Bab Kesembilan: Peti Harta Karun yang Terjatuh
Berdasarkan informasi yang telah ia dapatkan sebelumnya lewat kemampuan mengetahui masa depan, Jiang Ning baru saja hendak bergerak mencari peti harta yang lain.
Namun, sebelum ia sempat benar-benar bergerak, ia tiba-tiba merasakan aura kuat yang tengah melaju cepat ke arahnya.
Aura itu jelas bukan milik binatang buas biasa.
Setidaknya, jauh lebih kuat dibandingkan kucing malam tingkat dua yang baru saja ia hadapi.
Jiang Ning mengerutkan kening dan menoleh ke belakang. Ia melihat deretan pepohonan di dalam hutan rahasia itu berguncang hebat, seolah ada makhluk besar yang akan menerjang keluar.
"Itu..." Tatapan Jiang Ning menyipit, perasaan waspadanya memuncak.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, seekor binatang buas tingkat tiga tengah berlari kencang ke arahnya.
Di sampingnya, ada tiga binatang buas tingkat dua yang tampak dikendalikan oleh makhluk tingkat tiga itu, bergerak patuh sesuai perintahnya.
"Seekor tikus tanah bermata merah tingkat tiga! Dan tiga ekor tikus tanah bermata merah tingkat dua!"
"Empat ekor binatang buas menyerang bersamaan, ini bakal jadi masalah." Jiang Ning membatin, merasa situasinya tidak menguntungkan. Jika satu lawan satu, ia tak gentar menghadapi binatang buas tingkat tiga manapun.
Namun kali ini, empat binatang buas bergerak serempak. Dua tangan takkan mampu meladeni empat serangan sekaligus.
"Barangkali ini memang ujian buatku. Jika aku berhasil menyingkirkan keempat binatang ini, aku bisa leluasa bergerak di wilayah ini. Lagi pula, dari arah serangan mereka, jelas mereka memang menargetkanku."
"Kalau begitu, tak perlu bersembunyi. Hadapi saja langsung!"
Jiang Ning pun mantap dengan keputusannya. Ia mengeluarkan Pedang Api Merah dari cincin serba guna, menatap tajam ke arah para tikus tanah bermata merah yang segera menerjang.
Sorot matanya memancarkan kilatan tajam penuh keyakinan. Ia mengaktifkan kemampuan Mata Kebenaran, dan berhasil melihat bayangan kejadian yang akan terjadi dalam waktu dekat.
Konfrontasi kali ini... akan dimenangkan olehnya!
Tugasnya kini hanya mengubah ramalan itu menjadi kenyataan.
"Ayo! Tunjukkan padaku seberapa kuat kalian!"
Jiang Ning menenangkan pikirannya. Setelah mendapat gambaran lewat Mata Kebenaran, kepercayaan dirinya menguat. Ini saatnya membuktikan diri.
Dalam sekejap, tiga ekor tikus tanah bermata merah menerobos keluar dari semak-semak. Kecepatan mereka berlari di atas tanah luar biasa, hanya dalam hitungan detik mereka sudah berada tepat di dekat Jiang Ning.
Refleks Jiang Ning sangat cepat. Sebelum ketiga tikus tanah itu sempat menubruk, ia sudah terlebih dahulu menghindar dan menjaga jarak. Dalam pandangannya, gerakan para tikus tanah itu seperti diperlambat, sama sekali tak mampu menyentuhnya.
Namun, ia tidak lengah. Jumlah lawan lebih banyak, maka harus mengandalkan teknik untuk mengatasinya.
Sambil menghindar, Jiang Ning cepat mengayunkan pedangnya ke arah tikus tanah bermata merah yang paling dekat, menebas tajam.
"Crot!"
Darah muncrat ke mana-mana. Seekor tikus tanah bermata merah tingkat dua tewas seketika.
Binatang tingkat dua sudah bukan ancaman baginya.
Namun, dua ekor tikus tanah bermata merah lainnya kembali menerjang, seolah memanfaatkan jeda serangan Jiang Ning untuk melancarkan pukulan telak.
Jiang Ning gesit mengayunkan Pedang Api Merah di tangannya, menangkis serangan beruntun kedua tikus tanah itu. Ia mundur cepat, tak membiarkan mereka mendekati tubuhnya.
Di saat yang sama, ia tetap waspada terhadap tikus tanah bermata merah tingkat tiga.
Dua ekor tikus tanah itu tak berarti banyak, ancaman sesungguhnya selalu datang dari tikus tanah tingkat tiga.
Dalam ramalannya, jika ia langsung menyerang dua tikus tanah itu, maka tikus tanah tingkat tiga akan segera menerjang dan merobek tubuhnya hingga hancur.
Meskipun mungkin bisa menghindar, ia pasti akan terluka.
Tanpa bantuan siapapun, dan tanpa tabib di sisinya, itu adalah hal yang tak bisa Jiang Ning terima.
Baginya, luka berarti kematian. Ia sangat paham itu.
"Setelah jarak lima meter, baru aku akan bergerak!" Jiang Ning membuat keputusan dalam hati, lalu berbalik lari dengan Pedang Api Merah di tangan.
