Bab Satu: Melangkah Menuju Takdir (Bagian Satu)
"Tasku... Tolong kembalikan tasku..." Di pintu keluar yang ramai dan kacau, Simengsi berteriak sambil terburu-buru mengejar orang yang telah merampas tasnya.
Gadis berwajah lembut itu terlihat sangat ketakutan, mengejar si pencopet yang jelas jauh lebih tinggi dan juga berlari lebih cepat darinya. Para pejalan kaki yang melihat pencopet itu berlari membabi buta pun segera menyingkir. Tak satu pun yang membantu Simengsi. Melihat jarak antara dirinya dan pencopet itu semakin jauh, Simengsi semakin cemas dan mempercepat langkahnya.
Namun, sekeras apa pun ia berusaha, orang yang telah merampas tasnya tetap saja menghilang dari pandangannya dalam waktu singkat.
Simengsi segera terhimpit oleh kerumunan orang, kendaraan lalu lalang dengan suara menderu, dan keputusasaan yang dalam menguras habis seluruh tenaganya. Ia perlahan-lahan melorot jatuh ke tanah.
Orang-orang yang berjalan melewatinya hanya menoleh penasaran pada gadis yang terduduk di tanah, lalu melanjutkan perjalanan mereka tanpa peduli.
Simengsi yang kehilangan harapan benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Ponsel, kartu identitas, surat pemberitahuan, dan uang—semua yang tak bisa ia tinggalkan, ada di dalam tas itu. Kini semuanya telah tiada. Dengan apa ia akan melapor ke sekolah?
Duduk terpuruk di tanah, Simengsi benar-benar tak tahu harus ke mana. Air mata ketakutan mengalir deras di pipinya yang tertunduk, lalu membasahi wajahnya hingga berderai.
Air matanya tiba-tiba berhenti, sebab Simengsi melihat tasnya secara ajaib muncul di hadapannya. Di atas tas itu, masih menempel setetes air matanya yang belum kering.
Ia mengucek matanya, sulit percaya—bukan ilusi, itu benar-benar tasnya.
Ketika ia menoleh ke atas dan melihat sosok di depannya, hati dan jiwanya seolah direnggut habis.
Di hadapannya berdiri seorang pria—atau barangkali makhluk gaib. Tatapannya hitam kelam seperti langit malam, bibir merah yang sedikit terangkat seolah tersenyum namun juga tidak, wajahnya begitu pucat dan tegas, memancarkan aura dingin sekaligus penuh pesona, jubah panjang berwarna merah darah yang tampak misterius dan memikat. Yang paling membuat penasaran adalah rambut biru panjangnya yang menjuntai hingga pinggang, berayun lembut diterpa angin, bagaikan lautan yang mempesona siapa saja yang melihatnya.
Apakah ada yang sedang mengadakan pesta topeng? Sampai ia merasa kekurangan oksigen, Simengsi akhirnya sedikit sadar. Ia ingin bicara, namun napasnya terasa berat, dan ia hanya bisa menghirup udara dalam-dalam.
"Dia pantas mati." Suara dingin itu keluar dari mulut pria misterius di depannya.
Simengsi melihat seseorang yang berjenggot berdiri di samping, memandang pria misterius itu dengan tatapan mabuk kepayang.
"Apa?" Simengsi bertanya tanpa sadar.
"Dia mencuri tasmu, jadi dia pantas mati." Begitu kata itu terucap, pria berjenggot itu berubah menjadi kabut darah, tetes demi tetes darah jatuh seperti hujan merah, namun tak setetes pun mengenai Simengsi atau pria misterius itu.
Seolah sedang menonton film fantasi, Simengsi tak tahu di mana dirinya berada, melupakan rasa takut, hanya terpaku menatap kabut darah itu—yang terlihat sangat indah, keindahannya melebihi hujan mana pun.
Baru setelah kabut darah itu benar-benar menghilang, Simengsi perlahan mampu berpikir lagi. Keadaan ini benar-benar seperti mimpi, tapi Simengsi tahu ini bukan mimpi. Ia menggenggam erat tangannya yang membeku, berusaha menenangkan diri meski dirinya selalu dikenal penakut.
"Kau... kau membunuh orang?" Saat teringat hujan indah tadi adalah darah manusia, rasa mual dan takut datang bersamaan, membuat Simengsi merasa pusing.
Pria misterius itu mengeluarkan cahaya merah, yang menyusup masuk ke tubuh Simengsi tepat sebelum ia pingsan.