Bab 10 Merancang Perangkap
"Kekuatan auman singa-gajahmu lumayan hebat, hanya saja konsumsi energi jiwamu cukup besar. Aku beri kau waktu sebulan untuk memulihkan diri. Sebulan lagi, mari kita buat wilayah ini jadi lebih ramai!" Setelah mendengar permohonan ampun dari singa-gajah, Qiu Feng menghentikan aliran seni bela dirinya. Ia memang tidak berniat membunuh singa-gajah. Ini bukan sekadar latihan, melainkan pertempuran sungguhan. Baik Qiu Feng maupun singa-gajah sama-sama terluka, jelas ini bukan waktu terbaik untuk berburu balik. Mereka berdua butuh waktu untuk menyembuhkan diri.
Qiu Feng langsung memindahkan singa-gajah ke dalam Menara Langit Tanpa Batas untuk memulihkan diri. Saat ini, ia memang agak khawatir jika para binatang buas di bawah komando Pemimpin Tanduk Badak menemukan mereka, soalnya kekuatan mereka sekarang sangat lemah. Ia tak ingin sembarangan membuang kesempatan Menara Langit Tanpa Batas untuk turun tangan.
Pertarungan kali ini memberi Qiu Feng banyak pelajaran. Ia berhasil mengembangkan fungsi baru dari seni bela dirinya, dan fungsinya ini benar-benar menakutkan. Biasanya, saat menghadapi serangan lawan, orang memilih menyerang balik, bertahan, atau menghindar. Namun, dengan seni bela diri tanpa batas, Qiu Feng bisa menerima serangan lawan dengan tenang, lalu langsung mengubah energi serangan itu menjadi kekuatan spiritual dan energi jiwanya sendiri.
Tentu saja, cara ini tidak bisa ia gunakan sembarangan. Ia harus memastikan dirinya cukup kuat menahan serangan itu, baik secara fisik maupun secara jiwa. Jika tidak, bisa saja ia terbunuh oleh energi yang ditransfer.
"Dengan kemampuanku sekarang, aku bisa menghadapi binatang buas tingkat jenderal kelas tiga secara langsung. Untuk tingkat empat, aku harus mengeluarkan jurus lain." Tujuan Qiu Feng bertarung melawan singa-gajah memang untuk menguji kekuatannya. Ternyata, dengan kekuatan murninya saat ini, ia sudah bisa melawan binatang buas tingkat tiga. Untuk tingkat empat, ia tentu akan meminjam energi spiritual dari dalam Menara Langit Tanpa Batas.
Hanya butuh tujuh hari, luka-luka Qiu Feng hampir sembuh total. Ia menggunakan seni bela diri tanpa batas untuk menyerap dan mengubah energi alam sekitar. Jika saja ia tidak khawatir menimbulkan kegaduhan dan menarik perhatian binatang buas, mungkin hanya butuh tiga sampai lima hari untuk sembuh total.
Setelah pulih, Qiu Feng merasakan tubuhnya semakin kuat. Energi jiwanya juga makin padat, meski belum menembus tingkat ketiga manusia setengah dewa, tapi sudah jauh lebih kokoh.
Dengan kondisinya saat ini, menghadapi auman singa-gajah mungkin masih terasa sakit, namun tak sampai melukainya. Hal ini makin meneguhkan niat Qiu Feng untuk mulai berburu binatang buas di bawah komando Pemimpin Tanduk Badak.
Qiu Feng sendiri tidak menyangka efek penyembuhan dari seni bela dirinya begitu dahsyat. Berdasarkan kesepakatannya dengan singa-gajah, masih tersisa lebih dari dua puluh hari. Ia pun merasa harus mencari kegiatan lain selama waktu itu.
Lalu, apa yang mesti ia lakukan? Berlatih seni bela diri tanpa batas untuk meningkatkan kekuatan? Di sini ia tak bisa berlatih dengan bebas, hasilnya pun tak seberapa. Lebih baik masuk ke Menara Langit Tanpa Batas dan mempelajari Formasi Tanpa Batas.
Formasi Tanpa Batas bukan hanya inti dari seni bela dirinya, tapi juga bisa meningkatkan kemampuannya dalam meramu senjata. Yang terpenting, ia sudah merasakan manfaat seni bela diri tanpa batas dan ingin segera memperdalamnya.
Saat ini, Qiu Feng baru membuka delapan titik energi utama. Langkah berikutnya adalah membuka enam belas titik, yang berarti kecepatan menyerap dan mengubah energi akan meningkat setidaknya dua kali lipat.
