Bab Dua Belas: Hangat dan Dingin Kehidupan
Setelah keterkejutan itu berlalu, Shen Zhiyuan perlahan-lahan kembali tenang. Hanya dalam waktu dua atau tiga hari, Shen Zhiyuan semakin jelas merasakan perubahan besar pada putri bungsunya setelah ia "hidup kembali dari kematian". Alisnya sempat berkerut sebelum akhirnya mengendur, lalu ia menghela napas pelan. Jika Shen Yunyou benar-benar mampu menangani urusan Pangeran Rui, maka itu tak diragukan lagi akan menghapuskan satu beban besar dari hatinya.
Pangeran Rui, Sitou Rui, adalah putra kesayangan Kaisar saat ini. Hingga kini, belum ada putra mahkota yang ditetapkan, dan Pangeran Rui adalah kandidat terkuat. Karena Yunyou, Pangeran Rui sudah sangat tidak senang terhadap keluarga Shen. Awalnya Shen Zhiyuan masih khawatir, bagaimana cara menyelesaikan pertentangan ini. Jika Yunyou benar-benar punya cara untuk membujuk Pangeran Rui, maka kedudukan keluarga Shen di istana juga akan...
"Ayah antar kau pulang, ayo." Sorot mata Shen Zhiyuan berkilat, menatap Shen Yunyou yang tampak agak berantakan. Dengan gerak akrab, ia mengelus kepala Yunyou, lalu mengajaknya menuju kediamannya. Sambil berjalan, suaranya berat, "Lain kali kalau keluar rumah, ingatlah untuk membawa lebih banyak pengawal. Bagaimanapun juga kau adalah putri Shen Zhiyuan. Lihat penampilanmu ini, benar-benar tidak pantas."
Mendengar ucapan itu, Shen Yunyou diam-diam menyeringai dingin. Tidak pantas? Kenapa sebelumnya ia tak pernah berkata begitu pada "dirinya"?
Shen Yunyou sekilas melirik Shen Yunxiu yang berdiri sendirian di belakang, memperhatikan ekspresi tak percaya dan sakit yang jelas terlihat di wajah gadis itu. Kini, Shen Yunyou lebih dari siapa pun mampu melihat dengan jelas situasi keluarga Shen. Shen Zhiyuan bersikap seperti ini padanya sekarang, tetapi jika Pangeran Rui tidak datang, belum tentu dia tidak akan kembali berubah sikap kapan saja. Hangat dan dinginnya hubungan manusia, Shen Yunyou sudah merasakannya sendiri. Kali ini, ia tidak akan membiarkan dirinya kalah lagi.
Ini adalah zaman di mana manusia memangsa manusia lain, dan Shen Yunyou akan memastikan dirinya menjadi pihak yang memangsa, bukan yang dimangsa.
Shen Yunyou tersenyum tipis, menautkan lengannya pada Shen Zhiyuan dengan manja. Ketika sang ayah menanyakan kondisinya, Shen Yunyou menjawab lembut, "Tak ada masalah, hanya luka luar saja. Ayah tidak perlu khawatir, Yunyou bisa menjaga dirinya sendiri."
Jawaban itu sedikit membuat Shen Zhiyuan merasa lega. Setelah mengantarkan Shen Yunyou ke kamarnya, ia segera memanggil tabib. Setelah memastikan Yunyou hanya mengalami sedikit ketakutan dan beberapa luka ringan, hati Shen Zhiyuan akhirnya tenang.
"Di zaman damai seperti ini, tak disangka masih ada kejadian seperti tadi," kata Shen Zhiyuan lirih sambil menggelengkan kepala. "Yun'er, ayah akan memberimu penjelasan untuk masalah ini. Nanti ayah akan panggil petugas, kau tinggal ceritakan ciri-ciri para perampok itu agar bisa digambarkan. Ayah pasti akan menangkap mereka!"
Janji Shen Zhiyuan yang sangat meyakinkan membuat wajah Shen Yunyou tampak sangat terharu. Setelah mengucapkan beberapa kalimat yang bahkan membuat dirinya sendiri geli, Shen Yunyou buru-buru menyuruh Xiuer keluar, lalu segera melepas pakaian yang dikenakannya dan menggantinya dengan baju lama dari lemari.
Xiuer terlalu terguncang hingga tak menyadari bahwa pakaian Shen Yunyou sudah berbeda dari sebelumnya. Jika nanti ia sadar, Shen Yunyou tak akan bisa lagi mengelak. Duduk di depan meja, Shen Yunyou memejamkan mata dengan tenang, mengingat-ingat semua yang terjadi hari itu.
Pangeran Rui yang arogan dan dingin, pria bertopeng yang kejam dan penuh tipu daya. Apa yang akan terjadi selanjutnya, Shen Yunyou benar-benar tak mampu menebak.
Ucapan perempuan itu terus terngiang di telinga Shen Yunyou. Hanya membayangkan pria bertopeng itu akan kembali muncul di hidupnya saja sudah membuatnya bergidik ngeri. Siapa sebenarnya dia? Apa hubungannya dengan Pangeran Rui? Apakah urusan mereka akan menyeret keluarga Shen?
Perlahan membuka mata, Shen Yunyou menekan pelipisnya dengan wajah suram. Tanpa sempat mandi, ia langsung berbaring di tempat tidur, memeluk selimut, merilekskan tubuhnya yang masih pegal, dan mulai merencanakan langkah selanjutnya...
"Kau yakin dia benar-benar Shen Yunyou?" Di sebuah ruangan, seorang lelaki bertopeng setengah berbaring santai di atas dipan, bertanya pada lelaki yang berlutut di depannya.
"Saya yakin," jawab lelaki itu serius. "Kabarnya dia didorong oleh Chu Yu dari lantai atas, awalnya sudah tak bernyawa. Tapi entah bagaimana ia hidup lagi, bahkan penyakit gilanya juga sembuh."
"Pergilah," ujar pria bertopeng itu sambil menyeringai licik.
Dengan malas, ia bangkit berdiri dan melepas topeng dari wajahnya. Ia melangkah ke depan cermin perunggu, menatap wajahnya di cermin, sorot matanya semakin dingin dan kejam.
Shen Yunyou, Chu Yu, Sitou Rui.
Ia mengulang nama ketiganya dalam hati, lalu mendengus dingin, dan tiba-tiba menghantamkan tinju ke cermin hingga pecah.
"Sitou Rui..." Menunduk menatap bayangannya di pecahan cermin, pria itu tersenyum, "Aku ingin melihat, apa yang akan kau lakukan selanjutnya!"