Bab Tiga Belas: "Sahabat Sejati"
Halaman (1/3)
“Ah!”
“Ruan Lan! Kau menyerang diam-diam, rupanya!”
“Lelaki macam apa kau ini!”
Raungan Zhu Qing’an terdengar dari halaman.
Ye Li begitu terkejut sampai-sampai dagunya nyaris terlepas.
Dari mana Ruan Lan mendapatkan tenaga sebesar itu hingga mampu menendang Zhu Qing’an sekaligus kursinya sampai keluar rumah?
Ruan Lan sama sekali tidak memedulikan keterkejutan Ye Li. Ia hanya duduk dengan tenang lalu melanjutkan makannya.
“Makan saja.”
“Oh.”
Ye Li menurut.
Ia bahkan tidak berani membayangkan, seandainya tadi dirinya juga banyak omong seperti Zhu Qing’an, apakah ia akan ikut ditendang keluar?
Mungkin nasibnya akan lebih parah.
“Mau berteriak lagi?”
Ruan Lan melirik Zhu Qing’an dari sudut matanya.
Benar saja, Zhu Qing’an langsung diam.
Ia masuk kembali ke rumah, mengambil kursi lain, lalu duduk.
“Nanti perbaiki kursinya,” perintah Ruan Lan.
Zhu Qing’an mengangguk patuh. “Baik.”
Tadi ia masih bertingkah seperti seorang tuan besar, tetapi setelah menerima tendangan Ruan Lan, kesombongannya lenyap. Kini ia tampak seperti anak kucing yang jinak.
Setelah makan siang, Ye Li duduk di ambang pintu sambil merajut. Ruan Lan membersihkan bulu keledai, sedangkan Zhu Qing’an sibuk mengutak-atik kursi di halaman.
Setelah kira-kira setengah jam, Zhu Qing’an akhirnya selesai memperbaiki kursi itu dan membawanya masuk ke rumah.
Begitu keluar, Ye Li menatapnya dan bertanya, “Rumahmu di mana?”
Zhu Qing’an menoleh kepada Ruan Lan meminta bantuan. Namun Ruan Lan terus menyikat bulu keledai tanpa menghiraukannya.
Zhu Qing’an asal menyebutkan sebuah tempat untuk menjawab Ye Li. “Kakak Ipar, rumahku di Kota Mata Air Abadi.”
“Oh.” Ye Li menggaruk kepalanya, lalu mengingatkan, “Jalan menuju kota cukup sulit dilalui. Kau juga berjalan kaki, jadi sebaiknya berangkat lebih awal.”
Jarak antara Desa Sukacita Langit dan Kota Mata Air Abadi cukup jauh. Menempuhnya hanya dengan berjalan kaki akan menghabiskan banyak waktu. Jika Zhu Qing’an berangkat sekarang, mungkin ia masih bisa tiba di rumah sebelum matahari terbenam.
Tiba-tiba Zhu Qing’an menampilkan senyum menyebalkan. “Kakak Ipar mungkin belum tahu, aku datang kali ini dengan niat menumpang tinggal di rumah Kakak Ruan untuk sementara waktu. Kuharap Kakak Ipar tidak keberatan.”
Mendengar itu, Ye Li langsung bangkit dan menolak. “Tidak boleh!”
“Kenapa? Aku bisa membayar untuk tinggal di sini.” Zhu Qing’an sama sekali tidak menyangka Ye Li, yang tampak seperti orang tanpa banyak pikiran, ternyata akan menolaknya.
“Ini bukan soal uang. Rumah kami hanya punya dua kamar. Kalau kau tinggal, kau akan tidur di mana?”
Rumah itu hanya memiliki dua kamar dengan ruang utama di tengah. Di sebelah kamar Ye Li terdapat dapur, sedangkan di sebelah kamar Ruan Lan ada gudang kayu. Lantas, di mana Zhu Qing’an akan tidur?
Zhu Qing’an melambaikan tangan. “Tidak masalah. Aku bisa berbagi kamar dengan Kakak Ruan.”
