Bab Tujuh: Jika kau dikubur hidup-hidup, akankah kemurkaanmu meluap hingga ke langit?
Aku menatapnya dengan waspada, lalu perlahan mundur, berniat untuk melarikan diri.
Melihat tindakanku, ia hanya tersenyum tipis. "Kenapa? Kau sudah tidak mengenaliku lagi?"
Aku berhenti dan menatapnya. "Apa maksudmu?"
Ia melangkah mendekatiku, lalu menundukkan kepalanya. Sepasang matanya yang menyerupai zamrud berkilau di tengah kegelapan malam, tampak begitu indah.
"Kau telah terikat pernikahan gaib denganku, apa nenekmu tidak memberitahumu?"
"Apa? Kau Qin Zhiyuan?" Aku tersentak kaget. Mungkinkah mayat kering di Desa Wang itu semasa hidupnya berwajah seperti ini?
Aku menelan ludah dan mundur beberapa langkah, hingga tanpa sadar punggungku membentur dinding. Bagian belakang kepalaku terasa nyeri akibat benturan itu.
Ia maju selangkah, meletakkan satu tangan di dinding sambil menatapku. Sudut bibirnya terangkat empat puluh lima derajat, membentuk senyuman tipis. Bibir merah dan gigi putihnya tampak begitu rupawan.
Namun, aku tidak bisa merasa "kagum" melihat sosok yang menyerupai "mayat kering" tersebut.
Aku memalingkan wajah, tetapi ia menggunakan tangan lainnya untuk mencengkeram daguku, memaksaku menatapnya.
Aku merasa takut sekaligus marah, namun aku tidak berani bergerak sedikit pun.
"Siapa Qin Zhiyuan yang kau maksud itu?" Wajahnya tampak sedikit marah, menatapku dengan tatapan tajam dan bengis.
Cengkeramannya di daguku semakin erat. Rasa sakit yang luar biasa membuatku melupakan rasa takut sesaat. Aku menepis tangannya dan berlari ke sisi lain.
"Jika kau bukan Qin Zhiyuan, lalu siapa kau?"
Mungkinkah sosok yang menikahiku secara gaib bukanlah Qin Zhiyuan dari Desa Wang?
Aku ingat, di Desa Wang, mereka menyiapkan aula duka untuk upacara pernikahan gaibku dengannya. Jika bukan Qin Zhiyuan, aku tidak pernah berurusan dengan "mayat" atau hantu pria lainnya.
Ia menoleh ke arahku, lalu terkekeh pelan. Tawanya terdengar begitu memesona.
"Apa nenekmu tidak memberitahumu bahwa namaku Chu Mo?"
Aku menatap Chu Mo yang suasana hatinya sulit ditebak itu dengan tegang. Aku sama sekali tidak bisa menebak apa yang ada di dalam pikirannya, pun tidak tahu dari mana asalnya.
Melihatku diam, ia melangkah maju dan menarikku, lalu membungkuk dan berbisik tepat di telingaku.
"Kau lupa? Kita pernah bersentuhan kulit."
Mataku membelalak lebar. Saat aku hendak membalas ucapannya, aku tiba-tiba terbangun dari mimpi.
Aku masih di atas tempat tidur? Apakah tadi hanya mimpi, atau jiwaku yang keluar dari raga?
Aku menenangkan detak jantungku dan melihat jam. Sudah pukul lima pagi, sudah saatnya bangun.
Aku melirik Mo Li di sebelahku yang sudah tidur nyenyak seperti orang mati, nyaris saja mendengkur.
Aku bangkit perlahan dari tempat tidur, berniat untuk mencuci muka. Namun, aku mendapati Nenek sudah berdiri di depan pintu kamarku dengan ekspresi rumit, seolah ada seribu kata yang ingin ia sampaikan.
"Nenek?"
Ia mengangguk, lalu menarikku masuk ke kamarnya.
"Apakah dia datang mencarimu?"
"Chu Mo?" tanyaku.
Mendengar nama Chu Mo terucap dari bibirku, seolah mengonfirmasi dugaan di hatinya. Harapan terakhirnya seakan sirna. Ia menggelengkan kepala dan menghela napas panjang.
