Bab Dua: Tingkat SSS, Peramal Takdir
Di lapangan, di bawah sorotan mata banyak orang.
Begitu Jiang Ning meletakkan tangannya, layar monitor tiba-tiba memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Bersamaan dengan itu, tubuh Jiang Ning juga dipenuhi kilauan cahaya, gelombang aura khusus menyebar ke seluruh penjuru.
“Itu... itu tanda mutasi profesi!”
“Hanya profesi tingkat A ke atas yang bisa menimbulkan fenomena seperti ini!”
“Jangan-jangan... profesi tingkat S!”
Melihat pemandangan itu, kepala sekolah dan para guru menampilkan ekspresi gembira. Satu profesi tingkat A saja sudah mengagumkan, jika ditambah satu tingkat S, maka Sekolah Menengah Ketiga Lingxian pasti akan melampaui sekolah-sekolah lain, menjadi yang terkuat.
Namun, berbeda dengan kegembiraan mereka, ekspresi Han Cheng justru berubah suram.
“Bagaimana mungkin?”
“Kenapa bocah ini seberuntung itu?”
Di tengah sorotan semua orang, cahaya keemasan di layar akhirnya memudar. Sebaris tulisan perlahan muncul di atasnya.
Profesi tersembunyi tingkat S, Peramal Takdir.
Melihat kata “Peramal Takdir”, ekspresi gembira di wajah kepala sekolah langsung membeku.
“Peramal Takdir? Kenapa malah itu?!”
“Itu profesi tingkat S yang paling tidak berguna, bahkan kabarnya tidak sebanding dengan profesi pendukung tingkat C itu!”
“Sial! Kenapa harus yang itu juga yang muncul?”
“......”
Wajah kepala sekolah dan para guru lainnya tampak suram, jelas sangat kecewa.
Selain profesi tempur, pendukung, dan profesi kehidupan, ada juga profesi seperti itu. Meski tingkatannya tinggi, profesi tersebut nyaris tak punya kegunaan.
Contohnya, Penakluk Naga tingkat S, tapi manusia bahkan tidak pernah bertemu anak naga, jadi profesi itu mustahil berkembang. Tidak ada naga untuk dikendalikan.
Profesi semacam ini disebut profesi sia-sia.
Peramal Takdir juga termasuk profesi sia-sia. Kemampuan meramal masa depan memang terdengar hebat, tetapi untuk menggunakannya harus mengorbankan usia hidup, dan hasil ramalannya pun sepenuhnya bergantung pada keberuntungan.
Peramal Takdir sebelumnya mengorbankan sepuluh tahun usia, hanya untuk meramalkan bahwa sebulan lagi matahari akan terbit. Akhirnya ia mati karena kesal sendiri.
Tak berlebihan jika dikatakan, bahkan Peramal Takdir tingkat S tak seberguna profesi tempur tingkat C.
Saat para guru dan kepala sekolah kecewa, para siswa di bawah panggung pun mulai ramai membicarakan.
“Wah, Peramal Takdir... bisa apa tuh?”
“Aku kira paling banter dapat tingkat B, ternyata keluar profesi sia-sia.”
“Itu mah kalah sama profesi tempur tingkat C. Aku kira dia bakal gagal, nggak nyangka segini parahnya.”
“Jadi makin menarik, nih.”
“......”
Sorak-sorai dan gumaman terdengar di bawah panggung. Tatapan yang mengarah pada Jiang Ning penuh rasa kasihan, terkejut, bahkan disertai ejekan dan olok-olok.
Itu memang reaksi yang wajar.
Di saat orang-orang mengangkat seorang jenius, mereka juga berharap melihat jenius itu jatuh dari tahtanya.
“Ck ck ck, profesi sia-sia.”
“Tak kusangka juara angkatan juga akhirnya kena batunya.”
Han Cheng pun tersenyum lebar, seperti minum segelas soda dingin di tengah musim panas, hatinya terasa sangat puas.
Lawan yang dulu pernah membuatnya tertekan, kini akan diinjak di bawah kakinya sendiri.
Mulai sekarang, dialah yang akan menjadi nomor satu di sekolah ini.
Guru dan kepala sekolah kecewa, teman sekelas mencemooh dan mengasihani.
Di tengah keramaian, Jiang Ning hanya berdiri di sana, wajahnya menampilkan ekspresi kaget.
Saat itu, di hadapannya, sebuah panel perlahan terbuka lebar.
[Nama: Jiang Ning]
[Profesi Saat Ini: SSS, Peramal Takdir Sejati]
[Catatan: Level alat uji tidak mencukupi, hanya bisa menampilkan sampai S]
“Profesi Peramal Takdirku, sepertinya berbeda dari yang dikabarkan.”
“Bukannya S itu paling tinggi? Kenapa bisa ada SSS?”
Jiang Ning menelusuri panel itu, dan ketika sampai di bagian bawah, matanya tiba-tiba membelalak.
[Bakat Profesi: Mata Penyingkap Kebenaran (SSS), Pengetahuan Sebelum Terjadi (SSS)]
[Mata Penyingkap Kebenaran, SSS]
[Efek Skill: Bisa melihat kejadian yang akan terjadi dalam jangka waktu tertentu. Semakin tinggi level, semakin lama rentang waktu yang bisa dilihat.]
“Gila, ini mirip haki pengamatan!”
“Kalau dipakai dalam pertarungan nyata, bukankah bisa langsung membaca gerakan lawan?”
