Pendahuluan

Raja Darah, aku sedang menunggumu. Biru Laut yang Menyegarkan 1364kata 2026-03-04 21:39:39

“Kalian... kalian jangan mendekat, Kakak Jue tidak akan membiarkan kalian lolos.” Seorang perempuan terpojok jatuh ke tanah, pakaiannya acak-acakan dan tampak amat nelangsa. Meski rambutnya kusut menutupi wajah, kecantikan lembutnya tetap tampak jelas. Tatapan matanya dipenuhi ketakutan, namun ia berusaha tegar.

“Haha... mana mungkin kami tidak mendekat? Hari ini kau adalah santapan kami. Kami akan menghisap habis darahmu setetes demi setetes, membuat jiwamu lenyap dan musnah dari dunia ini.” Suara bangga penuh kegembiraan itu membuat wajah perempuan itu semakin pucat.

Dua orang yang bicara itu melangkah perlahan mendekatinya, lalu menampakkan taring-taring tajam mereka.

Inilah dunia para vampir. Dalam mata perempuan itu, hanya ada dua taring tajam yang kian memanjang. Ia dicekam ketakutan yang amat sangat.

Seorang wanita memesona berjalan menghampirinya.

“Putri!” Dua vampir yang mengejar perempuan itu menyapa wanita yang datang dengan hormat.

“Mengapa? Masih memikirkan Kakak Jue-mu?” Putri itu mencengkeram wajah perempuan yang malang itu dengan kuku panjangnya. Jari-jarinya menekan kuat, kukunya menancap dalam ke kulit wajah perempuan itu, hingga darah merah mengalir di sepanjang luka yang tergores.

“Kakak Jue pasti akan mencariku. Sebaiknya kau segera lepaskan aku,” ucap perempuan itu dengan suara bergetar, menyimpan secercah harapan.

“Kau kira Kakak Jue-mu masih sempat mengurusi dirimu?” Putri itu menatapnya dengan nada mengejek. “Mari kulihatkan padamu apa yang sedang dilakukan Kakak Jue-mu.”

Putri itu mengulurkan tangan, dan sebuah cermin tiba-tiba muncul di udara.

Di dalam cermin, terpampang tempat yang sangat dikenali perempuan itu. Suara desahan dan erangan terdengar samar dari dalam cermin, dua bayangan tubuh yang saling bergulung membuat wajah yang amat dikenalnya terpantul samar.

“Huang, katanya si ekor kecilmu akan menjadi Ratu Darahmu, benarkah itu?” Suara manis menggoda keluar dari cermin.

“Katanya... apa benar?” Suara malas yang amat akrab terdengar.

“Lalu, kau mencintainya?” Suara menggemaskan itu terus mendesak.

Melihat wajah yang terukir dalam ingatan di dalam cermin, meski hanya tampak dari samping, perempuan itu tetap terpesona. Ia pun menjadi tegang, bahkan lebih ingin tahu jawabannya daripada siapa pun. Tangan mungilnya terkepal erat, matanya tak berkedip menatap orang di dalam cermin.

“Tidak mencintai. Aku hanya kasihan padanya, makanya kubiarkan ia mengikutiku.”

Jawaban tanpa sedikit pun keraguan itu membuat perempuan yang menatap cermin seolah terhempas ke jurang tak berdasar. Ternyata ia benar-benar tidak mencintainya. Kenyataan yang begitu kejam. Ia menatap kosong laki-laki dalam cermin, sesak yang memenuhi dadanya terasa seperti tersumbat, hingga akhirnya ia terbatuk dan darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Ia sama sekali tak peduli pada darah itu, justru tersenyum tipis. Pada saat mimpi yang ia simpan di hati hancur berkeping, segalanya tak lagi penting. Mau dihisap darahnya, mau jiwanya lenyap, semua diterimanya. Setidaknya, ia tak akan merasakan sakit hati lagi.

Wajah lembut itu dihiasi senyum samar yang melayang, namun kesedihan di matanya tak mampu ia sembunyikan.

“Kalian, cepat habisi dia!” Putri itu mengeluarkan perintah, menatap perempuan lemah itu dengan sinis. Perempuan semudah ini dibohongi masih berani menantangnya, sungguh tak tahu diri.

Taring vampir itu nyaris menancap ke arah perempuan itu.

Perempuan itu mundur beberapa langkah dengan cepat. Kakak Jue tidak mencintainya, jadi apapun tak lagi berarti. Mereka ingin ia lenyap, maka biarlah ia mengabulkan keinginan mereka. Membayangkan taring-taring itu menembus lehernya, rasa mual menyergap. Jika memang harus lenyap, ia ingin memilih caranya sendiri. Ia ingin menghilang dengan kehendak sendiri.

Dengan segenap tenaga, perempuan itu melancarkan sihir hingga api membara menyala di sekeliling tubuhnya.

Seorang laki-laki berwajah jahat bergegas datang, namun yang ia lihat hanyalah wujud transparan perempuan itu yang hampir lenyap.

Tubuh laki-laki itu bergetar hebat, ia dengan cepat menembakkan cahaya merah dari tangannya, membungkus tubuh perempuan itu.

Menatap sosok transparan itu, ia berkata dengan getir, “Bodoh, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Aku akan mengantarmu ke lingkaran reinkarnasi, dan setelah kutemukan kau lagi, aku pasti tak akan melepaskanmu...”

Waktu terus berlalu

Musim berganti

Segala sesuatu berubah

Namun keteguhan hati tetap abadi

...

Raja Darah, aku menantimu _ Prolog selesai!