Setelah beberapa hari “mengamati”, Zhu Qing’an tahu bahwa kedua orang itu tidur di kamar yang terpisah. Karena itulah ia mengusulkan untuk tidur sekamar dengan Ruan Lan.
Halaman (1/3)
“Ditolak mentah-mentah.”
Suara Ruan Lan terdengar dari kejauhan.
Wajah Zhu Qing’an seketika menghitam.
Namun, karena Zhu Qing’an terus memaksa tanpa tahu malu, pada akhirnya ia berhasil tinggal di sana.
Tengah malam, Ye Li tiba-tiba merasa pintu kamarnya diketuk. Ia bangkit dan membuka pintu, lalu melihat Ruan Lan berdiri di luar.
Lelaki itu memeluk sebuah bantal dan sehelai selimut. Tatapannya kepada Ye Li tampak sedikit mengelak.
Melihat gelagatnya, Ye Li segera menyadari bahwa Ruan Lan ingin tidur sekamar dengannya. Sebelumnya ia masih berkata bahwa laki-laki dan perempuan harus menjaga batas, tetapi sekarang justru datang sendiri ke hadapannya.
Kalau seseorang sudah datang menawarkan diri, mana mungkin ia menolak?
Terlebih lagi, orang itu adalah lelaki yang ketampanannya tiada tara.
“Masuklah.”
Ye Li sedikit menyingkir untuk memberi jalan.
Wajah Ruan Lan bergetar samar. Ia masih ragu bagaimana harus membuka pembicaraan, tetapi Ye Li langsung menerimanya. Hal itu membuatnya sedikit terkejut sekaligus tersanjung.
“Terima kasih.”
Setelah mengucapkan terima kasih, Ruan Lan masuk dan mulai menggelar alas tidur di lantai. Ye Li sampai tidak bisa berkata-kata melihat tindakannya.
Ia sudah tahu, di dunia ini tidak ada keberuntungan yang jatuh begitu saja dari langit.
Namun, siang hari saja sudah dingin, apalagi malam hari?
Ye Li berkata dengan agak cemas, “Tidur di lantai tidak akan terlalu dingin?”
Meskipun berada di dalam kamar dan sudah mengenakan pakaian dalam yang tebal, ia tetap merasa angin dingin menusuk menyusup masuk hingga tubuhnya sedikit menggigil.
Ruan Lan tidak memedulikannya. Ia menjawab datar, “Aku akan memakai selimut tebal.”
Kemudian ia menambahkan, “Lagipula, aku laki-laki. Tubuhku tidak selemah itu.”
Ucapan itu terdengar seperti sindiran kepada Ye Li. Ia pun hanya kembali ke ranjang.
“Terserah kau. Kalau nanti kedinginan, tambahkan saja selimut.”
Setelah mengatakan itu, Ye Li segera tertidur lelap.
Di sisi lain, Zhu Qing’an harus menanggung akibat dari “kepergian Ruan Lan di tengah malam”. Ruan Lan telah membawa barang paling penting miliknya, yaitu selimut, sehingga Zhu Qing’an beberapa kali terbangun karena kedinginan.
“Ruan Lan, semoga kau mendapat balasan!”
“Aku tidak akan pernah melupakan penghinaan malam ini!”
Zhu Qing’an membungkus tubuhnya rapat-rapat dengan selimut tipis sambil menggigil di tengah malam.
Saat langit mulai terang, Ye Li membuka mata dengan linglung. Ia mengusap matanya yang masih berat oleh kantuk, tetapi sosok Ruan Lan sudah tidak terlihat di lantai.
Pengaturan waktunya sungguh mengagumkan.
Begitu keluar dari kamar pagi itu, seberkas cahaya fajar langsung menyinari wajahnya. Cahayanya tampak lembut, tetapi cukup menyilaukan, sehingga secara naluriah Ye Li mengangkat lengan untuk menghalanginya.
“Sudah bangun?”
Suara Ruan Lan tiba-tiba terdengar dari dapur.
Setelah memperhatikan dengan saksama, Ye Li melihat Ruan Lan sedang menyiapkan sarapan di dapur.
Halaman (2/3)
Ye Li baru hendak bertanya apakah Zhu Qing’an sudah bangun, tetapi beberapa suara batuk tiba-tiba terdengar dari balik tungku.