Tentu saja, memahami formasi bukan hal yang instan, apalagi Qiu Feng saat ini tak bisa langsung meneliti formasi tingkat lima, melainkan harus langsung menghadapi Formasi Tanpa Batas yang sangat mendalam dan rumit.
Akibatnya, meski memberinya wawasan baru tentang formasi, tapi tingkatan itu terlalu tinggi—ibarat anak SD dipaksa belajar mata kuliah universitas. Walau Qiu Feng jenius, tetap saja sulit mempelajari lebih lanjut, hasilnya pun tidak sebanding dengan usaha.
Namun, sesulit apa pun, Qiu Feng tak punya alasan untuk menyerah. Lingkungan pelatihan di alam dewa sangat keras, dan saat ini ia sulit mendapatkan pelajaran formasi yang sistematis. Semua tergantung pada dirinya sendiri.
Sebulan pun berlalu. Di dalam Formasi Tanpa Batas, Qiu Feng tak mendapat kemajuan berarti. Untuk memahami versi paling sederhana saja, ia butuh waktu tiga tahun penuh, dan itu pun baru setara dengan formasi tingkat empat.
"Dulu kau pernah bilang wilayah ini merupakan batas antara daerahmu dan satu penjaga formasi lain. Ceritakan tentang penjaga formasi itu padaku!" Qiu Feng menarik keluar singa-gajah dari Menara Langit Tanpa Batas dan langsung bertanya.
"Dia seekor reptil menyebalkan, namanya Ular Nagawan, keturunan naga air. Tapi darah naganya sudah sangat tipis, sekarang punya kekuatan setara jenderal binatang buas tingkat empat!"
Jelas, singa-gajah memang punya masalah pribadi dengan tetangganya itu, setidaknya ia sangat membenci Ular Nagawan.
"Keturunan naga air dan sudah tingkat empat? Ini memang cukup menantang. Sepertinya kalian memang punya masalah lama?" Qiu Feng tersenyum ringan.
Meski naga air bukan makhluk setara dewa, ia tetap binatang buas tingkat tinggi. Keturunannya punya potensi dan kekuatan fisik jauh di atas binatang buas biasa seperti singa-gajah. Pada tingkat yang sama, mereka bisa dengan mudah mengalahkan binatang biasa, apalagi jika tingkatnya lebih tinggi. Menindas singa-gajah adalah hukum alam.
Singa-gajah tidak menyembunyikan apa-apa. Seratus tahun lalu, ia adalah penjaga formasi di wilayah yang kini dikuasai Ular Nagawan. Saat itu, ia menemukan satu batang Rumput Bintang dan menjaganya selama tiga puluh tahun. Namun, ketika hampir matang, Ular Nagawan datang sebagai tamu tak diundang.
Saat itu, baik Ular Nagawan maupun singa-gajah sama-sama tingkat tiga. Ular Nagawan menerobos masuk, merebut Rumput Bintang, dan melukai singa-gajah. Dari situlah permusuhan mereka bermula.
Ular Nagawan berhasil naik ke tingkat empat setelah memakan Rumput Bintang. Singa-gajah bukan hanya kehilangan rumput yang dijaga selama tiga puluh tahun, tapi juga terluka. Ia sangat membenci Ular Nagawan. Ketika Ular Nagawan masih tingkat tiga saja ia bukan lawannya, apalagi sekarang sudah tingkat empat.
Walaupun singa-gajah tak menganggap Qiu Feng sanggup mengalahkan Ular Nagawan, ia percaya bila mereka bekerjasama, ditambah menara putih milik Qiu Feng yang menakutkan, membunuh Ular Nagawan bukan hal mustahil. Maka ia pun diam-diam ingin mendorong Qiu Feng mengambil tindakan.
"Ternyata di alam dewa masih ada Rumput Bintang, harta langka seperti itu!" Qiu Feng sempat mengira setelah invasi iblis, alam dewa hanya tersisa kehancuran. Apalagi tempat yang ia tempati selama lebih dari tiga tahun nyaris tidak ada kehidupan. Tak disangka masih ada harta karun alam.
"Tentu saja masih ada, hanya saja kekuatanku terlalu lemah. Bertemu satu saja sudah susah, apalagi mempertahankannya," keluh singa-gajah.
