sungguh sia-sia... energi itu padamu...”
Tikus Zi menatap rakus ke bayangan samar di belakang monyet, lalu tikus raksasa itu menerkam lagi.
Saat itu, bayangan samar itu tampak bergerak pelan.
“Setelah ribuan tahun...”
“Ia masih mampu...”
Mata Tikus Zi membelalak.
Bayangan itu, perlahan mengangkat tangan kanannya, seolah menembus waktu dan ruang, menyentuh tikus raksasa itu.
Bayangan itu hancur berkeping!
Tikus Zi melarikan diri ketakutan.
Namun secepat itu pula, kerakusan dalam dirinya mengalahkan rasa takutnya. Ia melangkah maju dengan wajah pucat, dari tubuhnya mengepul asap hitam, membentuk pusaran kecil yang terus menerus melahap bayangan itu.
Seiring jari itu jatuh, bayangan itu kehilangan kekuatannya, hanya bisa perlahan menghilang ditelan pusaran di udara.
Wajah Tikus Zi memerah, tampak begitu bersemangat.
“Jadi...”
“Jadi inilah rasa dari energi itu!”
Tubuhnya bergetar hebat, ia menatap monyet yang tergeletak dalam genangan darah, tak bergerak sedikit pun, lalu menyeringai dengan penuh penghinaan: “Tak kusangka, kau bisa membangkitkan ‘Kesadaran’ sebelum mati! Mati pun, kau patut bangga.”
Kini, wajah Tikus Zi semakin menyerupai seekor tikus.
Ia menjilat bibirnya dengan penuh nafsu, seolah belum puas.
“Mungkin...”
“Dunia manusia sekarang, bagiku, laksana surga!”
“Ayo pergi!”
“Nanti, setelah aku benar-benar menyerap energi ‘kesadaran’ ini, aku akan menunggu si ‘Gila’ itu datang!”
Tikus Zi tertawa terbahak-bahak, lalu berbalik dan pergi dengan langkah lebar.
Wang Qiusheng yang masih menggenggam Tongtong, mengikuti di belakangnya dengan wajah penuh keterkejutan. Baru hari ini ia benar-benar melihat kekuatan seorang dewa!
Orang-orang yang terluka di lantai pun berdiri tertatih dan segera menyingkir.
Tersisa hanya monyet itu...
Tergolek kesepian dalam genangan darah yang merah menyala.
Merah yang perlahan mengembang di lantai, bagai mawar yang sedang mekar.
Orang-orang yang tadinya bersembunyi kini mendekat dengan hati-hati, ada yang menelepon polisi, ada yang memotret, suasana menjadi riuh.
“Dia bergerak!”
“Dia bergerak!”
Seorang warga melihat tubuh di lantai, tiba-tiba berteriak kaget.
Semua orang panik dan mundur!
“Gila... gila...”
“Cepat panggil...”
“Panggil si Gila...”
Monyet itu bergumam tak sadar, berusaha membuka matanya yang berlumuran darah.
“Jalan Hitam...”
“Pergi ke Jalan Hitam...”
“Aku... aku belum... belum boleh mati...”
Di saat itu, hanya satu pikiran yang tersisa dalam kepalanya.
Energi panas dalam tubuhnya sudah sangat lemah, hampir padam, namun itu satu-satunya penopang terakhirnya.
Ia merangkak di lantai, tangan kanan terangkat gemetar, mencengkeram lantai di depannya, menyeret tubuhnya maju perlahan.
Batu-batu kecil terus menggores kulitnya, dan lantai meninggalkan jejak darah merah panjang.
“Jalan Hitam...”
“Tolong... kumohon...”
“Bawa aku... bawa aku...”
“Ke Jalan Hitam...”
“Klinik Huangquan... Klinik Huangquan...”
Merasakan kondisinya yang semakin buruk dan hidupnya yang perlahan menghilang, monyet itu tiba-tiba dilanda ketakutan.
Padahal ia hampir mati, tapi ketakutan yang dirasakannya...
Bukan karena kehilangan nyawa.
Bagi seorang pengecut...
Ini adalah lelucon terbesar dalam hidupnya.
Pengecut bagai tikus, tapi menjadi Dewa Monyet.
Wajah penuh wibawa, namun bersembunyi dalam kegelapan.