Bab tiga puluh enam: Tidak tahu diri, sombong dan angkuh
Zheng Guanchi baru saja kembali dari luar, menyerahkan kotak makanan di tangannya kepada Yan Jingtang, lalu bertanya dengan heran, “Kakak senior, pasien tadi itu sebenarnya kenapa?”
Ia khawatir Yan Jingtang tidak sempat makan, jadi sengaja membelikan makanan untuknya. Namun, baru saja sampai, ia sudah melihat wajah Yan Jingtang tampak tidak senang.
Yan Jingtang berkata, “Jangan dibicarakan lagi, hanya orang gila yang pura-pura sakit. Kalau benar seperti gejala yang dia sebutkan, dia sudah mati delapan ratus kali.”
Mendengar itu, Zheng Guanchi langsung merasa bersalah.
“Maaf, kakak senior, dia ngotot ingin berobat. Aku takut dia benar-benar punya penyakit serius, kalau sampai tertunda, guru pasti akan menyalahkan. Karena itu aku membawanya masuk, tak menyangka bakal begini, maaf sudah merepotkanmu,” kata Zheng Guanchi.
Yan Jingtang mengibaskan tangan, “Ini bukan salahmu juga, kenapa minta maaf? Walau pagi tadi kamu menahannya, sore dia pasti datang lagi. Sama saja, bukan?”
Mendengar Yan Jingtang tidak menyalahkannya, Zheng Guanchi pun jadi lega.
Saat ini, ia benar-benar mengagumi Yan Jingtang. Kalau sampai ia menyebabkan masalah untuk Yan Jingtang, dirinya sendiri pun takkan bisa memaafkan.
Yan Jingtang sudah sangat paham dengan kepribadian Zheng Guanchi. Melihat Zheng Guanchi masih memandanginya, ia lalu mengalihkan topik, “Kamu sudah makan belum? Sore nanti, paman guru memintamu ikut menemaninya di poliklinik. Kalau dia mengujimu, jangan sampai kamu tak bisa menjawab.”
Mendengar itu, perhatian Zheng Guanchi langsung teralihkan.
Wajahnya langsung berubah muram, seperti ayam jantan kalah bertarung. Dengan lesu ia berkata, “Habis sudah aku, benar-benar habis. Padahal aku ingin lebih lama di apotek.”
Yan Jingtang tertawa, lalu berkata, “Santai saja. Paman guru memang agak ketat, tapi itu demi tanggung jawab pada pasien. Kamu murid langsungnya, bisa bertahan sedekat ini dengannya sudah pasti kamu tidak buruk. Jangan suka menakuti dirimu sendiri.”
Dari apa yang pernah diutarakan Zeng Shiqin pada Yan Jingtang, Zheng Guanchi sebenarnya punya dasar yang sangat kuat, hanya saja ia terlalu mudah meragukan diri sendiri, selalu merasa dirinya tak bisa apa-apa. Apalagi setelah pernah gagal mendiagnosis pasien, ia jadi ingin seumur hidup bersembunyi di apotek saja.
Untuk pemikiran seperti itu, bukan hanya Zeng Shiqin, bahkan Yan Jingtang saja merasa sayang sekali mendengarnya.
Zheng Guanchi berkata, “Kakak senior, andai aku punya bakat sepertimu, aku pasti tak akan serendah diri ini.”
Yan Jingtang hanya bisa tertawa pahit mendengarnya. “Tidak seperti itu, aku bukan jadi kakak senior karena bakat, tapi karena mulai belajar lebih dulu. Kalau kita mulai pada waktu yang sama, belum tentu aku lebih hebat darimu.”
Pada akhirnya, siapapun yang menekuni suatu bidang, pasti bisa menuai hasil.
Dia memang tidak menempuh pendidikan formal, sejak dini sudah terjun ke bidang ini, itulah keunggulannya.
Zheng Guanchi sendiri baru belajar sebentar, sebenarnya sudah lebih baik dari banyak orang.
Hanya saja, gurunya Zeng Shiqin, jadi tekanannya memang sangat besar.
Zheng Guanchi sedikit terhibur oleh kata-kata Yan Jingtang, meski hanya sedikit.
Menghela napas, Zheng Guanchi berkata, “Kakak senior, kamu makan dulu. Aku mau baca buku lagi, semoga tidak gagal terlalu parah.”
Setelah Zheng Guanchi pergi, Yan Jingtang pun mulai makan dengan tenang.
Entah mengapa, pikirannya melayang pada Jin Xi. Ia bertanya-tanya, apa yang sedang lelaki itu lakukan? Apakah urusan bisnisnya lancar?
*
Kota Haicheng.
Jin Xi baru saja selesai menghadiri jamuan makan. Begitu masuk mobil, asisten pribadinya, Yuan You, berkata, “Tuan Muda Ketiga, ada kabar, Cheng Yu pergi menemui Nona Yan.”
Begitu mendengar itu, suasana di sekitar Jin Xi langsung mendingin.
“Apa yang dia lakukan?” tanya Jin Xi.
Yuan You menjawab, “Dia pura-pura jadi pasien, minta Nona Yan memeriksanya. Tidak jelas apa yang dibicarakan, tapi tak sampai beberapa menit, Nona Yan langsung mengusirnya pergi.”
