Bab 68: Pesta Harta Karun, Surga untuk Meningkatkan Level!
Di bagian terdalam ruang bawah tanah itu, terdapat sebuah gua kapur raksasa yang langit-langitnya dipenuhi jaring laba-laba. Di sana juga tergantung ratusan kepompong yang terbuat dari jalinan jaring. Di tengah ruangan itu, seekor laba-laba raksasa dengan corak ungu di sekujur tubuhnya bertengger angkuh.
Ratu Laba-laba (tingkat epik)
Tingkat: 30
Jumlah Nyawa: 4.500.000
Serangan: 4.587
Pertahanan Fisik: 2.001
Pertahanan Sihir: 1.784
Kemampuan: Pembelahan, Semburan Jaring, Siraman Racun…
Ini adalah pertama kalinya Cakra melihat atribut bos epik tingkat 30. Sebelumnya, di tempat berkumpulnya para peri, atribut bos Buta memang tampak sebagai pengecualian.
"Atributnya lumayan, tapi tetap bisa kutaklukkan dalam sekejap." Begitulah pikir Cakra kala melihat data bos itu.
"Adik, hati-hati nanti. Dalam kepompong itu ada monster tingkat langka, dan tentu saja bosnya. Kalau kena racunnya, bukan cuma kehilangan nyawa, tapi juga akan berkurang sesuai persentase. Lalu ada kemampuan pembelahan yang sangat menyebalkan," ujar Liu Cheng mengingatkan.
"Begitu nyawa bos habis, dia akan membelah jadi ribuan laba-laba kecil. Masing-masing hanya tingkat tinggi, dan punya satu kemampuan: meledakkan diri," lanjutnya.
Cakra mengangguk, kini ia semakin waspada. Jika ribuan laba-laba kecil itu meledakkan diri bersamaan, ia memang tak akan sanggup menahan kerusakan yang ditimbulkan.
Di saat bersamaan, kepompong-kepompong di langit-langit gua mulai retak. Satu per satu laba-laba langka hendak keluar.
Cakra tentu tak akan memberi kesempatan. Seratus pedang roh melayang, cahaya pedang berkelebat, monster-monster langka itu pun musnah seketika.
Bos yang semula ingin menonton dari sudut gua pun tercengang melihat anak buahnya musnah sebelum sempat bergerak.
Namun, berikutnya giliran bos itu sendiri diserang cahaya pedang.
-4.621.144 (kritikal)
-1.903.660 (kerusakan nyata, kritikal)
Awalnya Cakra menyiapkan lima pedang roh, namun tak disangka, satu tebasan saja sudah langsung menghabisi nyawa bos.
Kelima senior pun terpana. Mereka tahu adik kelas ini sangat kuat, tapi tak pernah menyangka ia bisa membunuh bos secepat itu.
Bos sendiri pun kebingungan, tubuhnya masih berdiri dua detik setelah nyawanya habis, lalu meraung kesakitan sebelum akhirnya roboh.
Begitu tubuhnya jatuh, tubuh bos itu meledak, memuntahkan ribuan laba-laba kecil.
Laba-laba kecil itu, membawa dendam sang bos, langsung mengincar Cakra, menyerang membabi buta.
"Teknik Cabut Pedang!"
Ribuan laba-laba kecil baru saja bergerak, sebuah cahaya pedang berbentuk setengah bulan melintas.
Blarr! Cairan berwarna-warni menyembur ke segala penjuru gua, pemandangan yang cukup memuakkan.
[Tim Anda telah menaklukkan Gua Laba-laba (tingkat 20-29), memperoleh 5.000 poin pengalaman.]
[Tingkat Anda naik ke 22, setiap atribut bertambah 50 poin, memperoleh 100 poin atribut bebas.]
[Tim Anda berhasil memecahkan rekor ruang bawah tanah Gua Laba-laba (tingkat 20-29) tingkat neraka, waktu penyelesaian: 3 jam 1 menit 32 detik, hadiah: Gulungan Ratapan (epik).]
[Gulungan Ratapan]: Epik, saat digunakan mengeluarkan ratapan pilu yang membuat target pingsan selama 10 detik.
"Aku naik tingkat, cepat sekali! Akhirnya 29. Ada harapan mencapai tingkat 30 dalam setengah bulan!"
"Aku kurang sedikit lagi naik tingkat, tapi ini cepat sekali. Kalau latihan sendiri, setengah bulan pun belum tentu naik!"
