Bab Tiga Puluh Delapan: Berpura-pura di Hadapan Orang (1)
Keesokan paginya, sejak matahari belum tinggi, Huan sudah menuju ke kediaman keluarga Shen. Semalam ia hampir tak bisa memejamkan mata, gelisah berbalik ke kanan ke kiri, tertawa dan menangis berkali-kali hingga matanya membengkak. Ia sudah mencoba berbagai cara agar bengkaknya mereda sedikit.
Di lantai dua, Yi Chen mondar-mandir dengan gelisah di dalam kamar, sama sekali tak bisa tenang. Menyebalkan sekali gadis itu, bukankah sudah diminta datang pagi-pagi? Kenapa sampai sekarang belum juga datang?
Tiba-tiba, terdengar suara dari bawah. Yi Chen segera melangkah lebar ke arah pintu, menempelkan telinga, mendengarkan dengan saksama.
“Huan, ada angin apa kau datang pagi-pagi begini?” tanya Shi Ping dengan nada sedikit terkejut ketika melihatnya.
“Paman Shen, aku mau mencari Yi Chen. Apakah dia ada di rumah?” Huan menjawab dengan senyum ceria, belum paham kenapa paman itu tampak begitu heran.
“Ada, kau... ada urusan apa dengannya?” Shi Ping bertanya dengan nada penuh tanda tanya; maklum, Huan bukan tipe yang suka main ke kediaman keluarga Shen.
Huan hanya tersenyum tipis, pipinya memerah, setengah malu ia berkata, “Dia sendiri yang memintaku datang...”
Meskipun belum tahu pasti kenapa Shi Ping begitu terkejut, Huan tetap memilih jujur.
“Yi Chen yang memintamu datang?” Shi Ping tertegun mendengarnya. Ia tak meragukan ucapan Huan, namun perubahan sikap anaknya itu sungguh terasa mendadak.
“Benar, Paman.” Huan mengangguk, tersenyum lembut. “Apakah dia di dalam?”
Kening Shi Ping makin berkerut, ia merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik semua ini.
Sejak kapan Yi Chen jadi begitu inisiatif, bahkan sampai mengundang Huan secara langsung ke rumah...
Akhirnya Shi Ping hanya mengiyakan, lalu berseru keras, “Bu Li, tolong panggilkan Yi Chen turun ke bawah.”
Tak lama kemudian, Yi Chen sudah turun dari lantai atas, kedua tangan dimasukkan ke saku, dada tegak, kepala terangkat. Tatkala matanya bertemu dengan ayahnya, ia semakin terlihat puas, seperti seorang pemenang. Segala cara bisa dicari, akhirnya ia tetap bisa keluar dari jeratan.
“Yi Chen!” Begitu melihatnya turun, Huan melangkah beberapa langkah ke arahnya dan memanggil dengan suara penuh kegembiraan. Mata beningnya hanya menatap Yi Chen, seolah dunia ini hanya ada satu orang baginya.
Dari kejauhan, Yi Chen langsung melihat lingkaran gelap di bawah mata Huan. Dalam hati ia sudah paham, perubahan sikapnya kemarin begitu mendadak; kalau Huan bisa tidur nyenyak semalam, itulah yang aneh.
Berpura-pura iba, Yi Chen melangkah mendekat dan mengusap lembut bawah mata Huan dengan ujung jarinya. Suaranya hangat, penuh kelembutan dan sedikit manja, “Kenapa matamu sampai ada lingkaran hitam begini? Tidak tidur nyenyak ya? Bukankah aku sudah bilang suruh tidur lebih awal?”
Tatapan matanya begitu lembut, suara penuh kasih sayang dan sedikit teguran. Begini lembutnya Yi Chen, sebelumnya hanya Joana yang pernah melihat.
Huan memandangnya dengan mata terbelalak, lama baru bisa bereaksi. Ia menundukkan kepala, berbisik lirih, “Tidak apa-apa...”
Yi Chen mengangkat tangan, merapikan helai rambut Huan yang jatuh di belakang telinga. Ia tersenyum tipis, “Lain kali harus tidur lebih cepat, mengerti?”
Gerakan kecil Yi Chen membuat tubuh Huan mendadak kaku, matanya mulai berkaca-kaca. Ia hanya bisa mengangguk pelan.
Tatapan Yi Chen begitu jernih, tak ada lagi ketegasan seperti sebelumnya, yang tersisa hanya lautan kasih sayang. Senyumnya hangat, seperti arak tua yang semakin diminum, semakin membuat orang tenggelam. Dalam kebingungan, Huan merasa lelaki yang ia nanti-nantikan selama ini, kini benar-benar berdiri di hadapannya. Ia akhirnya menunggu sampai saat ini. Hatinya terasa nyeri, pada detik itu, ia hampir saja menangis.
Yi Chen hanya bisa menggelengkan kepala, menatap Huan yang tampak polos dan matanya yang mulai memerah. Ia merangkul bahunya, menepuk pelan untuk menenangkan, “Sudahlah, semuanya salahku dulu.”
---
Sahabat-sahabat, jangan lupa simpan cerita ini ya, semakin banyak yang menyimpan, nanti akan ada kelanjutan tambahannya!