Bab Sebelas: Keanehan
“Maju! Habisi dia!” Begitu perintah pemuda kekar itu terucap, tiga orang langsung menerjang ke depan.
Ye Ming Shang menggeleng pelan, lalu dengan santai menaruh kedua tangan di belakang punggungnya. Lutut kanannya diangkat dan langsung menghantam perut salah satu pemuda, membuat pemuda itu terbungkuk sambil memegangi perutnya dan jatuh berlutut ke tanah.
Setelah itu, kaki kanannya menghantam bahu kiri, lalu berputar kuat ke arah kanan bawah dan menghantam leher pemuda kedua. Pemuda itu kehilangan keseimbangan, berputar di udara sebelum jatuh terhempas.
Melihat itu, pemuda terakhir pun ketakutan, namun ia sudah terlanjur bergerak dan tak mungkin mundur. Dengan masih menggunakan kaki kanan, Ye Ming Shang menendang dagunya hingga pemuda itu tersungkur.
Dalam sekejap, tiga pemuda bertubuh tegap itu semua tumbang dengan mudah. Pemandangan ini jauh lebih mengejutkan dibandingkan ketika ia menjatuhkan antek sebelumnya hanya dengan satu pukulan.
“Gila, ini syuting film aksi ya?”
“Gerakannya keren banget!”
“Kakak, mau nerima murid nggak?”
Kerumunan mulai bersorak, membuat wajah si pemuda kekar jadi makin kelam. Keempat orang itu adalah teman dekatnya, yang selalu ia ajak saat ada perkelahian. Mereka sudah terkenal licik, biasanya dua lawan satu pun bukan masalah.
Tak disangka mereka bisa dikalahkan begitu mudah oleh si wajah tirus seperti peti mati ini?
“Masih ada satu lagi! Cepat maju!” teriak seorang laki-laki dari kerumunan.
“Eh?” Pemuda kekar itu pun langsung sadar diri. Melihat Ye Ming Shang yang menatapnya dengan tenang, keringat dingin langsung mengucur di dahinya.
“Hehe! Teman, kau hebat sekali. Ibuku manggil aku pulang makan. Aku duluan ya, haha!” Dengan senyum lebih mirip tangisan, ia pun kabur secepatnya.
Hening...
“Haha, tolol banget sih dia!”
“Orang ini sengaja bikin kita tertawa ya? Aduh, ngakak abis!”
“Aduh perutku sakit, haha!”
Ye Ming Shang hanya menggeleng dan pergi dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa.
“Hebat juga, kukira cuma jago ilmu gaib, ternyata fisik juga mantap. Menarik sekali.” Sebuah suara aneh terdengar dari balik bayangan.
Tak ada lagi minat untuk bersantai, Ye Ming Shang pun kembali ke asrama untuk beristirahat.
Malam berlalu tanpa kejadian berarti, dan keesokan pagi Ye Ming Shang sudah berangkat kuliah. Ia memang menyukai mata kuliah dari dosen itu.
Kali ini ia datang terlalu pagi, dosen pun belum tiba. Namun beberapa mahasiswi yang diam-diam mengaguminya sudah lebih dulu hadir, wajah mereka memerah menanti kedatangan si pria tampan berwajah dingin itu.
“Itu dia datang!”
“Wah, ganteng banget beneran.”
“Lihat, dia melihatku. Malu deh.”
“Jangan narsis, jelas-jelas dia lihat aku.”
“Halo,” sapa Ye Ming Shang dengan suara datar dan dingin.
“Dia menyapaku! Pasti dia jatuh cinta padaku. Apa aku harus menerima cintanya?”
“Duh, mimpi saja!”
Tak ingin banyak bicara, Ye Ming Shang duduk di kursinya dan menunggu pelajaran dimulai.
Ia tetap diam di tempat, sedangkan para gadis makin ramai mengambil foto secara diam-diam. Namun, siapa pun yang berani meminta foto bersama, langsung dihindarinya.
Tak lama kemudian, kelas mulai dipenuhi orang.
Ye Ming Shang juga melihat pemuda kekar dari kemarin, dan setelah bertanya, baru tahu kalau ternyata dia adalah Xu Sheng. Sepertinya Zhi Mu sudah memperkirakan semua ini akan terjadi.
Namun, dosen kali ini bukan yang kemarin, melainkan seorang wanita muda berwajah dingin. Raut mukanya yang tirus bak peti mati bisa disejajarkan dengan Ye Ming Shang.