Jiang Ning terperangah, lalu melanjutkan melihat ke bawah.
[Pengetahuan Sebelum Terjadi, SSS]
[Efek Skill: Menggunakan sejumlah kekuatan sihir untuk meramal masa depan secara spesifik, mendapatkan informasi tertentu. Semakin detail informasi yang didapat, semakin besar kekuatan sihir yang dibutuhkan.]
“Bukan mengorbankan usia hidup, cukup pakai kekuatan sihir saja untuk meramal masa depan, bahkan bisa memilih hal yang mau diramal.”
“Tidak ada batasan arah ramalan atau harus mengorbankan umur, selama kekuatan sihir cukup, bukankah aku bisa tahu segalanya?”
“Bukankah ini berarti aku tak terkalahkan?”
Hati Jiang Ning berdebar keras. Efek dari dua bakat profesi ini benar-benar luar biasa.
Jika profesi ini ada di dalam gim, pasti pembuat gim bakal dimaki-maki karena terlalu tidak seimbang.
Kalau tidak segera diperlemah, siapa yang mau main?
“Kalau harus mencari kekurangan, mungkin hanya tidak punya skill tempur langsung.”
“Aku penasaran, bakat pribadiku apa?”
Dengan penuh harap, Jiang Ning melanjutkan membaca.
Setiap orang setelah bangkit profesi akan mendapatkan satu bakat profesi dan satu bakat pribadi.
Bakat profesi biasanya mirip-mirip, tapi bakat pribadi bisa sangat beragam.
Ada yang sangat cocok dengan profesinya, membuatnya makin kuat, ada pula yang sama sekali tak berguna.
Tak sabar ingin tahu, bakat pribadinya termasuk yang mana.
Matanya bergerak ke bawah, melihat bakat terakhir di panel.
[Bakat Pribadi]
[Duplikasi Bayangan, SSS]
[Bisa mengetahui skill milik orang lain, lalu memilih satu untuk disimpan di slot kosong dan digunakan. Semakin tinggi level, jumlah slot kosong akan bertambah.]
[Slot kosong tersedia: satu]
“Wow, bisa meniru skill!”
“Bakat ini benar-benar hebat.”
“Nanti kalau dekat dengan para jagoan, tinggal duplikasi satu skill maut saja, di tingkat yang sama pasti aku bisa mengacak-acak!”
Membaca sampai akhir, Jiang Ning benar-benar bersemangat.
Salah satu saja dari tiga bakat ini sudah termasuk kemampuan dewa, apalagi kalau semuanya dimiliki sekaligus.
Dulu, saat baru menyeberang ke dunia ini tanpa sistem kebangkitan, ia sempat kecewa. Tapi setelah melihat bakat-bakat itu, kini ia sudah bisa menerima.
Dengan bakat sehebat ini, buat apa sistem lagi?
Bakat sudah jalan menuju tak terkalahkan, untuk apa masih mengandalkan sistem?
“Jiang Ning, jangan putus asa.”
“Setiap profesi pasti punya nilainya, kamu harus berpikiran terbuka.”
Wali kelasnya naik ke atas panggung, menepuk bahunya dengan penuh penyesalan.
Bagi Guru Xue Yu, Jiang Ning adalah murid yang paling dibanggakan—hormat guru, rajin belajar, nyaris tanpa cela.
Terjadi hal seperti ini, ia benar-benar khawatir Jiang Ning akan terpukul hebat.
“Guru, saya tidak apa-apa.”
Jiang Ning menarik napas dalam-dalam.
Ia menahan kegembiraan yang meledak di dada, berusaha keras mengendalikan ekspresi wajahnya.
Kayu yang menonjol di hutan pasti akan ditebang angin.
Jika bakatnya tersebar, bisa-bisa ia akan ditangkap kekuatan besar dan dijadikan mesin informasi.
Sebelum benar-benar kuat, ia harus tetap merendah.
Ia pun menunduk, diam-diam turun dari panggung pengujian.
Bagi orang lain, ekspresi itu menandakan ia benar-benar terpukul, terlihat seperti orang yang kehilangan arah hidup.
“Biasanya begitu sombong, akhirnya kena batunya.”
“Peramal Takdir, itu mah kalah sama profesi Petarungku.”
“Tak bisa bertarung, tak bisa membantu, siapa yang mau satu tim dengannya saat ujian nanti?”
“Dia pasti tak bisa naik tingkat, seumur hidupnya bakal mentok di level sepuluh.”
“......”
Bisikan sinis terus terdengar dari bawah panggung, banyak yang menampilkan ekspresi mengejek.
Menghina mantan jenius semacam ini justru membuat mereka merasa lebih unggul.
Jiang Ning sama sekali tak menggubris, ia kembali ke barisan dengan wajah tenang.
Tes masih berlanjut, tapi sisanya tak ada yang istimewa. Setelah beberapa murid sepuluh besar keluar tingkat B, sisanya hanya tingkat C dan D.
Kepala sekolah kembali ke atas panggung, mulai berpidato.
“Tes sudah selesai, silakan kalian kembali untuk bersiap-siap.”
“Setengah bulan lagi, kita akan mengadakan ujian percobaan.”
“Hasil ujian akan menentukan apakah kalian bisa menjadi seorang profesional sejati atau tidak.”
“Jangan lengah, persiapkan diri dengan sungguh-sungguh.”