Bab 1 Penumpang Gelap

Penyusup dari Dunia Abadi Mu Leng 3401kata 2026-02-07 20:06:33

Ketika Qiu Feng terbangun, ia mendapati petir emas di langit telah lenyap, dan tempatnya berada pun bukan lagi di Gunung Tiandao, melainkan di sebuah wilayah yang sangat tandus. Ia yakin inilah tanah gersang yang sebelumnya ia lihat lewat sambaran petir emas.

Selama bertahun-tahun, ia telah menjelajahi setiap sudut dunia para pembudidaya keabadian, dan ia bisa memastikan bahwa tempat ini bukanlah dunia yang pernah ia kenal. Jelas, saat menahan petir surgawi, ia telah dipindahkan ke tempat ini. Qiu Feng secara naluriah mengira inilah Alam Dewa, dunia para dewa yang dicapai setelah berhasil melampaui petir surgawi. Namun, pemandangan di sekeliling yang tandus membuatnya sulit mempercayai bahwa inilah dunia para dewa yang didambakan oleh semua pembudidaya keabadian.

Walaupun sudah tiga juta tahun tidak ada satu pun pembudidaya yang berhasil menembus petir dan naik ke Alam Dewa, semua orang tahu bahwa kenaikan itu baru terjadi setelah seluruh kekuatan spiritual dalam tubuh pembudidaya berubah menjadi kekuatan abadi. Saat itulah formasi pemindahan Alam Dewa akan merasakannya dan menjemput si pembudidaya untuk terangkat. Biasanya, setelah keberhasilan menahan petir, perubahan kekuatan spiritual menjadi kekuatan abadi memakan waktu antara satu bulan hingga satu tahun. Belum pernah terdengar ada yang langsung naik ke Alam Dewa saat proses menahan petir.

Qiu Feng pun tak sepenuhnya paham apakah dirinya sudah benar-benar berhasil menahan petir surgawi. Namun, ia sangat yakin bahwa kekuatan spiritual dalam tubuhnya belum berubah menjadi kekuatan abadi. Satu-satunya hal yang jelas baginya, saat melewati petir surgawi, ia tanpa sengaja mengaktifkan sebuah formasi pemindahan misterius dan terlempar ke ruang yang belum pernah ia kenal.

Apa sebenarnya tempat ini? Hal itu masih harus ia pelajari. Meski tempat ini tandus, namun energi spiritualnya jauh lebih pekat dibandingkan wilayah mana pun yang pernah ia datangi sebelumnya.

Tiba-tiba, Qiu Feng merasakan dadanya berdebar ketakutan. Sebuah niat membunuh yang kuat menyapu dirinya, diikuti suara langkah kaki berat yang sama sekali bukan suara yang bisa dihasilkan oleh manusia.

"Celaka, rupanya nasibku sedang buruk belakangan ini," gumam Qiu Feng dalam hati, merasa sangat tertekan.

Ia segera memanggil sebuah pedang spiritual dan melesat ke udara. Pedang abadi miliknya, Pedang Lingyun, telah hancur saat menahan petir. Meskipun pedang spiritual ini bukan senjata utamanya, kualitasnya sangat tinggi sehingga mampu membawanya terbang tanpa kendala.

Dari udara, Qiu Feng akhirnya bisa melihat sumber bahaya yang ia rasakan: seekor siluman raksasa dengan tubuh yang amat besar. Siluman itu memiliki empat kaki, tiap kaki setinggi tiga meter, dan memiliki dua kepala—satu menyerupai gajah, satu lagi seperti singa. Di mata Qiu Feng, makhluk ini benar-benar raksasa menakutkan.

"Ternyata seorang manusia. Sudah lama sekali aku tidak melihat manusia. Kau telah mengganggu tidurku, dosa apa yang pantas kau terima?" Kepala singa siluman itu membuka mulut dan melontarkan kata-kata dalam bahasa yang Qiu Feng tak mengerti. Namun, dari gelombang pikirannya, Qiu Feng bisa memahami maksud makhluk itu.

"Intinya kau ingin membunuhku, kan? Tak perlu cari alasan. Kalau berani, lakukan saja!" Qiu Feng merasakan bukan hanya niat membunuh, tapi juga permusuhan dari siluman itu. Ia tak tahu kenapa makhluk itu ingin membunuhnya, tapi di dunia pembudidaya, bertahan hidup tak pernah butuh alasan panjang.

