Bab Tiga: Berselisih Jalan
Di atas singgasana megah di aula utama, duduklah seorang pria. Namun, seberapa keras pun Sekar Mimpi berusaha, ia tetap tak bisa melihat jelas wajah sosok itu.
“Kau harus menungguku,” suara berat pria bayangan itu perlahan terdengar, penuh dengan keangkuhan.
“Siapa kau? Mengapa aku harus menunggumu?” tanya Sekar Mimpi heran.
Tak ada jawaban. Sosok itu perlahan memudar hingga lenyap sama sekali.
Begitu membuka matanya, Sekar Mimpi mendapati dirinya berada di depan gerbang stasiun, duduk di samping tasnya. Ingatannya tersusun ulang—tak ada pencuri, apalagi pria misterius itu. Dalam ingatannya, setelah turun dari kereta, ia memang selalu menunggu temannya di sini. Sekar Mimpi berpikir, ternyata ia sempat tertidur dan bermimpi. Mimpi itu sungguh aneh, ia bahkan berada di istana megah, dan suara pria bayangan yang angkuh itu seolah masih terngiang di telinganya. Perasaan tertekan itu pun belum juga hilang—benar-benar mimpi yang aneh.
Sekar Mimpi memperhatikan kota ini dengan saksama. Gedung-gedung tinggi yang asing membuatnya merasa kebingungan. Ia melirik sekeliling, semua bangunan dan wajah yang tak dikenalnya, tiba-tiba rasa sepi menyeruak dalam hatinya.
Ia memandang orang-orang yang lalu lalang dengan langkah tergesa, masing-masing dengan tujuannya sendiri.
Orang-orang berjuang demi mereka yang mereka cintai dan yang mencintai mereka, lelah namun bahagia.
Impian Sekar Mimpi sederhana saja: ia hanya ingin ayahnya sembuh, bisa menyelesaikan kuliah, lalu memperoleh pekerjaan yang stabil, agar kedua orang tuanya tak lagi harus bekerja keras, dan dapat menikmati masa tua yang tenang.
“Mimpi!” Suara akrab itu membuyarkan lamunan Sekar Mimpi.
Di tengah lingkungan asing ini, panggilan itu terasa begitu hangat di telinganya. Ia menoleh dan melihat temannya, Awan Petir, berjalan tergesa ke arahnya.
Sekar Mimpi berjalan gembira menghampiri Awan Petir—satu-satunya temannya yang ia kenal di kota perantauan ini.
“Duh!” Tanpa sengaja, Sekar Mimpi menabrak sesuatu karena terlalu fokus pada temannya. Refleks pertamanya adalah berpikir telah menabrak seseorang.
“Maaf!” ujarnya penuh penyesalan.
Tak ada tanggapan. Ia mendongak, hanya melihat punggung seseorang yang telah berlalu pergi.
“Ada apa?” tanya Awan Petir yang baru sampai di sisinya.
“Aku menabrak seseorang. Petir, akhirnya kau datang juga. Kau benar-benar penyelamatku. Kota ini sangat besar, aku sampai agak takut.”
“Maaf, tadi… jalanan macet, jadi aku terlambat,” jawab Awan Petir, sedikit berputar-putar dalam ucapannya, meski Sekar Mimpi tak menyadarinya.
“Kenapa kau jadi sopan begitu?” Sekar Mimpi tertawa, meninju bahu Awan Petir pelan.
“Kau pasti lapar, ya? Aku traktir makan besar!” Awan Petir mengambil tas Sekar Mimpi sambil berjalan membawanya menjauh.
Di tempat mereka berdiri tadi, dua pemuda berjalan datang. Satu tersenyum sinis, satunya lagi berwajah datar. Dua orang yang sangat berbeda itu justru menjadi pemandangan tak terabaikan, sama-sama memandang ke arah kepergian Sekar Mimpi dan Awan Petir.
Pemuda berwajah datar itu memberi salam hormat kecil pada rekannya.
“Tuan, Anda menciptakan mimpi untuknya dengan pikiran Anda sendiri. Tidakkah itu akan membuatnya takut?” tanya Nirmala.
“Meski aku terpaksa harus menghapus kenangan pertemuan kami, aku takut ia akan benar-benar melupakanku. Aku hanya ingin mengingatkannya.” Wajah tampan penuh pesona itu kini dihiasi semburat kesakitan.
Melihat Tuan yang sedih seperti ini, Nirmala ikut merasa perih. Tuan yang agung itu, hanya karena seorang wanita, berani menunjukkan perasaannya. Mungkin Tuan benar-benar telah terpikat olehnya.
“Penampilan kita di dunia manusia ini sebenarnya cukup menarik. Kalau bukan karena takut menarik perhatian manusia di sini, aku lebih suka tampilan kita di Dunia Darah,” ujar pria yang dipanggil Tuan itu sambil kembali menilik penampilannya, sedikit menyesal.
“Tuan Dunia Darah adalah penguasa tertinggi para vampir,” ujar Nirmala bangga.
“Nirmala, kau sadar tidak? Dia sepertinya sudah berubah, tak seperti dulu lagi.” Dulu, dia begitu cerah, bagaikan matahari di hatiku, cahaya yang selalu kurindukan sejak kecil, dan kini masih kucintai.
“Tuan, jangan pikirkan masa lalu. Bukankah Anda sudah menemukannya lagi? Jiwanya masih menyimpan kesadaran, dia pernah berkata akan selalu menunggu Anda,” hibur Nirmala, menenangkan Tuan yang kembali larut dalam kenangan.
“Kali ini, dia tak akan bisa lari lagi, apapun yang terjadi.” Tatapannya penuh keyakinan, pesona liar di matanya membuat angin sepoi berhembus di sekeliling mereka.
Sang Raja Darah, aku sedang menantimu. Bab Tiga: Berselisih Jalan—tamat.