Bab 82: Meminta Uang
Keesokan harinya, Ningsih bangun pagi dan mengukus bakpao. Ia dan Tini sudah janjian bertemu pukul sepuluh, namun hingga pukul sembilan, Mok masih belum pulang. Ningsih pun memutuskan untuk tidak menunggu lagi.
Di rumah, ia meninggalkan secarik kertas berisi pesan untuk Mok, mengatakan bahwa ia pergi ke kota dan sudah mengukus bakpao; Mok bisa memanaskannya begitu pulang untuk langsung makan.
*
Mok dan Komandan Li telah beberapa hari mengawasi Fu Chuan dengan ketat. Akhirnya, semalam mereka berhasil menangkap Fu Chuan yang sedang bertemu dengan orang asing di pegunungan. Bukti dan pelaku tertangkap tangan, sehingga penangkapan berjalan mudah.
Komandan Li berdiri di luar ruang interogasi, mengamati Fu Chuan yang sedang diperiksa di dalam. Melihat Mok datang, Komandan Li mengacungkan jempol, “Kali ini, jasa terbesar adalah milik adik ipar.”
Fu Chuan duduk lesu di ruang interogasi, jauh dari semangat dan kepercayaan dirinya saat masih menjadi guru SD di kantor pemerintahan dulu.
Beberapa hari terakhir, Mok sempat membicarakan tentang Fu Chuan dengan istrinya. Ia mengetahui bahwa Fu Chuan beberapa kali sengaja ‘bertemu’ dengan istrinya saat Mok tidak di rumah.
Istrinya memang memiliki paras yang mudah menarik perhatian orang. Mok mulai mempertimbangkan agar istrinya belajar bela diri darinya.
Selama beberapa hari ini, Mok selalu memimpin pengawasan terhadap Fu Chuan. Komandan Li khawatir Mok kelelahan dan menyarankan agar Mok pulang beristirahat, “Interogasi lanjutan biar aku yang urus.”
Mok mengangguk, urusan interogasi memang lebih menjadi keahlian Komandan Li.
Tak ingin istrinya merasa jijik, Mok bahkan mandi lebih dulu sebelum pulang.
Namun, saat ia tiba di rumah, yang menyambutnya bukan istri yang lembut dan wangi, melainkan secarik kertas dingin.
Membaca pesan itu, Mok tidak langsung mengukus bakpao, melainkan berbalik meninggalkan halaman rumah.
Ia pergi ke markas, meminjam sebuah mobil, lalu menuju ke kota.
Melihat waktu keberangkatan istrinya, ia yakin masih bisa menyusul jika mengendarai mobil.
—
Tak jauh dari kompleks keluarga tentara, terdapat bus besar menuju kota. Ningsih duduk di barisan paling belakang, dekat jendela, mengamati pemandangan yang melintas di luar.
Tini dan Yupi duduk di kursi depan Ningsih.
Begitu naik bus, Tini langsung merangkul lengan Yupi dengan manja, sesekali mendekat ke telinga Yupi untuk berbicara, suaranya genit, seolah sedang merayu.
Yupi hanya sesekali menanggapi, jelas ia tidak ingin banyak bicara.
Ningsih merasa lelah melihat Tini, ternyata tidak semua orang seperti Mok. Setidaknya, Mok selalu mendengarkan setiap perkataannya.
Tini sengaja mengajak Yupi duduk di depan Ningsih. Ia ingin Ningsih melihat langsung betapa baik hubungan dirinya dan Yupi, ingin menunjukkan betapa bahagianya hidupnya sekarang.
Sebenarnya, Tini bisa merasakan Yupi sering bersikap acuh saat berbicara dengannya, namun ia tidak merasa kecewa.
Baginya, Yupi sudah bersedia menemaninya memilih gaun pengantin, itu saja sudah cukup untuk membuat Ningsih malu.
Tini tiba-tiba teringat sesuatu, ia menoleh ke belakang, memandang Ningsih, “Adik, kamu ikut kami memilih gaun pengantin, suamimu sudah memberi uang untukmu belum?”
Ia tidak sabar ingin tahu berapa banyak uang yang diberikan suami Ningsih, yang hanya seorang prajurit biasa, untuk membeli gaun pengantin.
Jika bahkan lima puluh rupiah saja tidak ada, ia akan tertawa terbahak-bahak.
“Memang harus memberi?” Ningsih sudah menunggu pertanyaan itu. Melihat kedua orang itu bermesraan, ia sempat bertanya-tanya kapan Tini akan membahas soal uang.
Ningsih bukan orang bodoh, ia bisa menebak tujuan Tini mengajaknya membeli gaun pengantin.
Dari beberapa kali berinteraksi, Ningsih tahu Tini menyimpan rasa cemburu terhadap dirinya, atau tepatnya terhadap ‘dirinya yang dulu’.
Penulis novel ini hanya menulis Tini mengalami kelahiran kembali, tapi tidak menjelaskan bagaimana hubungan Tini dengan Ningsih di kehidupan sebelumnya. Kalau hubungan mereka baik, tentu Tini tidak akan mengambil lembar identitas Ningsih dan menikah dengan Mok, lalu menikmati uang bulanannya yang dikirim kepada Ningsih.