"Sepertinya kalian sudah bertemu."
"Siapa dia sebenarnya?" tanyaku dengan wajah heran. Ternyata, semua yang ada di dalam mimpi itu nyata!
Nenek meraba liontin giok yang melingkar di leherku. "Pemilik giok ini."
Aku hampir melompat dari kursi karena ketakutan.
"Nenek, apakah aku sudah terikat pernikahan gaib sejak lama?"
Nenek menatapku, lalu menghela napas dan mengangguk. Ia membenarkannya.
"Kenapa Nenek tidak memberitahuku sebelumnya?"
Ia mengusap tanganku untuk menenangkan, lalu perlahan mulai bercerita.
"Apa kau ingat, saat kau lahir, kau dibuang di Parit Bayi Mati?"
Aku mengangguk, lalu Nenek melanjutkan.
"Chu Mo disegel di sana melalui pemakaman hidup-hidup. Metode penyegelannya sangat kejam; semua arwah bayi yang dibuang di Parit Bayi Mati menjadi tumbal pengiringnya. Ia hanya bisa bangkit jika menemukan inang, namun tetap tidak bisa keluar sebelum segelnya terlepas."
Aku mendengarkan dengan tubuh gemetar, bahkan bicaraku pun terbata-bata.
"Inangnya harus seseorang dengan takdir sepertiku, bukan? Dan saat aku lahir lalu dibuang ke Parit Bayi Mati, itu semua juga sudah direncanakan, bukan? Termasuk menipu kepala desa dan yang lainnya bahwa ada harta karun di parit itu, itu juga dilakukan untuk meminjam tangan mereka demi melepas segelnya, benar begitu?"
Semuanya kini masuk akal. Mengapa aku terikat pernikahan gaib dengan Chu Mo sejak lahir, namun dia baru mencariku belakangan ini? Karena segelnya baru terlepas tak lama setelah aku dijual ke Desa Wang. Dia selama ini bersembunyi di dekatku.
Tetapi, siapa sebenarnya dalang di balik semua ini?
Siapa yang mengatur permainan sebesar ini, selangkah demi selangkah, mengendalikan semua orang di atas papan catur, tidak kurang dan tidak lebih?
Bahkan, rencananya dimulai sejak aku lahir.
"Chu Mo memintaku untuk membantunya membuka peti mati. Sebagai gumpalan roh saja dia sudah begitu kuat, mampu membuat siapa pun yang menyentuh peti emas itu tubuhnya membusuk. Aku takut jika segelnya terbuka sepenuhnya, kita semua akan terseret ke dalam kehancuran abadi."
Nenek mengucapkannya dengan nada yang penuh kepasrahan.
"Tidak adakah cara untuk membatalkan pernikahan gaib ini?" tanyaku.
Nenek menggeleng. "Semua orang yang melakukan pernikahan gaib tidak akan berakhir baik."
Antara mati atau menghilang selamanya. Hanya saja, Chen Cuilan tidak sanggup mengucapkan kalimat itu.
Kemudian, Nenek mengeluarkan setumpuk kertas mantra dan memintaku memberikannya kepada kepala desa dan rombongannya, agar mereka membakarnya dan mencampurkan abunya ke dalam air untuk diminum.
Aku mengangguk dan melangkah keluar. Langit sudah terang. Baru setengah jalan, aku berpapasan dengan kepala desa dan kelompoknya yang hendak meminta tolong ke rumah.
"Lianzhu, apakah nenekmu sudah kembali?" Kepala desa langsung menjilat begitu melihatku, hampir saja ia bersujud di kakiku sambil menangis.
Aku mengulurkan tangan, memberikan kertas mantra yang sudah disiapkan. "Nenek bilang, bakarlah kertas ini, campurkan ke dalam air, lalu minumlah. Kalian akan baik-baik saja."
Kepala desa menerima kertas itu dan memeriksanya. Kemudian, dengan mata berbinar, ia bertanya.
"Apa kau sudah bertanya kepada nenekmu soal peti mati emas itu? Nenekmu adalah orang sakti, dia pasti tahu, kan? Bagaimana mungkin sebuah peti mati bisa menghilang begitu saja? Padahal di desa kita tidak ada orang asing!"