Jin Xi mendengarnya lalu terkekeh pelan.
Rupanya, Tang-tang miliknya memang bukan gadis yang mudah dipermainkan. Kalau Cheng Yu benar-benar ingin berbuat sesuatu pada Yan Jingtang, sepertinya dia juga takkan mendapat untung.
Namun, meski begitu, tatapan Jin Xi tetap dingin.
Ia berkata, “Suruh orang di sana lebih waspada, jangan biarkan dia punya kesempatan mendekati Tang-tang.”
“Baik, Tuan Muda Ketiga,” jawab Yuan You, langsung mengatur semuanya.
Jin Xi membuka ponsel, membuka aplikasi pesan, gambar profil Yan Jingtang ada di urutan paling atas, namun pesan terakhir sudah dua hari lalu.
Setelah mendarat di Bandara Haicheng, ia mengirimi Yan Jingtang pesan. Yan Jingtang hanya membalas agar ia cepat istirahat, lalu tidak ada lagi kabar.
Jin Xi benar-benar tak berdaya. Gadis ini, benar-benar tak sedikit pun merindukannya. Kalau ia tak menghubungi lebih dulu, Yan Jingtang sama sekali takkan mengirim pesan.
Dengan perasaan kesal, Jin Xi mematikan ponselnya.
Ia memandang Yuan You, lalu berkata, “Percepat jadwal setelah ini, besok aku pulang ke Ningcheng, sisa urusan kau yang tangani.”
Yuan You agak terkejut, sebab kerja sama dengan Haicheng kali ini sangatlah penting.
Biasanya, urusan sepenting ini Jin Xi selalu turun tangan langsung. Kini ia ingin lepas tangan.
Tentu saja Yuan You tidak menanyakan alasan Jin Xi begitu ingin cepat kembali ke Ningcheng. Jawabannya sudah sangat jelas, menanyakannya hanya buang-buang waktu.
Yuan You berkata, “Kalau begitu, biar aku telepon kakakku, suruh dia pulang duluan ke Ningcheng.”
Jin Xi berkata, “Tidak perlu, biarkan dia selesaikan urusannya dulu.”
Sejak pertengahan tahun, Yuan Zuo sudah ke luar negeri. Selama ini, Yuan You yang menemani Jin Xi. Kini Jin Xi ingin pulang lebih awal ke Ningcheng, Yuan You berpikir sejenak lalu berkata, “Kalau begitu, aku tambah personel pengamanan.”
Jin Xi hanya bisa menghela napas, “Kalian berdua, bisakah jangan memperlakukanku seperti bayi raksasa? Kejadian waktu itu hanya kecelakaan, jangan semua tanggung jawab kalian pikul sendiri.”
Yuan You tidak berkata apa-apa. Ia tahu, meski Jin Xi bicara seperti itu, tapi kejadian yang hampir merenggut nyawa Jin Xi waktu itu memang kesalahan dirinya dan Yuan Zuo.
Meski Jin Xi tidak menyalahkan mereka, kedua bersaudara itu pun tak pernah memaafkan diri sendiri.
Jin Xi berkata, “Kalau kalian terus begini, akan kukirim kalian berdua keluar, lihat saja apakah aku masih akan celaka?”
Yuan You langsung berkata, “Tuan Muda Ketiga, Nona Yan masih menunggu Anda.”
Jin Xi hampir saja dibuat kesal. Orang ini memang pandai mengalihkan perhatian, tahu bahwa kini ia sepenuhnya memikirkan Yan Jingtang, dan sekarang malah menyebutkan namanya.
Jin Xi berkata, “Daripada mengkhawatirkanku, lebih baik kalian berdua lindungi Tang-tang dengan baik, mengerti?”
Yuan You langsung menjawab, “Saya mengerti.”
Yuan You mengira dirinya sudah sangat memahami posisi Yan Jingtang di hati Jin Xi, namun tampaknya, perempuan itu bahkan lebih penting dari dugaannya.
Sepertinya, ia harus lebih menekankan pada orang-orang di bawahnya, selama Jin Xi tidak di Ningcheng, mereka harus menjaga Yan Jingtang dengan baik, jangan sampai saudara Cheng mengganggunya.
Kalau sampai terjadi sesuatu pada Yan Jingtang, mereka semua pasti akan kena getahnya.
Namun, semakin khawatir terhadap sesuatu, justru semakin besar kemungkinan hal itu terjadi.
Yuan You berpikir, setelah sampai hotel, ia akan segera menelepon untuk mengatur semuanya. Siapa sangka, baru saja mobilnya berhenti, ia sudah menerima sebuah foto.
Setelah membuka dan melihatnya, Yuan You hampir saja pingsan.
Jin Xi menyadari ada yang tidak beres pada Yuan You, lalu bertanya curiga, “Ada apa? Ada masalah?”
Yuan You mana berani menyembunyikan, segera menyerahkan ponselnya.
Benar saja, ketika Jin Xi melihat isi foto itu, ia menggertakkan gigi dan berkata dingin, “Ke bandara sekarang, kita pulang ke Ningcheng malam ini juga.”