Bab Tiga Puluh Tujuh: Kelembutan di Tengah Malam (2)
Mendengar panggilan itu lagi, Huan tiba-tiba sadar dan mencubit lengannya sendiri dengan keras. Ketika rasa sakit menjalar di lengannya, barulah ia sadar bahwa semua ini bukan mimpi, juga bukan halusinasi!
Suaranya memang sudah merdu, seperti anggur dingin—jernih dan lembut, dalam serta mantap. Saat ia berbicara dengan nada lembut, suaranya mengalun mulus dan bulat. Hanya dengan mendengarnya, Huan tak sadar dirinya larut, hatinya seolah runtuh, menjadi lunak dan lemah.
Dadanya langsung dipenuhi kegembiraan, ujung jari yang menggenggam ponsel pun sedikit gemetar. Hampir tercekat, Huan menjawab pelan, “Aku di sini, aku ada!”
Begitu mendengar jawabannya, Yi Chen baru menghela napas lega. Dengan suara lembut dan perlahan, ia berkata, “Huan, aku benar-benar minta maaf atas perlakuanku waktu itu padamu...”
Ucapan Yi Chen begitu tiba-tiba, menabrak relung hati Huan saat ia sama sekali tidak bersiap. Nada bicaranya sangat tulus, hingga Huan tak sanggup bereaksi seketika, bahkan lupa membedakan apakah itu sungguh atau tidak, hanya mampu menjawab dengan gugup, “Tidak... tidak apa-apa...”
Hening sejenak, jantung Huan berdebar-debar menanti kalimat selanjutnya. Namun Yi Chen tiba-tiba bertanya lirih, “Huan, kau benar-benar tidak marah padaku?”
Entah telinganya salah dengar atau tidak, Huan mendengar sedikit rasa bersalah dan penyesalan dari nada suaranya. Karena suara itu, ia tertegun, hatinya tanpa sadar melunak, bibirnya terangkat tipis, lalu menjawab lembut, “Yi Chen, bagaimana mungkin aku bisa marah padamu?”
Ia bukanlah wanita bodoh, hanya saja Yi Chen adalah pria yang telah ia cintai selama sepuluh tahun. Bagaimana mungkin hatinya gampang menaruh dendam? Terhadap Yi Chen, Huan sama sekali tak punya daya tahan. Satu kata lembut darinya saja sudah cukup membuat Huan rela menyerahkan segalanya, membiarkan dirinya diperlakukan sesuka hati.
Jawabannya membuat Yi Chen terdiam. Ia kira, setelah semua yang terjadi, Huan paling tidak akan membalasnya beberapa kata. Tak disangka, justru Huan yang menenangkannya. Di dalam dirinya, seolah mengalir kehangatan yang lembut. Yi Chen merendahkan suara, semakin lembut ketika berkata, “Huan, aku ingin bertemu denganmu...”
“Bertemu... denganku?” Huan terkejut. Ini pertama kalinya Yi Chen mengajaknya bertemu secara langsung.
“Kau tahu, pernikahan adalah urusan besar dalam hidup. Sebelumnya setiap pertemuan kita selalu tak menyenangkan. Jadi, aku ingin bertemu, duduk bersama, berbicara baik-baik, saling mengenal lebih dalam. Bagaimana menurutmu?” Suaranya begitu lembut, hingga Huan membayangkan di seberang sana ia mungkin sedang tersenyum saat berkata begitu.
Apakah akhirnya ia benar-benar ingin melihat hatinya? Benarkah ia akhirnya ingin mengenal dirinya? Sudahkah penantiannya selama ini terbalas?
Dengan satu tangan, Huan menggenggam erat selimut, air mata mengalir deras. Cepat-cepat ia menutup mulut, menggigit bibir bawah kuat-kuat, takut suara isak tangisnya terdengar oleh Yi Chen. Setelah beberapa saat menenangkan diri, barulah ia bisa berkata pelan, “Baik... aku menurut saja padamu...”
Begitu kata-kata itu terucap, air matanya pun membanjir tanpa henti.
Penantiannya terlalu berat. Saat hatinya hampir mengering, apakah akhirnya ia benar-benar berhenti dan melihat dirinya?
Kepasrahan Huan membuat hati Yi Chen tenang. Senyum tipis akhirnya terukir di bibirnya ketika bertanya lembut, “Kalau begitu, besok datanglah ke rumahku, bagaimana?”
Belum pernah Huan mendengar Yi Chen berbicara selembut ini kepadanya—tanpa perintah, tanpa hinaan, hanya menanyakan dan menghargai pendapatnya.
Hatinya bergejolak hebat, pikirannya hampir tak bisa bekerja. Huan bahkan kesulitan menyambung kata, “Baik... baik, aku pasti datang tepat waktu... pasti tepat waktu...”
“Kalau begitu, besok aku tunggu di rumah. Hati-hati di jalan, sekarang sudah malam, tidurlah lebih awal.” Seperti pasangan kekasih pada umumnya, Yi Chen menenangkannya dengan penuh perhatian, tak lagi membentak seperti dulu.
Masih terasa seperti di dalam mimpi, Huan tak bisa membedakan apakah ini nyata atau tidak. Ia hanya menjawab dengan linglung, “Baik...”
Sebelum menutup telepon, Yi Chen bahkan dengan lembut mengucapkan “Selamat malam” pada Huan, lalu baru memutuskan sambungan.
Hanya dalam beberapa menit, Yi Chen berkali-kali memberi kejutan pada Huan. Beberapa kalimatnya dengan mudah membuat Huan menundukkan kepala, seolah bertekuk lutut menerima segala titahnya.
Huan duduk membisu di atas ranjang, memandang ponsel yang kini hening. Ia merasa hatinya hampir berhenti karena kelembutan Yi Chen yang tiba-tiba, lama kemudian, jantungnya kembali berdegup kencang. Wajahnya terasa dingin, dan saat ia menyentuhnya, ternyata penuh air mata.
Tangannya menekan dada, merasakan debaran yang amat kencang. Saat itulah ia benar-benar percaya, semua ini nyata, ia masih hidup, dan yang baru saja terjadi bukanlah mimpi.
Dalam gelap, Huan membenamkan kepala di bawah selimut, perlahan-lahan menangis tersedu. Meskipun tertutup rapat, suara isaknya tetap terdengar—begitu pilu, namun juga begitu bahagia.
――――――――――――――――――――
Teman-teman, jangan lupa simpan cerita ini!