Pada awal abad ini, dunia mengalami titik balik—dari permainan menuju kenyataan, dari manusia biasa menjelma menjadi dewa. Inilah kisah seorang penjelajah lintas waktu yang, bersama para pengikutnya, mengguncang segalanya. Dan Titan, pada akhirnya, akan mencapai keagungan yang sejati.
Tahun 2999 Masehi dunia lain, malam Tahun Baru.
Angin dingin berhembus, musim dingin menyelimuti bumi dengan tiupan angin utara yang menggigilkan tulang. Di sebuah kompleks kesejahteraan sosial di suatu kota di Negara Xia, planet induk Blue Star, tepat lewat pukul 11.30, Qin Shou mematikan gelang tangan pribadinya, lalu berbaring tanpa gairah di atas ranjang, menatap kosong ke langit-langit, bersiap menjalani malam Tahun Baru ke-26 di dunia ini.
Ia teringat para penjelajah dunia lain yang telah melintasi waktu selama puluhan tahun, menjadi bintang besar, taipan, bahkan mencapai keilahian dan menjadi leluhur—hidup mereka terlalu gemilang. Sedangkan dirinya, di kehidupan sebelumnya hanyalah seorang yatim piatu, yang demi mengumpulkan uang mahar sebelum usia 33 tahun, memaksakan diri mengikuti kerja keras 9-12-7, hingga akhirnya terkapar di tempat kerja setelah tiga bulan bekerja tanpa henti.
Di kehidupan ini, saat berusia tiga tahun dan mengingat kembali kehidupan lamanya di panti asuhan, ia sempat merasa bahwa takdir telah berpihak kepadanya, siap mengukir kejayaan. Namun, yang ditemuinya adalah era galaksi, di mana umat manusia telah menjangkau seluruh tata surya. Bulan, Mars, bahkan cincin planet telah dipenuhi penghuni, dan Biro Eksplorasi Antariksa terus mengumumkan rencana untuk menembus tata surya, bermigrasi ke benda luar sistem. Kebahagiaan yang dulu mengisi benaknya, kini berubah menjadi keputusasaan yang dalam.
Bagaimanapun, di kehidupan sebelumnya ia hanyalah manusia biasa. Kini, dengan pengaruh nilai-nilai lama, ia ingin tumbuh lebih ba