Dua ekor tikus tanah bermata merah mengejar tanpa ragu, sedangkan tikus tanah tingkat tiga masih bersembunyi, seolah yakin Jiang Ning takkan mampu menghadapi kedua anak buahnya dan sudah putus asa hendak melarikan diri.
Jika anak buah mampu menyelesaikan urusan, sang pemimpin tak perlu turun tangan langsung.
Namun, tiba-tiba saja, sesuatu yang tak terduga membuat tikus tanah tingkat tiga terbelalak kaget.
Jiang Ning, setelah berlari sejauh lima meter, tiba-tiba menendang batang pohon besar dengan kuat. Memanfaatkan gaya dorong, ia melompat ke belakang dan mendarat di belakang kedua tikus tanah.
Salah satu tikus tanah tak sempat menghindar dan menabrak batang pohon dengan keras. Kepalanya pening, tubuhnya limbung.
Tikus tanah satunya yang menyadari gerakan itu, belum sempat membalas, kepalanya sudah ditebas oleh Jiang Ning hingga darah menyembur.
"Teknik Pedang Pembakar! Tebas!"
Jiang Ning menebas dua kali berturut-turut.
"Crot!"
"Crot!"
Dua suara darah menyembur terdengar jelas. Dua ekor tikus tanah bermata merah tingkat dua langsung terkapar di tanah, tak mampu bangkit lagi.
Di tanah, terlihat bekas gosong terbakar.
Itulah kekuatan Pedang Api Merah yang dipadukan dengan Teknik Pedang Pembakar, kombinasi yang telah dipilih dan dilatih Jiang Ning dengan susah payah hingga menjadi perlengkapan terkuat miliknya.
Kini, ketiga tikus tanah bermata merah tingkat dua telah mati, menyisakan hanya satu tikus tanah bermata merah tingkat tiga.
Jiang Ning merasa jauh lebih lega, lalu mengayunkan pedang ke arah semak-semak.
Tikus tanah bermata merah tingkat tiga terpaksa memperlihatkan wujudnya. Dalam sorot matanya yang merah menyala, tampak jelas ekspresi ketakutan yang menyerupai manusia, jelas sekali ia tak menyangka seorang manusia tingkat dua mampu menemukan tempat persembunyiannya.
Bagaimana Jiang Ning bisa melakukan itu?
Belum sempat tikus tanah itu berpikir lebih lanjut, Jiang Ning sudah kembali mengayunkan pedang ke arahnya, menebas kepala sang tikus tanah.
Serangan itu membuat tikus tanah bermata merah tingkat tiga benar-benar murka. Ia menjerit nyaring, lalu menerjang dengan mata merah membara.
Namun, Jiang Ning dengan gesit memutar tubuh, menghindar dengan mudah dari serangan mendadak itu, sekaligus menebas punggung lawan.
Terdengar suara pedang membelah daging. Sebuah luka berdarah menganga di punggung tikus tanah itu, gerakannya pun melambat drastis.
Gerakannya menjadi semakin terbatas dan berat.
"Teknik Pedang Pembakar! Tebas!"
Memanfaatkan kesempatan, Jiang Ning tak memberinya ampun. Ia memperkuat genggaman pada pedang, lalu menebas kepala tikus tanah itu.
"Crot!"
Tikus tanah bermata merah tingkat tiga tewas seketika. Kini, satu ekor tingkat tiga dan tiga ekor tingkat dua semuanya mati di tempat.
Keempat bangkai itu perlahan mendingin.
Cahaya putih lembut berupa pengalaman masuk ke tubuh Jiang Ning, membuatnya mendesah pelan penuh kepuasan.
[Tingkat: 2 (120/300)]
"Membunuh satu binatang buas tingkat dua mendapat 20 poin pengalaman, sedangkan tingkat tiga memberiku 60 poin pengalaman."
"Dengan begini, tak lama lagi aku bisa naik ke tingkat tiga!"
Mata Jiang Ning berbinar.
Saat ini ia masih di tingkat nol. Hanya setelah mencapai tingkat sebelas ke atas, ia bisa menjadi petarung tingkat satu, dan untuk belajar buku keterampilan secara mandiri juga harus mencapai tingkat satu.
Level selalu menjadi hal yang mutlak.
Namun, semakin tinggi level, kebutuhan pengalaman pun naik berkali-kali lipat. Ia harus berusaha lebih keras dari biasanya untuk mencapainya.
"Aku harus terus berjuang!"
Jiang Ning menguatkan tekadnya. Tiba-tiba, ia menyadari bahwa bangkai tikus tanah bermata merah itu lenyap, dan sebuah peti harta tertinggal di tempatnya.
"Membunuh binatang buas tingkat tiga ke atas kadang menjatuhkan peti harta, dan kemungkinan itu sangat kecil. Tak kusangka baru saja membunuh satu saja sudah dapat peti, sungguh hoki luar biasa!" Melihat peti itu, Jiang Ning pun tak kuasa menahan kegembiraannya.