"Tak kusangka di tanah yang hampir punah itu masih ada manusia bisa naik derajat. Hebat juga. Sayang sekali kau bertemu denganku, nasibmu pasti berakhir di sini!" Gelombang pikiran siluman itu kembali muncul, seolah ia sama sekali tidak menganggap Qiu Feng lawan, melainkan hanya mangsa yang sudah di mulutnya.

Bersamaan dengan itu, belalai gajah siluman itu melayang ke arah Qiu Feng yang sedang terbang, menghempaskan angin tajam yang tak mampu ia lawan. Qiu Feng sadar betul bahwa ia bukan tandingan siluman ini, entah apa pun tingkat kekuatan makhluk itu. Melawan secara langsung bukan jalan keluar. Ia hanya bisa menghindar dulu, sambil mencari celah.

Dengan mengendalikan pedang terbang di bawah kakinya dan memanfaatkan hempasan angin dari belalai siluman itu, Qiu Feng melesat menjauh secepat mungkin, sambil mengamati situasi sekitar. Ia tahu, mustahil benar-benar bisa melarikan diri. Wilayah di sekitar sini kemungkinan besar adalah teritori siluman itu, dan kecepatannya pun pasti tidak kalah. Untuk saat ini, ia hanya bisa bertahan dan berharap menemukan celah untuk melawan.

Siluman itu tampaknya tidak menyangka Qiu Feng bisa menghindari serangannya. Namun, ia tidak marah, malah tertawa dingin dalam gelombang pikirannya. Belalai gajahnya ditarik kembali, lalu kepala singanya menganga lebar.

Qiu Feng segera merasa firasat buruk. Kepala singa siluman itu dengan cepat berubah menjadi besar, lalu berubah menjadi sebuah ruang hitam seperti lubang hitam.

Suara raungan mengerikan terdengar. Daya isap dahsyat keluar dari ruang hitam itu. Qiu Feng memacu pedang terbangnya sekuat tenaga, namun tetap tidak bisa lepas dari pengaruh daya isap tersebut. Ia hampir tersedot masuk ke dalam lubang hitam itu. Tak disangka, ia yang tak mati di bawah sambaran petir, kini harus berakhir di perut siluman ini.

"Aaaargh!" Qiu Feng menjerit penuh penyesalan. Ia bahkan belum sempat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, di mana tempat ini, dan kini harus mati dengan cara yang tak jelas seperti ini. Rasanya lebih hina dibanding mati di bawah petir surgawi.

Jika memang harus mati, ia memilih untuk berjuang sampai akhir. Meski tak punya tenaga lagi, ia tetap mengerahkan semua alat spiritual yang bisa digunakannya, melemparkannya ke arah lubang hitam itu.

Tindakan Qiu Feng ini benar-benar dilakukan karena terpaksa. Ia bahkan tak berani menyebutnya sebagai perlawanan mati-matian, karena ia merasa dirinya tetap akan mati, sedangkan lawannya tak akan celaka.

Tiga suara menggelegar terdengar beruntun. Yang ia ingat jelas adalah suara terakhir, yaitu pantatnya sendiri yang terhempas keras ke tanah.

Pada saat bersamaan, pedang terbang yang tadi ia injak menancap di sampingnya. Ia merasakan seluruh ancaman bahaya tiba-tiba sirna.

Qiu Feng menoleh ke arah siluman itu. Ia melihat darah dan daging berserakan, namun di tengah percikan darah itu melayang sebuah menara putih yang sama sekali tidak ternoda, tampak begitu suci dan agung.

Menara putih itu adalah senjata abadi keduanya, sangat rahasia, bahkan Qiu Feng sendiri baru menyadari bahwa menara itu telah mengalami perubahan. Menara ini dulu ia dapatkan secara kebetulan dari tangan seorang manusia biasa yang tak pernah berlatih ilmu keabadian. Awalnya, Qiu Feng hanya menganggapnya sebagai hiasan belaka. Namun, ketika secara tak sengaja disentuh oleh Pedang Lingyun miliknya, menara itu tidak rusak, bahkan tidak meninggalkan bekas sedikit pun.

Dengan kekuatan dan pencapaiannya di dunia pembudidaya, nyaris tak ada benda yang tak bisa ia teliti, kecuali menara putih ini. Setelah mendapatkannya, ia mengikat menara itu dengan darah sebagai tanda kepemilikan dan meneliti habis-habisan. Yang ia tahu, menara itu sangat keras. Bahkan Pedang Lingyun miliknya pun tak mampu menggoresnya. Jika ia menyalurkan kekuatan spiritual, menara itu bisa membesar. Namun, fungsi lain dari menara itu masih belum ia ketahui.