“Batuk, batuk, batuk—”
Zhu Qing’an keluar dari balik tungku dengan wajah penuh jelaga.
“Hampir mati tercekik... batuk, batuk, batuk...”
Ia terus mengibaskan tangan untuk mengusir asap tebal di hadapannya. Melihat penampilannya yang begitu mengenaskan, jelas bahwa ini pertama kalinya ia melakukan pekerjaan semacam itu.
“Tuan Muda Zhu terbiasa dilayani orang lain. Apakah mencoba bekerja sendiri terasa agak canggung?”
Ye Li mengambil kipas tangan dari tangannya, lalu masuk ke balik tungku.
Zhu Qing’an baru saja hendak membuka mulut, tetapi Ruan Lan sudah lebih dulu berkata, “Dia tidak serapuh itu. Tidak perlu memanjakannya.”
Ye Li: “...”
Zhu Qing’an: “...”
Melihat “sahabat baiknya” selalu merusak citranya, Zhu Qing’an hampir tidak sanggup mempertahankan senyum di wajah. Namun, demi menjaga harga diri, ia berkata dengan sok tegar, “Benar. Perkataan Kakak Ruan tepat. Orang seperti Kakak Ruan yang tidak tersentuh oleh kehidupan duniawi dan tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah saja mampu menahan asap dapur ini, apalagi aku yang berlatih bela diri!”
Ye Li bisa mendengar nada sindiran dalam ucapan Zhu Qing’an. Pada saat yang sama, ia mulai bertanya-tanya apakah Ruan Lan juga seorang ahli bela diri.
Bagaimanapun, tendangan Ruan Lan kepada Zhu Qing’an kemarin sama sekali tidak ringan.
Namun, melihat Zhu Qing’an masih sehat, penuh tenaga, dan dapat melompat-lompat seperti biasa, jelas bahwa tendangan Ruan Lan tidak melukainya sedikit pun.
Menerima tendangan begitu keras tanpa mengeluh sedikit pun—hubungan kedua sahabat itu sungguh luar biasa dekat!
Melihat gerakan Ye Li yang begitu terampil, Zhu Qing’an sengaja mengipasi api pertengkaran. Ia berbisik di telinga Ye Li, “Kakak Ipar, biasanya Kakak Ruan juga menyuruhmu mengerjakan semua ini?”
Ye Li melirik Ruan Lan yang sedang mengukus bakpao, lalu mengangguk. “Dia mengerjakan pekerjaan berat, aku mengerjakan yang ringan. Bukankah pekerjaan akan terasa lebih mudah kalau laki-laki dan perempuan saling melengkapi?”
Zhu Qing’an menggeleng. “Tidak, tidak. Itu tanda bahwa dia tidak menyayangi istrinya. Kalau aku, aku tidak akan pernah membiarkan istriku mengerjakan pekerjaan kotor dan melelahkan seperti ini.”
Ruan Lan menutup panci dengan tutupnya. Nada suaranya terdengar tidak bersahabat.
“Karena kau sudah tinggal di sini, mulai sekarang pekerjaan Ye Li akan kau kerjakan.”
Mendengar itu, Zhu Qing’an yang semula hanya ingin menonton keributan langsung tidak terima.
“Kalau aku mengambil pekerjaannya, lalu dia harus mengerjakan apa?”
“Dia? Mengawasimu,” jawab Ruan Lan.
Wajah Zhu Qing’an seketika berubah sangat buruk.
“Terima kasih atas kerja kerasmu.”
Ye Li menyelipkan kipas tangan itu ke tangan Zhu Qing’an.
Di dalam hati Zhu Qing’an mengumpat habis-habisan, tetapi di wajahnya ia tetap tersenyum.
Ye Li keluar bersama Ruan Lan.
“Apakah orang sebaik dia sudah memiliki pasangan?” tanya Ye Li.
Ruan Lan menghentikan langkahnya, lalu menoleh kepada Zhu Qing’an, yang masih berdiri kaku di tempat.
“Tidak ada yang menginginkannya.”
Halaman (3/3)