Mendengar keluhan itu, Qiu Feng jadi sadar akan sesuatu. Selama ini pengetahuannya tentang alam dewa hanya dari singa-gajah dan perkiraannya sendiri. Ia lupa satu hal penting: kekuatan singa-gajah sangat terbatas, sehingga apa yang bisa ia ketahui pun sangat sedikit. Jika Qiu Feng ingin memahami kondisi alam dewa yang sebenarnya, ia harus keluar dan menjelajah sendiri.
"Baik, kalau begitu Ular Nagawan ini memang harus kita urus dulu!" Qiu Feng sudah mengambil keputusan. Ia tak hanya ingin membuat wilayah di bawah komando Pemimpin Tanduk Badak jadi ramai, tapi juga ingin keluar dari wilayah ini dan melihat sendiri keadaan alam dewa yang sesungguhnya.
Tatapan singa-gajah tampak penuh tekad. Ia sangat mendukung keputusan Qiu Feng. Sebelumnya, ia tak pernah membayangkan akan punya kesempatan membalas dendam langsung pada Ular Nagawan.
Andai lawannya binatang buas tingkat empat lain, Qiu Feng mungkin akan menghindar. Dengan kemampuannya saat ini, melawan binatang tingkat empat saja sudah sulit, apalagi keturunan naga air. Namun, Qiu Feng tetap memilih Ular Nagawan sebagai target utama, bukan karena emosi atau demi membalaskan dendam singa-gajah, melainkan karena ia menangkap keserakahan Ular Nagawan dari kisah Rumput Bintang.
Rumput Bintang itu hanya dinikmati oleh Ular Nagawan sendiri, artinya ia tidak menyebarkan kabar tentang harta itu. Kalau tidak, yang akan mendapatkan Rumput Bintang pasti Pemimpin Tanduk Badak, atau bahkan makhluk yang lebih kuat lagi.
Singa-gajah memang dirugikan, tapi juga tak berani menyebarkan soal Rumput Bintang direbut Ular Nagawan. Sebab, ia sudah menjaga rumput itu selama tiga puluh tahun tanpa melapor. Jika rahasianya bocor, keduanya akan celaka.
Dua binatang buas yang saling bermusuhan memilih menyimpan rahasia yang sama. Qiu Feng tahu persis, Ular Nagawan pasti ingin membunuh singa-gajah diam-diam agar rahasianya tetap aman. Namun, ia belum pernah mendapat kesempatan.
Kini, Qiu Feng bermaksud memberikan Ular Nagawan kesempatan itu, yaitu saat ia bisa membunuh singa-gajah tanpa diketahui siapa pun. Qiu Feng yakin, setelah menemukan singa-gajah, Ular Nagawan tak akan melapor pada Pemimpin Tanduk Badak, apalagi pada binatang lain.
Inilah yang Qiu Feng butuhkan. Tak lama kemudian, Qiu Feng dan singa-gajah sudah memasuki wilayah Ular Nagawan. Ia langsung merasakan energi spiritual di sini jauh lebih pekat daripada di wilayah singa-gajah. Ia juga melihat beberapa tumbuhan, menyapu pandangan gersang sebelumnya. Padahal ini baru bagian luar wilayah itu.
Wilayah ini dulunya memang milik singa-gajah. Setelah seratus tahun menguasai dan mengenal, ia tahu persis kondisi di sini. Qiu Feng mengikuti di belakang, mengamati lingkungan sekitar dengan saksama.
Ular Nagawan jelas bukan lawan mudah. Qiu Feng tidak boleh memberinya kesempatan kabur. Karena itu, sebelum bertarung, ia harus menyiapkan formasi yang bisa menjebaknya.
"Baik, di sinilah tempatnya!" Qiu Feng berhenti di sebuah lembah gunung. Medan di sini sangat cocok untuk memasang Formasi Penjara Naga Delapan Penjuru, formasi tingkat empat yang ia kuasai di alam bawah. Setelah ia racik ulang, kekuatannya bisa mendekati formasi tingkat lima.
Formasi Penjara Naga Delapan Penjuru mengandalkan bentuk alam. Bukan hanya binatang buas yang tak paham formasi, bahkan manusia ahli formasi pun belum tentu sadar jika tidak melakukan pengamatan teliti. Sekarang tinggal menunggu singa-gajah memancing Ular Nagawan masuk ke dalam formasi itu.
Meski tahu memancing Ular Nagawan sangat berbahaya, singa-gajah tetap berangkat tanpa ragu. Pertama, karena kebenciannya pada Ular Nagawan sudah mendalam; kedua, ia percaya pada kemampuan Qiu Feng.