Bab Empat Belas: Aku Harus Menikah Dengannya

Mantan Istri Menjadi Cinta Baru Bawa Xiao Li 1110kata 2026-02-08 05:01:41

“Halo? Huanhuan?” Suara Ayah Yudzhenguo terdengar ceria dan penuh kebahagiaan.

“Halo... Ayah...” Yuhuan menjawab sambil menahan tangis, menutup mulutnya erat-erat, takut air mata akan pecah begitu saja.

“Bagaimana hasil pemotretan gaun pengantinmu?” tanya Yudzhenguo dengan penuh perhatian. Kemarin ia sangat sibuk hingga tak sempat menanyakan kabar, jadi hari ini ia menyempatkan diri menelepon putrinya di sela-sela pekerjaannya.

Air mata menetes di antara sela-sela jarinya hingga telapak tangannya basah. Menyadari sang ayah belum mengetahui kejadian antara Shen Yichen dan Joanna, Yuhuan merasa sedikit lega. Ia menahan tangisnya dan berusaha menjawab secara ringan, “Aku tadi ada urusan, jadi tertunda. Nanti saja, Ayah.”

“Kamu ini memang, Nak!” Yudzhenguo menegur dengan nada sedikit manja.

Sejak ia sakit, ia semakin mengkhawatirkan masa depan putrinya. Untunglah ia tahu Yuhuan menyukai putra sahabat lamanya, Shen Yichen, sehingga kekhawatirannya sedikit berkurang.

Bagaimanapun, ia sangat mengenal Shen Yichen luar dalam.

“Ayah... kalau aku menikah dengan Shen Yichen, Ayah akan bahagia sekali, kan?” tanya Yuhuan dengan ragu.

“Tentu saja! Hubungan Ayah dengan Paman Shen sangat dekat, Ayah tahu betul keluarganya seperti apa. Kalau kamu menikah dengan orang lain, Ayah malah tidak akan setuju,” jawab Yudzhenguo penuh keyakinan. Baginya, menjalin ikatan dengan keluarga Shen adalah pilihan terbaik.

“Baiklah, Ayah. Aku mengerti. Aku masih ada urusan, jadi kita bicara lagi nanti.” Mendengar perkataan ayahnya, hati Yuhuan terasa sakit hingga sulit bernapas. Takut tangisnya ketahuan, ia buru-buru mengakhiri percakapan.

Yudzhenguo mengira putrinya malu, lalu tertawa terbahak-bahak sebelum menutup telepon.

Beberapa saat kemudian, Yuhuan tak mampu lagi menahan diri. Ia duduk di jalan setapak, memeluk lutut, lalu menangis sejadi-jadinya, suara tangisnya pecah di keheningan malam.

Di jalan kecil yang gelap dan sepi itu, hanya ada sosok Yuhuan yang rapuh dan tak berdaya, duduk penuh kesedihan, bahunya terguncang, sesenggukan keras menandakan betapa hebat ia menangis.

Jalan yang sudah sunyi dan gelap itu makin terasa menakutkan karena sesekali terdengar tangisan pilu seorang wanita, seolah menambah suasana mistis.

Lama sekali setelah itu, Yuhuan mengangkat wajahnya yang basah air mata dari antara kedua lutut, menatap kosong ke layar ponsel yang sudah gelap.

Tiba-tiba, sebuah pikiran tajam dan menusuk muncul dari lubuk hatinya.

Dengan gerakan kacau dan terburu-buru, Yuhuan menghapus air matanya, lalu mencari sebuah nomor dari buku telepon.

“Halo? Paman Shen? Ini Yuhuan.”

“Huanhuan?” Shen Shiping tampak sangat terkejut saat menerima telepon itu.

“Paman Shen, aku sudah memikirkannya. Aku ingin menikah dengan Shen Yichen. Aku harus menikah dengannya. Tak peduli apa pun yang harus aku hadapi, asalkan bisa menikah dengannya,” suara Yuhuan terdengar tegas, bahkan terselip nada putus asa. Dalam cahaya bulan yang dingin, wajah Yuhuan terlihat pucat. Tubuhnya tampak kecil dan rapuh, seolah mudah diterpa angin, namun raut wajahnya serius, tatapannya tenang dan dingin, seluruh dirinya menunjukkan tekad yang luar biasa.

“Baik, baik, baik! Paman akan segera mengatur semuanya. Kita langsung bertunangan saja, bagaimana menurutmu, Huanhuan?” Shen Shiping sama sekali tidak mempermasalahkan perubahan keputusan Yuhuan. Ia menyambutnya dengan penuh semangat, bahkan suaranya bergetar karena kegembiraan.

“Baik, Paman Shen. Terima kasih sudah merepotkan Anda.” Yuhuan menutup telepon, menengadahkan kepala, menarik napas dalam-dalam, dan matanya kembali dipenuhi tekad yang tak tergoyahkan.