Bab 34: Sikap Aneh Sang Tuan Muda

Raja Darah, aku sedang menunggumu. Biru Laut yang Menyegarkan 1073kata 2026-03-04 21:39:53

Keramaian suara teman-teman sekelas membuat Simengsi yang sedang membaca buku mengangkat kepalanya. Ia melihat teman-temannya mengerumuni ketua kelas, Liu Xiaokai, yang sedang memegang selembar kertas. Rupanya, jurusan mereka akan mengadakan malam pentas seni dan para mahasiswa diminta untuk menyiapkan pertunjukan.

Simengsi kembali menundukkan kepala, melanjutkan membaca. Semua itu tak ada hubungannya dengan dirinya.

Ada satu orang lagi yang sama seperti Simengsi, tak terlibat dalam persiapan acara itu.

Gu Wensong merasa dirinya mungkin benar-benar sudah tua. Melihat wajah-wajah muda yang bersemangat itu, hatinya sama sekali tak tergugah. Ia memperhatikan satu-satunya orang lain selain dirinya yang masih tetap duduk di tempat: Simengsi. Poni yang tergerai menutupi setengah pipinya, pakaian olahraga berwarna biru muda yang dikenakan menambah kesan tenangnya, membuat Gu Wensong seolah melihat langit cerah di musim panas. Ia tampak seperti berada di dunia lain, kegaduhan kelas sama sekali tak mengusiknya; buku di hadapannya seolah memiliki daya tarik yang tiada tara baginya.

Gu Wensong tahu bahwa Simengsi selalu belajar dengan sangat tekun. Untuk seorang gadis, ia tidak tertarik pada pria tampan ataupun merek terkenal, melainkan memilih tenggelam dalam tumpukan buku. Di dunia penuh gemerlap ini, ia benar-benar berbeda. Gu Wensong penasaran buku apa yang sedang dibaca Simengsi hingga ia begitu asyik. Dengan perasaan ingin tahu itu, Gu Wensong melakukan sesuatu yang biasanya tidak akan dilakukan oleh seorang tuan muda sepertinya. Ia berdiri dari tempat duduk, melangkah pelan-pelan mendekati Simengsi. Semakin dekat, ia bisa melihat leher putih bersih di balik kerah baju gadis itu, kulitnya bagai susu yang membuat Gu Wensong terperangah. Selama ini ia hanya tahu kulit Simengsi sedikit lebih putih dari orang lain, tetapi dari dekat, benar-benar seputih susu yang membuat iri.

Menyadari dirinya menatap leher seorang gadis, hal ini merupakan pengalaman pertama bagi Gu Wensong yang selama ini tak pernah memperhatikan orang lain. Ia merasa geli dengan kelakuannya sendiri. Maka ia pun mengalihkan pandangannya yang tadinya terlalu fokus, dan berniat hanya melewati tempat duduk Simengsi.

Gu Wensong melihat ternyata itu adalah sebuah buku pelajaran, penuh dengan kode-kode. Simengsi membacanya dengan sangat tekun, ekspresi seriusnya seolah menularkan semangat pada siapa saja yang melihat.

Saat itu, Simengsi sedang kebingungan memahami bagian yang sulit. Bolpoin di tangannya berkali-kali menuliskan kata-kata yang tak ia pahami, bibirnya sedikit mengerucut, matanya terbuka lebar, seakan dengan begitu ia bisa mengerti arti tulisan itu. Gu Wensong memperhatikan bibirnya yang kemerahan, mengerucut seperti buah ceri mungil, bulu matanya bergetar, ekspresi lucu itu membuat Gu Wensong geli dan tanpa sadar ia tertawa pelan.

Simengsi terkejut mendengar suara yang tiba-tiba itu. Ia mendongak dan langsung melihat wajah tampan Gu Wensong yang tersenyum begitu cerah.

Dengan bingung ia bertanya, “Ada... ada apa?”

Suara lirihnya membuat Gu Wensong sadar akan apa yang baru saja ia lakukan. Ia berdeham canggung, lalu mencari-cari alasan seadanya, “Boleh aku pinjam bukumu sebentar?”

“Eh...” Simengsi tak langsung paham, bukankah itu buku pelajaran mereka yang dimiliki semua orang? Mengapa ia ingin meminjam dari dirinya? Dan kenapa tadi ia tertawa?

“Ada masalah?” Gu Wensong justru semakin malu karena tak segera mendapat jawaban, rona merah tampak di wajah lembutnya.

“Tidak,” jawab Simengsi spontan.

“Jadi, boleh aku pinjam?” tanya Gu Wensong sekali lagi.

Simengsi baru benar-benar mengerti dan mengangguk pelan, “Iya.”

Darah Raja, aku menunggumu. Bab 34 – Perilaku Aneh Sang Tuan Muda telah selesai diperbarui!