Bab Lima Puluh Enam: Pembelaan yang Tak Diketahui Sebabnya
Ucapannya membuat amarah Lu Zichen tak tertahankan, ia langsung mencengkeram kerah baju Shen Yichen, matanya membelalak penuh kemarahan, giginya bergemeletuk saat berkata, "Kau bajingan!"
Shen Yichen menunduk sedikit, menatap kerah bajunya yang dicengkeram Lu Zichen, alisnya semakin berkerut, lalu membentak dengan suara lantang, "Lepaskan tanganmu!"
Melihat kedua pria yang nyaris berseteru itu, hati Yu Huan semakin tegang. Ia tak mendengar apa yang dikatakan Shen Yichen, hanya melihat Shen menunduk seolah mengatakan sesuatu pada Lu Zichen, kemudian Lu Zichen pun seperti api yang disulut.
Meski Shen Yichen membentaknya dengan marah, Lu Zichen tetap mencengkeram kerahnya, rahangnya mengeras hingga terdengar suara gemeretak.
Melihat wajah Shen Yichen yang semakin kelam, Yu Huan lupa akan luka di kakinya, buru-buru melompat turun dari ranjang, menarik Lu Zichen dengan sekuat tenaga, lalu berdiri di depan Shen Yichen sambil membentangkan kedua lengan, menahan dengan suara geram, "Lu Zichen!"
Tarikan Yu Huan membuat Lu Zichen tersentak mundur dua langkah. Begitu stabil, ia baru menyadari tatapan waspada di mata Yu Huan, seolah gadis itu khawatir ia akan melukai Shen Yichen.
Senyum getir dan penuh penyesalan tersungging di wajahnya, lalu ketika menoleh, ia melihat ekspresi kemenangan di wajah Shen Yichen, sudut bibirnya dihiasi senyum seorang pemenang.
Tak bisa dipungkiri, perlakuan Yu Huan yang membelanya, sangat memuaskan harga dirinya sebagai pria.
"Huanhuan, dia tak pantas!" Lu Zichen menasihati Yu Huan dengan kening berkerut, nada suaranya penuh kekhawatiran dan ketulusan yang menyentuh hati.
Yu Huan tak bergeming, tetap berdiri melindungi Shen Yichen dengan kedua lengan terbentang, lalu memotong ucapan Lu Zichen dengan nada kesal, "Cukup, Lu Zichen, aku tahu apa yang kulakukan."
Melihat keteguhan hati Yu Huan dan tatapan menantang di wajah Shen Yichen, Lu Zichen sadar tak ada gunanya bicara lebih banyak. Ia melemparkan pandangan tajam seolah memperingatkan pada Shen Yichen, lalu melangkah keluar dari kamar rawat itu.
Pintu kamar ditutup dengan keras. Yu Huan menghela napas lemah, menurunkan kewaspadaan yang tadi, merasakan seluruh tenaganya seolah menguap, perlahan-lahan menurunkan kedua lengannya, tak lagi tampak kuat seperti sebelumnya.
Bahkan dia sendiri tak tahu mengapa barusan ia bisa begitu berani, seakan tubuhnya bergerak secara refleks, tanpa berpikir, sudah berdiri di depan Shen Yichen.
Baru ketika Yu Huan berdiri di hadapannya, Shen Yichen menyadari wajah gadis itu tampak pucat, tubuhnya lemah, seluruh rautnya menunjukkan kondisi sakit.
Perasaan sesak dan nyeri samar muncul di dada Shen Yichen. Ia mengerutkan dahi, ingin menanyakan penyakit Yu Huan, namun yang terucap justru, "Bagaimana? Cepat sekali kau sudah menemukan pengganti? Atau memang hanya kekasih lamamu?"
Nada bicaranya sarat akan sindiran. Yu Huan segera menoleh, matanya menyala oleh kemarahan dan kekecewaan.
Dengan senyum getir, Yu Huan merasa, tanpa menyakitinya, pria itu memang tak akan merasa puas, bukan?
Ia memalingkan wajah, berpegangan pada dinding dan perlahan melangkah menuju ranjang dengan susah payah.
Kakinya masih terasa nyeri berdenyut, meski tadi Lu Zichen sempat memijatnya, namun saat ia berlari dari tempat tidur ke depan Shen Yichen, rasa sakit di otot kakinya malah bertambah parah.
Setiap langkah terasa berat, betisnya gemetar, tubuhnya nyaris terjatuh dan sulit berdiri tegak.
Jarak yang hanya beberapa langkah itu, membuat Yu Huan berkeringat karena menahan sakit.
Dalam telepon sebelumnya hanya disebutkan Yu Huan dirawat di rumah sakit, tanpa penjelasan detail. Melihat Yu Huan berjalan terseok-seok, barulah Shen Yichen menyadari ada yang tak beres.
Alis hitamnya berkerut, Shen Yichen melangkah dua langkah mendekat, lalu menarik lengan Yu Huan, suaranya rendah dan tak senang, "Ada apa denganmu?"
Tarikan itu hampir membuat Yu Huan terjatuh. Begitu ia menstabilkan tubuh, reaksi pertamanya adalah menepis tangan Shen Yichen dengan keras, lalu berteriak marah dan menolak, "Jangan sentuh aku!"