Bab Delapan Puluh
Bab 80: Semoga Gunung dan Lautan Dapat Tenang
Song Wanyu terbangun dalam keadaan setengah sadar, kepalanya masih terasa sedikit pusing. Saat membuka mata, ia melihat suasana yang sudah sangat akrab baginya. Ia kembali memejamkan mata, lalu saat benar-benar terbangun, waktu sudah menunjukkan lebih dari pukul sepuluh.
Ia sontak tersentak bangun, duduk di atas ranjang dan mulai merenungi hidupnya. Ia mencoba mengingat kejadian semalam, apa yang sebenarnya terjadi? Ia mengetuk kepalanya dengan tangan, apakah ia semalam diantar pulang oleh Shen Ziyan?
Setelah membersihkan diri, ia turun ke lantai bawah. Namun, rumah terasa sepi, tak ada siapa pun di lantai satu. Ia pun kembali ke kamar Shen Ziyan, namun pria itu juga tidak ada di sana.
“Kakak Ziyan,” panggilnya lembut.
“Kakak Ziyan?” panggilnya sekali lagi.
Ke mana orang itu?
Tiba-tiba, ia mendengar suara dari bawah. Ia pun turun lagi, dan melihat Shen Ziyan masuk dengan membawa dua kantong besar di tangannya.
“Itu apa?” tanyanya heran.
“Buka saja, lihatlah sendiri,” jawab Shen Ziyan sambil mengangkat alisnya.
Ia melihat Song Wanyu berdiri tanpa alas kaki, lalu segera mengambilkan sepasang sandal untuknya.
“Itu makanan dari warung dekat sekolah menengah kita dulu,” ujar Song Wanyu dengan riang. Ia tak merasa rindu sebelum melihatnya, namun kini rasa ingin mencicipinya begitu besar.
Shen Ziyan membawa sandal itu, lalu berjongkok di hadapannya, mengangkat kakinya dan memakaikan sandal dengan sabar.
Ah... ia lupa memakai sandal.
Shen Ziyan dengan telaten membantunya memakai sepatu. Saat itu, ia benar-benar merasa seperti seorang putri yang berada di singgasana, dan Shen Ziyan menatapnya dari bawah.
“Sudah, cepat dicoba rasanya,” ujar Shen Ziyan.
“Baik,” jawab Song Wanyu.
“Kapan kamu membelinya?” tanyanya lagi.
“Sebelum kamu bangun,” sahut Shen Ziyan santai.
“Kamu bangun pagi sekali,” gumam Song Wanyu.
“Dalam sebuah rumah, pasti harus ada yang lebih dulu bangun, kan?”
Song Wanyu membelalakkan mata bulatnya, memandang Shen Ziyan dengan penuh rasa ingin tahu.
“Kamu tidak mau makan?” tanyanya.
“Makanlah dulu, aku belum terlalu lapar,” jawab Shen Ziyan.
Song Wanyu pun mulai mencicipi makanan itu, suap demi suap.