"Semua ini berkat adik kita. Kecepatan naik tingkatnya luar biasa. Mungkin saat ia duduk di semester dua, minimal sudah tingkat 50, bahkan mungkin 60."
Kelima senior bersorak gembira, lalu mengeluarkan hadiah rekor ruang bawah tanah yang mereka peroleh. "Adik, gulungan ini milikmu saja. Kami tak membutuhkannya."
"Tidak perlu. Kalian akan segera ke garis depan. Bawa saja gulungan ini untuk berjaga-jaga. Kalau pun kalian tidak butuh, bisa diberikan pada prajurit lain," jawab Cakra, menolak. Gulungan Ratapan memang bagus, tapi tak terlalu berguna baginya. Satu lembar sebagai perlindungan sudah cukup.
"Ayo lanjut. Baru jam sembilan lebih, kita lanjut latihan," kata Cakra tanpa memberi mereka kesempatan menolak, lalu langsung keluar dari ruang bawah tanah.
Saat keluar, ia mengatur nama tim menjadi "Kelas Tempur 1 Angkatan 23", dan tak ada satu pun yang keberatan; toh mereka semua memang hanya numpang.
Keluar dari ruang bawah tanah, ketujuh orang itu masuk ke ruang bawah tanah lain, tetap dengan tingkat kesulitan neraka.
Tiga jam lebih kemudian, mereka menaklukkan ruang bawah tanah itu lagi.
Kelima senior semuanya mencapai tingkat 29, kali ini Cakra tidak naik tingkat, tapi Liu Changhe sudah mencapai tingkat 23.
Saat itu sudah lewat tengah malam, dan kuota ruang bawah tanah mereka pun telah direset.
"Mau lanjut lagi?" tanya Liu Cheng.
Semalam berhasil menaklukkan dua ruang bawah tanah tingkat neraka, bahkan memecahkan rekor. Mereka berlima sangat bersemangat.
Meski mereka tidak berperan banyak, setidaknya tetap ikut serta.
"Hmm, besok kita libur. Ayo kita coba ruang bawah tanah 'Tempat Berkumpulnya Para Peri'."
Cakra mengangguk. Alasan ia ingin menaklukkan ruang bawah tanah itu lagi, karena ingin tahu apakah ada perubahan setelah ia menerima misi unik.
Kalaupun tidak ada misi unik, siapa tahu masih bisa mendapatkan Batu Pengorbanan lagi.
Selain itu, ia punya satu dugaan, jika benar, maka ruang bawah tanah itu akan sangat cocok untuk latihan.
Melihat Cakra masih ingin lanjut, kelima senior tentu setuju saja. Mereka malah khawatir tak dibutuhkan.
Untungnya adik kelas mereka baik hati, tidak mengucilkan mereka.
Mereka pun masuk lagi ke ruang bawah tanah "Tempat Berkumpulnya Para Peri". Cakra yang sudah hafal medan, tak buang waktu, langsung membasmi monster.
Bagi orang lain, monster terbang sangat menyulitkan, tapi baginya tidak.
Melihat para peri itu tewas seketika, Liu Cheng dan yang lain sudah terbiasa, karena sudah terlalu sering menyaksikan pemandangan seperti ini.
Kali ini hanya butuh lebih dari dua jam, Cakra membawa keenam rekannya sampai ke bawah pohon purba.
Bosnya tetap Buta, pangeran dari bangsa peri.
Meski pernah menerima tugas dari bos itu, Cakra tetap bertindak tanpa ragu.
Peri-peri yang baru keluar dari rumah kayu langsung dilenyapkan.
Seperti sebelumnya, Buta terkejut dan mencoba terbang dengan sayap cacatnya.
Namun kali ini, Cakra tidak membunuhnya, melainkan menunggu.
Tak lama, satu menit berlalu, seratus rumah kayu kembali terbuka, seratus peri langka melesat keluar.
Cakra mengulangi cara yang sama, membasmi mereka, sambil memperhatikan panel notifikasi.
[Kau membunuh monster langka tingkat 29, memperoleh 140 poin pengalaman.]
Benar saja, pengalaman masih terus didapat. Cakra pun tersenyum.
Seratus monster akan bangkit setiap menit, artinya setiap kali memperoleh 14.000 poin pengalaman.
Ia melirik tingkatnya.
[Tingkat]: 22 (130.000/400.000)
Artinya, hanya perlu membasmi 20 gelombang monster, menunggu 20 menit, maka ia akan naik tingkat lagi.
Dugaan Cakra terbukti, ruang bawah tanah ini memang surga latihan naik tingkat.
...