Bab 38: Kakek Aneh
Buku tabungan sebenarnya tidak aman jika disimpan pada seorang pria, jadi lebih baik sementara disimpan padanya. Nanti saat ia dan Shen Mo bercerai, ia bisa mengembalikannya. Bagaimanapun juga, ia tidak akan sembarangan menghabiskan uang Shen Mo.
Berbicara soal uang, setelah sekian lama, memang sudah saatnya ia mencari peluang kerja. Kemarin saat ke markas menemui Shen Mo, ia mendapat sedikit inspirasi ketika melihat ruang medis. Walau awalnya sempat berpikir menjadi guru karena Zhiqi, namun ia tetap lebih menyukai pekerjaan utamanya. Nanti jika ada waktu, ia akan bertanya pada Kak Li apakah ada puskesmas di sekitar yang sedang membuka lowongan.
Beberapa hari lalu, secara tidak sengaja ia membantu menyembuhkan tangan terkilir putri Kak Li. Saat itu Kak Li sudah bilang ingin mengundang mereka makan, dan baru dua hari kemudian undangan itu benar-benar datang.
Undangan Kak Li tidak bisa mereka tolak, jadi mereka pun menerima. Saat waktu makan tiba, Kak Li datang menjemput. Jiang Ning bersama Zhiqi pergi, dan kebetulan bertemu Shen Mo di depan pintu. Mereka pun bersama-sama menuju rumah Kak Li di sebelah.
Baru saja duduk, Kak Li dan Komandan Li sudah membawa hidangan ke meja. Keluarga Komandan Li terdiri dari empat orang, ditambah keluarga Jiang Ning tiga orang, jadi berjumlah tujuh. Namun Kak Li memasak lima macam lauk dan satu sup, tiga di antaranya adalah lauk daging.
Shen Mo sendiri baru hari ini mendengar bahwa istrinya telah melakukan kebaikan dengan menyembuhkan orang. Mendengar Kak Li terus-menerus memuji istrinya, ia memang terkejut tapi juga merasa bangga.
Jiang Ning makan sambil memegang mangkuk. Di tengah makan, ia merasakan ada tatapan istimewa mengarah padanya. Ia mengangkat kepala, melihat di sisi kiri Kak Li duduk seorang gadis berwajah elok. Baru hari ini ia tahu bahwa Kak Li punya putri sulung, baru genap delapan belas tahun.
Putri ini lahir setahun setelah Kak Li menikah dengan Komandan Li, sedangkan putri bungsu lahir secara tak terduga saat Kak Li berusia 36 tahun.
Tatapan Li Xingyue bertemu dengan Jiang Ning, dan saat pandangan mereka bersirobok, gadis itu langsung menunduk, hampir menenggelamkan kepala ke dalam mangkuk nasinya.
Makan malam berlangsung dengan harmonis. Setelah itu, Kak Li mempersilakan mereka duduk lebih lama untuk berbincang.
Karena makanannya dimasak para wanita, pekerjaan mencuci piring pun diserahkan pada pria yang tak pernah bekerja kasar di rumah. Shen Mo pun membantu. Di halaman hanya tersisa para wanita, sementara Zhiqi yang pemalu ikut ke dapur.
Sementara itu, keempat wanita duduk melingkar di meja, menikmati bulan dan mengupas kuaci.
Jiang Ning mengambil segenggam kuaci dan bertanya, "Kak Li, di sini ada pegunungan yang rimbun tidak?"
Ia berencana naik gunung mencari tanaman obat untuk membuat minyak herbal.
"Pegunungan?" Kak Li berpikir sejenak, "Ada, di belakang area markas ini terdapat pegunungan yang luas. Dari sini ke sana hanya setengah jam jalan kaki."
"Baik, aku mengerti." Setelah memastikan rutenya dengan Kak Li, Jiang Ning pun bersiap keesokan harinya naik gunung mencari bahan obat.
Keesokan paginya setelah sarapan, Shen Mo pergi latihan ke markas. Jiang Ning pun memanggul keranjang bambu dan bersiap ke gunung. Siapa sangka, Zhiqi yang sedang libur melihat ibunya membawa keranjang juga buru-buru mengambil keranjang kecil dan ingin ikut pergi.
Saat Paman Shen tak di rumah, ia merasa dirinya adalah laki-laki di rumah, harus terus melindungi Jiang Ning.
Jiang Ning pun tak keberatan membawa 'ekor kecil'. Huo Zhiqi bukan hanya ekor kecil, tapi juga pemandu kecil. Awalnya Jiang Ning khawatir salah jalan, tapi ternyata anak itu sangat mengenal jalan, bahkan menemukan jalur kecil untuk mereka lewati.
Sepanjang perjalanan ke gunung, sejak masuk hutan, Jiang Ning sudah menemukan banyak hasil bumi, bahkan berbagai tanaman obat mahal yang sulit ditemukan di pasaran.
Setelah sampai ke dalam hutan, keranjang Jiang Ning sudah penuh.
Melihat banyaknya tanaman obat di gunung, Jiang Ning sangat gembira.
"Rehmannia."
"Angelica."
"Gastrodia."
Jiang Ning menggali sambil menyebutkan nama-nama tanaman itu.
Tiba-tiba, ia melihat sesuatu di sebuah lubang dan segera berlari ke sana, "Jamur Lingzhi merah liar!"
Saat ia bersiap menggali tanah di sekitar jamur itu, tiba-tiba muncul seorang kakek entah dari mana, memandang Jiang Ning dengan tatapan tajam dan berkata, "Gadis kecil, kau mengenal benda-benda ini, ya?"
Jiang Ning menengadah memandang kakek itu, "Siapa Anda?"
Kakek itu tampak hampir berusia tujuh puluh, tapi ia tidak menjawab pertanyaan Jiang Ning. "Kau belum jawab, kau memang tahu benda-benda ini?"
Kakek kecil itu rupanya cukup nyentrik.
Jangan-jangan dia orang sakti?
Dulu saat membaca novel, orang sakti biasanya memang tinggal di pegunungan terpencil seperti ini.
Ia berpikir sejenak lalu berkata, "Jamur Lingzhi merah liar, menambah energi dan darah, menyehatkan jiwa dan pikiran, baik untuk limpa dan lambung."
"Kalau yang ini?" sang kakek mencabut sebatang tanaman.
"Phytolacca, mengurangi bengkak, melancarkan air seni dan buang air besar, biasa disebut obat pencahar."
"Kalau yang ini?"
"Yang ini."
"Dan yang itu...."
Kakek itu terus-menerus mengambil berbagai tanaman obat untuk dikenali Jiang Ning, dan ia selalu bisa menjawab dengan lancar.
Semakin lama mendengar, mata kakek itu makin berbinar.