Aku menatap kepala desa dengan tatapan mengejek, sementara di dalam hati aku tertawa kecil.
Orang-orang ini benar-benar tidak akan menangis sebelum melihat peti mati sendiri.
Di hadapan nyawa, adakah hal yang lebih penting daripada tetap hidup?
Bahkan jika harta di dalam peti mati emas itu memang berharga, apakah uang itu bisa dibawa mati?
"Apa kau pikir nenekku yang mengambil peti mati itu?" tanyaku balik.
Kepala desa buru-buru melambaikan tangan, tampak canggung.
"Zhu, apa yang kau katakan? Siapa yang tidak tahu kemampuan Nyonya Chen? Aku hanya ingin bertanya, apakah bisa dicari kembali. Jika menghilang begitu saja tanpa alasan, bukankah luka kami sia-sia?"
Panggilan "Zhu" dari kepala desa membuat bulu kudukku berdiri.
"Cari saja sendiri nenekku, aku tidak tahu apa-apa." Aku tidak ingin meladeni kepala desa lagi dan mengabaikannya.
Aku melirik sekilas ke arah Wu Ergou yang ada di dalam kelompok mereka. Ternyata, dia sudah kembali tampak normal!
Aku merasa sedikit aneh, namun aku memilih untuk berjalan ke arah sebaliknya.
Aku benar-benar tidak ingin mengucapkan sepatah kata pun kepada orang-orang yang hanya mementingkan keuntungan ini.
Sepanjang jalan, aku tenggelam dalam pikiranku sendiri hingga tidak sadar sudah sampai di mana.
Saat aku tersadar, aku mendapati diriku sudah berada di Parit Bayi Mati!
Meski pernah ke sini sebelumnya, melihatnya sekarang, aku benar-benar tak habis pikir.
Tempat itu sudah tergali berantakan, ada lubang besar di tengah, dan keadaan sekitarnya kacau balau.
Di dalam lubang besar itu, masih ada lubang kecil berbentuk peti mati.
Ini pasti lubang tempat peti mati Chu Mo diletakkan, bukan?
Di sekelilingnya masih ada serpihan kertas mantra yang berserakan. Entah sudah berapa tahun Chu Mo dikubur hidup-hidup, dan terbuat dari apa kertas mantra ini hingga tidak hancur meski terkubur di bawah tanah begitu lama.
Aku sangat ingin masuk untuk melihatnya lebih dekat, namun belakangan ini terlalu banyak kejadian aneh.
Hal itu membuatku tidak merasa aman meski berada di bawah sinar matahari. Aku meraba liontin giok di leherku. Hawa hangat mengalir ke dalam hatiku, namun aku tidak terlalu memikirkannya. Aku berbalik dan pulang ke rumah.
Saat tiba di rumah, kepala desa dan kelompoknya sedang tawar-menawar dengan Nenek, memohon bantuan Nenek untuk mencari peti mati emas itu.
Aku menatap mereka dengan pasrah. Wah, seandainya kepala desa dan yang lainnya tahu bahwa isi peti mati itu "hidup", apakah mereka akan ketakutan dan lari saat itu juga?
Manusia mati demi harta, burung mati demi makanan. Aku sebenarnya cukup kasihan pada mereka.
"Apa kalian yakin jika peti mati itu dibuka dan isinya keluar, seluruh penduduk desa bisa selamat?" Nenek berkata dengan nada mengejek, menekankan setiap kata.
Mendengar itu, punggung kepala desa terasa dingin.
"Nyonya Chen, apa yang kau katakan itu benar?"
"Jika kau dikubur hidup-hidup dan disegel, bukankah setelah mati kau akan menyimpan dendam yang luar biasa?"
Nenek menatap kepala desa dengan serius, ejekan di wajahnya sangat kentara.
Kepala desa tampak malu. Ia enggan melepas peti mati emas yang bernilai tinggi itu, terlebih lagi harta karun yang tidak diketahui di dalamnya.
Namun, mendengar ucapan Nenek yang terdengar begitu menyeramkan, ia tidak berani macam-macam lagi. Ia berpamitan pada Nenek lalu menarik kelompoknya pergi.