Bab Dua Puluh Tiga: Masih Ada Harapan
"Kalau tidak mau beli, berdiri agak jauh, kalau sampai kotor bisakah kau ganti rugi?" Tiba-tiba, suara tajam memecah suasana di toko. Shen Yichen menoleh dan mendapati seorang pramuniaga sedang berbicara kepada Yu Huan.
Seorang pramuniaga baru berdiri di hadapan Yu Huan, menatapnya dengan pandangan meremehkan dan penuh ketidakpedulian.
Yu Huan mengerutkan kening, menatap pramuniaga yang bersikap angkuh itu, lalu menurunkan suaranya, "Apa yang baru saja kau katakan?"
"Aku bilang..." Pramuniaga itu menegakkan kepala, tampak arogan, hendak melanjutkan kata-katanya, namun manajer toko buru-buru memotong.
"Nona, sungguh maaf, dia masih baru dan belum mengerti aturan. Saya mewakilinya meminta maaf pada Anda." Manajer toko itu segera melangkah mendekat, membungkuk singkat dengan nada lembut penuh penyesalan.
Shen Yichen pun mendekat setelah mendengar itu, dan barulah ia melihat gaun yang dipamerkan oleh manekin.
Yu Huan memperhatikan sebuah gaun tanpa lengan berwarna merah muda dari sutra asli. Gaun itu memiliki detail lipatan berombak mulai dari bahu kiri, membentang miring hingga ujung kanan bawah, menyerupai untaian pita merah muda bertumpuk dengan lapisan yang jelas. Bagian belakangnya berpotongan V dalam, hampir seluruh punggung terbuka hingga di atas pinggul. Gaun itu memiliki kombinasi lekukan manis dan elegan, sangat cocok untuknya.
Jari panjang Shen Yichen membalik label harga. Harganya tidak terlalu mahal, bahkan sepertiga dari harga gaun Joanna pun tidak sampai.
Namun, perempuan pada dasarnya memang materialistis, pikir Shen Yichen dengan sinis dalam hati. Siapa pun perempuannya, pada akhirnya pasti menyukai pakaian indah dan barang mewah.
"Kau suka?" Shen Yichen mengangkat alis, menanyakan pendapat Yu Huan.
"Tidak," jawab Yu Huan datar, lalu menoleh, tak lagi memedulikan gaun indah itu.
"Kalau kau suka..." Shen Yichen memandangnya, namun kata-katanya terhenti di tengah kalimat.
Yu Huan mendongak, menatapnya lekat-lekat, "Kalau aku bilang suka, apakah kau akan membelikannya untukku?"
Shen Yichen menatap Yu Huan, menemukan secercah harap dari matanya. Ia tersenyum meremehkan, kini semakin yakin akan pendapatnya. Di matanya, perempuan di depannya ini sama saja dengan perempuan lain di dunia: penuh keinginan, mata duitan, dan serakah.
Detak jantung Yu Huan perlahan meningkat, rasa gugup tak dapat ia sembunyikan, menatap Shen Yichen tanpa berkedip, menunggu jawaban darinya. Sebenarnya, yang ia butuhkan hanyalah sebuah kalimat, satu kata yang bisa membuatnya bahagia. Meskipun Shen Yichen benar-benar membelikannya, ia pun tidak akan menerima.
Yang ia harapkan hanya cinta dari seseorang, satu kalimat darinya, sedangkan hal lain tidak ada artinya bagi Yu Huan.
Mendapati tatapan penuh harap dari Yu Huan, Shen Yichen tersenyum tipis, membungkuk sedikit, lalu berkata dengan jeda yang jelas, "Kalau kau suka, belilah sendiri."
Hati Yu Huan seketika membeku, cahaya di matanya perlahan meredup hingga padam sama sekali, harapannya lenyap, berganti dengan ketenangan, lalu berubah menjadi kepahitan, dan akhirnya ia tersenyum miris pada dirinya sendiri.
Apa yang sebenarnya ia tunggu? Bukankah ia sudah tahu sejak awal jawaban Shen Yichen? Kenapa masih saja berharap pada pria itu...
Melihat kedua orang yang saling terikat dan tak kunjung selesai itu, Joanna berjalan mendekat, mengaitkan lengan Shen Yichen, lalu berkata lembut, "Yichen, sepertinya Nona Yu sangat menyukai gaun itu. Mengapa tidak kau belikan untuknya? Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena hari ini ia sudah membantuku membawa barang-barang." Senyum tipis mengembang di wajahnya, tampak tulus, namun matanya penuh kepalsuan.
—
Sahabat semua, jangan lupa simpan cerita ini, berikan kopi, bunga, dan komentar ya. Aku benar-benar butuh semangat...
Sahabat, mohon simpan cerita ini, mohon benar-benar disimpan. Hari ini, rakyat biasa pun benar-benar suka menyimpan cerita!