Bab Dua Puluh Empat: Kaisar Darah Menjadi Guru
Beberapa hari terakhir, cuaca semakin dingin, sama seperti di kampung halaman Simengsi.
Dulu ia pernah bercita-cita saat kuliah nanti bisa pergi ke tempat yang sepanjang tahun seperti musim semi, namun pada akhirnya keinginannya itu tak pernah terwujud. Bahkan, cuaca kini cenderung lebih dingin dari kampung halamannya.
Simengsi menyelipkan tangannya ke dalam saku sambil berjalan menuju gedung perkuliahan.
Teman-temannya duduk berkelompok di atas meja, dan Simengsi tetap melangkah ke kursinya yang biasa ia duduki. Dari kejauhan, Liu Shiqing sudah melambaikan tangan padanya.
“Qing, dingin sekali hari ini!” Simengsi berkata sambil mengusap punggung tangannya yang tampak jelas urat-uratnya.
“Meng, ada apa denganmu?” tanya Liu Shiqing ketika melihat garis-garis merah tua yang timbul di punggung tangan Simengsi.
“Aku juga tak tahu, entah sejak kapan, setiap cuaca dingin, tanganku selalu seperti ini.”
“Kau memang orang yang sangat sensitif.”
Simengsi hendak menjawab, namun ucapannya terhenti oleh suasana kelas yang mendadak hening.
Lengannya dicengkeram Liu Shiqing dengan kuat hingga terasa sakit. Simengsi pun mendongakkan kepala.
Ia seolah memandang ke dalam kabut merah darah, di tengah kabut itu berdiri seorang pria dengan aura jahat yang memikat.
“Aku adalah guru baru kalian yang akan mengajar komputer.”
Suara yang dalam dan menggoda itu terdengar jelas di tengah keheningan kelas.
“Wah, tampan sekali, luar biasa!” Para mahasiswa benar-benar seperti semut yang kegirangan, rasa syukur mereka pada takdir tak terhingga, karena mendapatkan guru yang begitu luar biasa.
Rasa sakit di lengannya menyadarkan Simengsi bahwa Liu Shiqing masih mencengkeramnya, bahkan dengan kekuatan yang semakin bertambah, sementara matanya terpaku pada sosok di atas podium.
“Liu Shiqing, sudah cukup memandangnya, lepaskan aku!” Simengsi akhirnya tak tahan lagi karena rasa sakit.
“Belum... belum cukup,” jawab Liu Shiqing dengan linglung.
“Sadarlah kau!” Simengsi memutar kepala Liu Shiqing dan mengguncang-guncangkannya, “Kau sudah membuat lenganku sakit.”
“Oh, maaf, maaf!” Liu Shiqing buru-buru melepaskan tangannya, tak lagi terlena pada ketampanan sang guru, dan langsung mengusap-usap lengan Simengsi yang tadi ia cengkeram.
“Teman, bukumu jatuh.” Suara berat itu kini terdengar lebih lembut.
Keduanya menahan napas mendengar suara itu.
Mereka menatap sosok itu yang membungkuk, memungut buku yang jatuh dengan gerakan yang begitu anggun dan alami.
Buku itu lalu diletakkan di meja Simengsi.
Adegan yang hampir sama seperti sebelumnya kembali terlintas jelas di benak Simengsi.
Saat pelatihan militer pertama, tatapan pria itu yang begitu bermakna.
Kali kedua, di perpustakaan, pria itu memungutkan buku yang terjatuh untuknya.
Dan kini, yang ketiga kalinya, pria itu menjadi gurunya.
Sebenarnya, apa yang terjadi setiap kali ia bertemu pria itu? Mengapa ia selalu merasa aneh?
“Baiklah, mari kita mulai pelajaran. Untuk mata kuliah pengembangan perangkat lunak, pelajarannya memang bersifat abstrak, tetapi...”
Saat Simengsi kembali dari lamunannya, pria yang mengisi pikirannya sudah mulai mengajar.
Semua orang tampak begitu serius mendengarkan, entah berapa banyak yang benar-benar memperhatikan pelajaran.
Menatap wajah tampan dan mendengarkan suara khas itu saja sudah merupakan kenikmatan tersendiri.
Simengsi pun demikian, meski ia hampir tidak pernah menoleh ke depan, cukup mendengarkan suara itu saja, seperti melodi terindah di dunia.
Saat seseorang tertarik pada sesuatu, rasa penasaran pun tergerak, dan ia akan terus menelusurinya, lalu akan hadir cerita-cerita baru.
Seperti ketika kau menyukai sebuah film, kau pasti akan terus memikirkannya, hingga benar-benar menontonnya sampai selesai.
“Simengsi, silakan jawab pertanyaan ini!”
Sang Raja Darah, aku sedang menunggumu. Bab 24 – Raja Darah Menjadi Guru, telah selesai diperbarui!