Sebenarnya, Ningsih ingin mengajak Mok untuk mempermalukan Tini. Bukankah Tini mengira Ningsih menikahi seorang prajurit biasa? Kalau Tini tahu prajurit yang ia remehkan ternyata wakil komandan batalyon, pasti wajahnya akan berubah drastis.
Mendengar pertanyaan Ningsih, Tini sedikit terkejut, “Maksudmu apa?”
“Gaun pengantinku tentu saja dibiayai oleh kakak,” jawab Ningsih dengan ekspresi seolah Tini bertanya hal yang sudah diketahui, kemudian menghela napas panjang, agak pasrah, “Selama tiga tahun, kakak mengambil tiga puluh rupiah setiap bulan dari suamiku, totalnya seribu delapan puluh rupiah. Kakak lupa?”
“Kamu asal bicara saja!” Tini tidak menyangka Ningsih tiba-tiba membahas hal itu.
Suara Tini cukup keras, bus masih penuh penumpang lain, banyak yang mulai melirik ke arah mereka.
Tini tidak peduli pandangan orang asing. Melihat Yupi menatapnya dengan tatapan berbeda, Tini cepat-cepat memutar otak mencari alasan.
“Adik, kalau mau berbohong, jangan kelewatan. Aku tahu suamimu memang mengirim uang setiap bulan, tapi dia cuma prajurit, gajinya paling banyak tiga puluh rupiah per bulan. Mana mungkin dia mengirim sebanyak itu? Paling juga sepuluh rupiah, dan uang itu kamu sendiri yang pakai, kan?”
Meski berkata demikian, dalam hati Tini teringat suami di kehidupan sebelumnya. Seorang prajurit yang rela mengirim hampir seluruh gajinya kepada istrinya di rumah, memang patut dihargai.
Dulu, di awal-awal ia mengambil uang kiriman Mok, hidupnya cukup nyaman.
Sayang, Mok cepat meninggal, membuatnya menjadi janda seumur hidup.
“Sepuluh rupiah?” Ningsih menggeleng, lalu merogoh tas mencari bukti transfer, “Tapi suamiku bilang tiap bulan mengirim tiga puluh rupiah, aku juga punya bukti transfer.”
Mendengar adanya bukti transfer, wajah Tini langsung berubah.
Bagaimana mungkin Ningsih punya bukti transfer?
Bagaimana seorang yang dianggap tidak berpendidikan bisa tahu soal bukti transfer seperti itu?
Belum sempat Ningsih mengeluarkan bukti transfer, Yupi tiba-tiba berkata, “Sudah, urusan seperti ini dibicarakan saat tidak ada orang. Kenapa harus ribut di sini?”
Yupi memang terbiasa angkuh. Setelah melihat perdebatan tadi, banyak penumpang bus menoleh ke arah mereka, dan Yupi tidak suka menjadi tontonan.
Ucapan Yupi ditujukan pada Tini dan Ningsih sekaligus.
Tini kini selalu bergantung pada Yupi, tak pernah membantahnya.
Ningsih dulu juga penakut, apalagi berani...
Namun kini, Ningsih tanpa ragu mengeluarkan setumpuk bukti transfer, “Ini bukti transfer, ada tiga puluh enam lembar. Setiap lembar mencantumkan waktu dan jumlah transfer.”
Ningsih hanya ingin mengambil kembali uang yang dikirim Mok setiap bulan. Sikap lawan tidak penting.
Tini tidak menyangka Ningsih benar-benar mengeluarkan bukti transfer, ia melihat Yupi hendak mengambil bukti itu, tapi Tini lebih dulu berusaha merebut dari tangan Ningsih.
Ningsih sudah mengantisipasi gerakannya. Saat Tini belum sempat menyentuh, Ningsih sudah menarik kembali tangannya.
“Kakak, bukti seperti ini cukup diperlihatkan ke calon kakak ipar. Kakak pasti tidak punya cukup uang untuk mengembalikan, kan?” Ningsih menyerahkan salah satu lembar pada Yupi, “Kakak jangan bilang tidak pernah menerima uang, karena setiap penerimaan ada verifikasi identitas. Kakak mengambil uang pakai lembar identitas milikku, petugas pos mengenali lembar identitas itu, juga mengenali kakak.”
Ningsih tidak memberi waktu lawan untuk bernapas, “Kakak, dulu kita sepakat, uang itu dipinjamkan agar kakak bisa sekolah, nanti saat menikah, uang itu dikembalikan lewat uang mahar.”
Ningsih tidak menyebut sebagai uang hasil mencuri.
Ia sengaja mengatakan pinjaman, padahal sebenarnya tidak ingin menjaga muka Tini.
Melihat keadaan Tini yang jelas tak punya banyak uang, Ningsih berniat menagihnya dari Yupi, karena Tini pasti akan meminta bantuan calon suaminya.
Yupi dan Tini baru sebatas pertunangan, belum menikah.
Jika disebut pinjaman untuk sekolah, Yupi pasti tidak akan membiarkan calon istrinya memiliki utang sebesar itu.
Tini kini malu sekaligus kesal, ia sama sekali tidak berani melihat ekspresi Yupi. Kalau saja Ningsih tidak mengeluarkan bukti kuat, ia masih bisa mengelak.