Bab Lima Puluh Lima: Bergegas Kembali ke Ibu Kota, Bicara Nanti Setelah Tiba
Sekitar tiga menit kemudian, ponsel milik Yan Jing Tang baru kembali normal. Ia tidak tertarik untuk melihat pesan-pesan yang sudah bisa ditebak isinya, melainkan segera mencari nomor telepon milik Nan Ruan, lalu berkata pada Jin Xi, “Tuan Ketiga, tolong ingatkan nomor ini untukku.”
Menurut Yan Jing Tang, tindakan Jin Xi yang mematikan ponselnya tadi sangatlah bijak. Karena itu, ia tidak akan bodoh menunggu telepon dari Nan Ruan lewat ponselnya sendiri. Ia berencana menggunakan ponsel milik Jin Xi untuk mengirim pesan lebih dulu, sehingga bisa menunggu Nan Ruan datang dengan tenang.
Tanpa banyak bicara, Jin Xi langsung menyerahkan ponselnya pada Yan Jing Tang, mempersilahkannya menyimpan nomor tersebut.
Yan Jing Tang sempat ragu sejenak sebelum menerima ponsel itu. Ia menatap Jin Xi dan berkata, “Kau benar-benar percaya menyerahkan ponselmu padaku?”
Jin Xi hanya tersenyum geli. Gadis ini, masa dia mengira Jin Xi punya rahasia yang tak boleh dilihat orang?
Yan Jing Tang sendiri memang tidak berpikir sejauh itu. Dia hanya merasa sangat terharu, karena Jin Xi begitu mudah mempercayainya.
Hal ini semakin membuatnya mengerti perasaan Jin Xi terhadap dirinya.
Setelah mengetik nomor Nan Ruan di layar, Yan Jing Tang langsung menelepon. Baru terdengar tiga dering, panggilan sudah diangkat, “Siapa ini?”
Suara Nan Ruan terdengar agak gusar, jelas suasana hatinya sedang sangat buruk.
Yan Jing Tang berkata, “Ini aku...”
“Manis!”
Belum sempat Yan Jing Tang menyelesaikan kalimatnya, Nan Ruan sudah berteriak kencang, nyaris memekakkan telinga. Bahkan Jin Xi pun tampak sedikit terkejut dan mengerutkan alis.
Yan Jing Tang hanya bisa merosotkan bahunya dengan pasrah. “Nan Ruan, tolong jangan panggil aku seperti itu lagi!”
Benar-benar, susah sekali diingatkan.
Nan Ruan tak peduli apa pun yang dikatakan Yan Jing Tang, langsung melontarkan rentetan pertanyaan tanpa jeda, sama sekali tidak memberi kesempatan untuk menyela.
Baru setelah cukup lama tak mendengar suara Yan Jing Tang, Nan Ruan bertanya, “Kenapa kau diam saja?”
Yan Jing Tang yakin, kalau saja Nan Ruan ada di depannya sekarang, ia pasti sudah membalikkan mata sebal.
Yan Jing Tang berkata, “Kau juga harus memberiku kesempatan bicara.”
Baru kali ini Nan Ruan sedikit lebih tenang, “Baiklah, sekarang giliranmu.”
Yan Jing Tang berkata, “Aku akan kirim alamat padamu, kau langsung saja datang ke sini.”
Saat ini, ia memang tidak bisa keluar untuk menemuinya.
Nan Ruan hendak mengiyakan, namun Jin Xi tiba-tiba berkata pelan, “Tanyakan dia sedang di mana, biar aku suruh orang menjemputnya.”
Yan Jing Tang berpikir sejenak, memang lebih praktis begitu, lalu menuruti saran Jin Xi.
Namun, sudah cukup lama ia menunggu, jawaban dari Nan Ruan tak kunjung datang. Yan Jing Tang bahkan sempat melirik layar ponsel, memastikan sambungan masih aktif.
Akhirnya, suara Nan Ruan kembali terdengar. Yan Jing Tang mendengar ia berkata, “Manis, kau ternyata sedang bersama seorang pria!”
Yan Jing Tang hanya bisa terdiam.
Tiba-tiba saja ia ingin mengirim Nan Ruan kembali ke ibu kota.
Tentu saja, itu tidak mungkin.
Yan Jing Tang berkata, “Kirimkan saja alamatmu padaku, yang lain kita bicarakan nanti setelah kau tiba.”
Nan Ruan masih ingin berkata sesuatu, tapi Yan Jing Tang sudah lebih dulu menutup sambungan.
Ia mengembalikan ponsel pada Jin Xi, dan saat menatap mata pria itu yang dalam dan sulit ditebak, mendadak ia merasa ragu. Apa sebaiknya ia batalkan saja rencana mengundang Nan Ruan?
Dengan sifat Nan Ruan seperti itu, ia cukup khawatir Jin Xi akan kerepotan.
Belum lagi latar belakang Nan Ruan...
Sambil berpikir, tiba-tiba pesan dari Nan Ruan sudah masuk. Rupanya dua puluh menit yang lalu ia sudah tiba di Kota Ning, namun karena tak bisa menghubungi Yan Jing Tang, ia memutuskan untuk langsung menuju rumah keluarga Yan.
Begitu menerima telepon dari Yan Jing Tang, ia meminta sopir menurunkannya di lokasi, lalu menunggu jemputan dari pihak Jin Xi.
Hanya saja, begitu melihat alamat yang dikirimkan, Yan Jing Tang agak tak habis pikir.
Tempatnya begitu terpencil, jauh dari mana-mana, hanya Nan Ruan yang berani turun sendirian di sana.