Bab Dua Puluh Lima
Bab Dua Puluh Lima
Cinta Mendalam Bagaikan Angin Panjang
Shen Xian duduk di dalam ruang makan bergaya klasik, menunggu seseorang.
"Tuan Shen, adakah yang Anda perlukan?" pelayan bertanya dengan sopan, penuh hormat.
"Silakan keluar dulu." Suaranya dingin, sikapnya tegas walau tanpa kemarahan.
Melihat itu, sang pelayan segera mundur.
"Shen Xian, kau tak menunggu terlalu lama, kan?" Tak lama kemudian, Yu Ling datang mengenakan pakaian santai, masker menutupi wajah, dan topi yang menutupi sebagian besar wajahnya.
"Tidak apa-apa, duduklah." Shen Xian mempersilakannya duduk.
Setelah orang yang ditunggu tiba, pelayan membawa bahan makanan. Selama itu, kepalanya terus menunduk, mengabaikan segala yang terjadi di meja—urusan di luar jangkauan pelayan biasa seperti dirinya.
"Orang sibuk sepertimu, hari ini bagaimana bisa punya waktu makan bersamaku?" Yu Ling berkata sambil tersenyum.
Shen Xian menatapnya, matanya suram dan sulit ditebak.
Ditatap seperti itu, senyum Yu Ling sedikit membeku.
"Ada apa?" Ia bertanya, senyumnya samar.
"Soal Ziyan, aku sudah tahu semuanya." Tatapannya tajam seperti pedang, matanya memancarkan kewibawaan.
"Apa maksudmu? Bukankah Ziyan anakmu sendiri..." Yu Ling bertanya tak mengerti.
Tatapan Shen Xian tajam, udara terasa menegang.
Yu Ling meletakkan sumpit, menatap lurus padanya.
"Jangan pernah punya niat buruk pada Ziyan, dan juga Jie An. Ia bukan orang yang bisa kau permainkan."
"Apa yang sudah kulakukan?"
"Waktu ulang tahun Ziyan, kau datang mencariku dan memergoki kita berdua. Kau memberinya obat tidur, tapi bilang itu atas perintahku. Kali ini, kau juga sengaja mengemudi untuk mencelakainya."
"Bagaimana mungkin kau bisa sejahat itu? Sedikit saja dari perbuatanmu, cukup untuk membuatmu dipenjara."
"Ziyan itu anakku, Jie An juga sudah bertahun-tahun jadi istriku. Kau sama sekali tak seharusnya melakukan hal seperti ini."
Setiap katanya diucapkan pelan namun tegas, seperti batu yang jatuh menghantam bumi.
Setelah sejenak hening, Yu Ling bicara, "Lalu menurutmu, untuk apa aku lakukan semua ini?"
"Kau bilang mencintaiku, akan menikah denganku, lalu hasilnya?"
"Aku memang mencintaimu, aku juga berjanji akan menikahimu. Tapi apa hubungannya itu dengan Ziyan?"
"Tidak, Shen Ziyan itu penghalang! Selama ia ada, kau tak akan pernah menceraikan Zhou Jie An!"
"Aku hanya ingin dirimu seutuhnya, seluruh perhatian dan cintamu untukku."
"Apakah aku tak mengenalmu? Dalam hatimu, kepentingan tetap nomor satu. Shen Ziyan bagimu, mungkin lebih penting daripada aku atau Zhou Jie An."
Mendengar itu, Shen Xian menatapnya, tiba-tiba merasa seperti terjaga dari mimpi.
Ia teringat betapa bahagianya dulu saat baru bersama Yu Ling. Ia juga teringat semua yang telah terjadi, kenangan lama bersama Jie An dan keluarganya.
"Kau menyesal?" Tatapan Yu Ling pada Shen Xian penuh ketidakpercayaan.
Sama seperti kini, ia menatapnya dalam diam, dengan perasaan yang tertinggal dan luka.
"Aku yang bersalah pada mereka." Shen Xian memijit batang hidungnya, tampak lelah.
"Karena semuanya sudah terjadi, maka aku harus menanggung akibatnya. Mulai hari ini, kita berdua... cukup sampai di sini. Kita berakhir."
"Jaga dirimu baik-baik."
Setelah Shen Xian pergi, Yu Ling duduk di sana lama sekali. Air matanya tak henti mengalir, seperti anak kecil tersesat di rimba malam.