Walaupun masih muda dan cantik, tak ada satu pun mahasiswa laki-laki yang berani bercanda padanya, apalagi dosen lain yang berani mencoba mendekatinya. Konon, pernah ada mahasiswa yang berlaku tak sopan padanya, dan tak lama kemudian meninggal secara misterius, dengan cara mengenaskan yang mustahil dilakukan manusia.
Begitu melihat wanita es itu, mata Ye Ming Shang langsung menajam. Ia bukannya tertarik, melainkan merasakan sesuatu yang aneh dari tubuh wanita itu. Ada aura yang membuatnya merasa...ganjil. Ya, kata itulah yang tepat, perasaan aneh yang membuat Ye Ming Shang tak bisa menahan diri untuk memperhatikannya lebih lama.
“Hmm? Kau, dengar penjelasanku atau tidak? Kalau tak mau dengar, keluar! Aku tak suka tatapanmu yang menyebalkan itu!” Dosen wanita itu menegur keras Ye Ming Shang.
Ye Ming Shang tak menjawab, hanya menyilangkan kedua tangan di depan dada dan menatapnya tajam.
“Keluar! Kau laki-laki mesum menjijikkan!” Dosen itu menunjuk Ye Ming Shang dan memarahinya.
Para mahasiswa mulai berbisik, ada yang bilang Ye Ming Shang naksir dosen es itu, ada pula yang bilang dosennya akan segera jatuh cinta. Perbincangan itu malah membuat wajah sang dosen makin kelam, hendak melanjutkan makian, namun Ye Ming Shang lebih dulu bicara.
“Diam.”
Nada Ye Ming Shang datar dan tenang.
Dosen itu gemetar menahan marah. “Sungguh tak tahu sopan santun! Apa kau tak pernah diajari tata krama? Minta maaf padaku sekarang juga!”
“Aku...tidak suka padamu.”
“Kau! Baiklah, aku akan laporkan kau ke kepala sekolah agar dipecat, dasar lelaki bejat!”
Dosen itu pergi dengan marah membara.
Begitu dosen keluar, seisi kelas langsung gaduh. Semua bersorak dan berlarian.
“Gila, bro, kau keren banget!”
“Aku, Tie Dan, seumur hidup belum pernah kagum sama siapa pun, tapi hari ini kau pengecualian.”
“Jangan-jangan Kak Ye pacaran sama Bu Guru Es? Terus aku gimana dong?”
“Kok rasanya bakal ada masalah ya.”
“Dua-duanya muka peti mati, satu kalem satu meledak-ledak. Cocok banget sih!”
“Setuju.”
Ye Ming Shang tidak peduli dengan segala komentar itu. Pelajaran hari ini kacau, ia pun keluar kelas dengan rasa tidak puas.
“Perasaan aneh itu sebenarnya apa? Bukan aura siluman, bukan aura hantu, apalagi aura jahat. Tapi rasanya sangat mencurigakan, sebenarnya benda apa itu...”
Keluar dari kampus, Ye Ming Shang mencari sebuah kafe, memesan segelas lemon dan duduk melamun. Sejak menerima tugas, bertemu kucing siluman hingga dosen es yang aneh, semuanya terasa penuh kejanggalan.
Sekilas tampak tak berhubungan, tapi jika dipikir dalam-dalam, seperti ada benang merah yang mengikat semuanya. Siapa sebenarnya pengirim surat misterius itu? Apa makna kucing siluman itu? Lalu apa rahasia dosen es itu?
Semua teka-teki itu terus membebani pikiran Ye Ming Shang. Jika harus melawan musuh, bahkan empat Raja Suci pun tak akan ia takuti. Namun, ia paling benci perasaan dijadikan pion, digiring langkah demi langkah oleh kehendak orang lain.
“Tuan Guru, akhirnya kutemukan Anda!” Saat ia sedang melamun, suara laki-laki yang agak familiar terdengar.
“Kau?” Ye Ming Shang mengerutkan dahi.
Pemuda itu berumur sekitar dua puluh, tubuh sedang, wajah biasa saja tapi tampak bersemangat. Namun, ia mengenakan baju pasien rumah sakit, kepala berbalut perban.
Itulah Qiao An, begitu masuk semua mata langsung tertuju padanya.
“Siapa tuh orang, pasien RSJ?”