Di dunia pembudidaya, satu-satunya saat ia menggunakan menara putih ini adalah ketika menahan petir surgawi. Bagi Qiu Feng, menara ini menyisakan terlalu banyak misteri. Namun, satu hal yang pasti, kejadian barusan adalah ulah menara putih ini.

Suara pertama tadi adalah teriakan ketakutan siluman itu saat melihat menara putih, suara kedua adalah tubuh siluman yang hancur, dan suara ketiga adalah tubuh Qiu Feng yang jatuh ke tanah. Ia tahu, untuk sementara ia selamat. Ia menyebut sementara, karena di tempat asing ini, terlalu banyak hal yang belum diketahui.

“Susut!” Qiu Feng menggerakkan pikirannya, menggenggam menara putih itu di tangan. Ia mencoba berkomunikasi dengan menara lewat kesadaran spiritualnya. Sebenarnya, ia sudah sering mencoba saat masih di dunia pembudidaya, tapi menara itu tak pernah merespons. Qiu Feng sempat mengira menara itu tak memiliki kesadaran.

"Anak muda, kau berutang lagi padaku!" Tiba-tiba, terdengar suara lemah dalam pikirannya, menara itu justru kali ini membalas Qiu Feng.

"Kau adalah roh alat menara putih itu? Barusan kau yang menyelamatkanku?" tanya Qiu Feng terkejut. Pernah suatu ketika, saat ia berdiri di puncak dunia pembudidaya, siapa yang berani tak menghormatinya? Tapi kini, roh alat ini malah memanggilnya "anak muda".

"Jelas saja. Dengan kekuatan selemat-mu sekarang, kau sudah jadi santapan siluman gajah-singa itu!" jawab roh menara putih dengan penuh ejekan.

Qiu Feng akhirnya tahu, makhluk barusan bernama siluman gajah-singa.

"Bisa kau ceritakan, apa sebenarnya menara putih ini?" tanya Qiu Feng. Ia bahkan lebih penasaran soal menara itu daripada kejadian barusan.

"Karena kita punya ikatan jiwa, biar kujelaskan. Aku adalah roh alat dari Menara Tiada Batas, sudah ada sejak lama, hanya saja selama ini aku tertidur. Petir surgawi saat kau menahan petir kemarin membangunkan aku," jawab roh Menara Tiada Batas, mengurai kebingungan di hati Qiu Feng.

"Jadi, kau bangun karena menyerap kekuatan petir surgawi?" Qiu Feng mulai menebak. Ia bisa merasakan bahwa roh menara ini cukup licik, tidak menempatkan dirinya sebagai tuan. Namun, jika menaranya memang seperti itu, sungguh menakutkan!

"Tak kusangka, meski kekuatanmu lemah, kau cukup cerdas," jawab roh menara itu, sedikit terkejut.

Meski sudah bersiap, Qiu Feng tetap terkejut mendengar penjelasannya. Petir surgawi adalah kekuatan penghancur yang dahsyat, namun menara ini bukan hanya tidak takut, malah bisa menyerap dan mengubahnya jadi kekuatan sendiri. Konsep seperti itu sungguh luar biasa!

"Kalau kau bisa menyerap kekuatan petir surgawi, berarti keberadaan kita di sini juga ulahmu?" Qiu Feng segera menyinggung hal penting.

"Aku menyerap kekuatan petir surgawi hingga cukup menyimpan kekuatan abadi, lalu mengaktifkan formasi pemindahan Alam Dewa, itulah yang membuat kita berpindah ke sini!" jawab roh Menara Tiada Batas tanpa basa-basi.

Jawaban itu membuat Qiu Feng terpaku. Selama ini ia mengira wajar jika sebuah alat memiliki roh, tapi baru kali ini ia mendengar ada alat yang punya kekuatan abadi sendiri, bahkan bisa menyerap dan mengolah kekuatan luar lalu mengubahnya menjadi kekuatan abadi miliknya.

Qiu Feng akhirnya paham, kenapa roh menara itu berkata ia kembali berutang budi. Ucapan "kembali" itu mengacu pada kejadian saat menahan petir surgawi. Jika bukan karena Menara Tiada Batas menyerap kekuatan petir, ia sudah mati tersambar petir.

Satu hal lagi yang membuat Qiu Feng cukup tertekan, adalah bahwa menurut jalur resmi kenaikan derajat, ia kini malah menjadi imigran gelap di Alam Dewa.