“Ini gaya fashion terbaru ya? Hahaha...”
“Seniman jalanan?”
Orang-orang hanya bisa menggerutu dalam hati.
“Tuan Guru, akhirnya aku menemukan Anda. Tolong terimalah aku jadi murid. Aku pasti akan belajar dengan sungguh-sungguh, tak akan mengecewakan Anda.” Qiao An berlutut di depan Ye Ming Shang dengan wajah penuh ketulusan.
Orang-orang baru kini menatap Ye Ming Shang, ekspresi mereka makin aneh.
“Tuan Guru? Mau terima murid? Jangan-jangan sekte sesat?”
“Apa-apaan nih? Penipu?”
“Ini badut yang diundang monyet, ya?”
Ye Ming Shang tidak peduli pada ekspresi mereka ataupun menebak isi hati mereka, ia hanya memandang Qiao An dengan tenang.
“Aku tidak akan mengajarimu.”
“Mengapa?!” Qiao An berteriak.
Namun Ye Ming Shang tak menggubris, ia langsung pergi.
Melihat punggung Ye Ming Shang dan mendengar nada suaranya yang dingin, Qiao An menunduk, bibirnya digigit keras. Beberapa kalimat terus bergema di benaknya.
“Qiao An, kau memang tak berguna.”
“Keluargamu sudah mati, gurumu juga. Sekarang tak ada yang membutuhkanmu, dasar pecundang.”
“Menyerahlah, berhenti bermimpi membalas dendam. Kau takkan bisa apa-apa. Hidup biasa saja sampai mati.”
Qiao An mengepalkan tangan, tubuhnya bergetar. Sampai giginya melukai bibir dan kukunya menggores telapak tangan.
“Eh, orangnya sudah jauh. Kenapa kamu tidak kejar?” bisik seorang gadis dengan suara malu-malu.
Ucapan itu seperti cambuk yang membangunkan Qiao An. Ia mengusir segala pikiran kacau dari kepalanya, mengucapkan terima kasih lalu buru-buru mengejar keluar.
Benar juga, apalah artinya meratapi nasib. Kalau dia pergi, ya kejar saja! Meski tak diterima jadi murid, tetap membuntuti pun tak apa. Asal bisa ikut bersamanya melawan siluman dan iblis, siapa tahu lama-lama bisa belajar sesuatu.
“Apa-apaan sih hari ini...” Ye Ming Shang mengeluh pelan.
Tak suka keramaian, Ye Ming Shang perlahan berjalan ke sebuah taman. Hari ini bukan akhir pekan sehingga taman itu sepi, suasananya cukup tenang.
“Tahu-tahu, kau takkan bisa kabur hari ini!” entah sejak kapan Xu Sheng sudah berdiri di hadapannya.
“Kau mau dihajar lagi?” jawab Ye Ming Shang datar.
Wajah Xu Sheng langsung menghitam.
“Hmph! Masih berani bicara sombong, nanti kutunggu kau minta ampun!”
“Padahal yang selalu minta ampun itu...kau sendiri,” cibir Ye Ming Shang.
“Hmph! Kemarin aku lengah makanya kau lolos. Hari ini, lihat saja apakah kau bisa kabur!” Xu Sheng naik pitam, wajahnya berganti-ganti antara pucat dan merah.
“Semua keluar!” Seketika itu, orang-orang yang tadinya duduk santai di taman mulai mendekat. Beberapa muncul dari balik semak dan pohon.
Ternyata, ada lebih dari lima puluh orang, semuanya membawa tongkat atau senjata sejenis. Beberapa pengunjung lain yang sedang berjalan-jalan pun buru-buru menjauh melihat kerumunan itu.
“Tuan Guru! Tolong terima aku jadi murid!” Xu Sheng baru hendak berkoar, tiba-tiba terdengar teriakan, lalu seorang pemuda berbaju pasien dan kepala berperban berlari mendekat.
“Permisi, permisi!” Pemuda itu memaksa jalan menerobos kerumunan hingga sampai di depan Ye Ming Shang.
“Tuan Guru, tolonglah terima aku! Kalau tidak jadi murid, jadi pengikut juga tak apa. Jadi pesuruh pun kuterima, asal Anda mau mengajari...” Qiao An masih terus merayu, namun tiba-tiba ia sadar suasana di sekitarnya berubah aneh. Ia memandang sekeliling dan matanya membelalak lebar.
“Ini apa-apaan?!”