Pada tahun 1840, di Liujia Fort yang terletak di dekat Los Angeles, California, seorang pemuda yang terjatuh dari kudanya, akan segera mengubah seluruh benua Amerika... Di atas hamparan ladang Liujia Fort, Liu Peng memandang luasnya sawah gandum, kebun buah yang semerbak aromanya, serta wajah-wajah polos yang dihiasi senyuman tulus. Dalam sorot mata Liu Peng, terpancar keteguhan hati, juga secercah ambisi yang tersembunyi.
Sesungguhnya, perjalanan buku ini cukup berliku. Pada putaran rekomendasi pertama, karena kendala data, naskah ini gagal melaju. Ditambah lagi, aku memperbarui bab terlalu cepat—para sahabat pembaca setiaku pasti sudah maklum—demi mengejar jadwal terbit pada tanggal satu bulan depan, hari ini aku menerbitkan empat bab sekaligus.
Andai ada yang berkata menulis novel semata-mata demi semangat atau idealisme kosong, itu terlalu munafik—bahkan aku sendiri pun takkan mampu menghargai diriku jika berkata demikian.
Terus terang saja, aku hanya ingin mencari nafkah!
Jujur dari lubuk hati, aku belum puas dengan pencapaian buku ini hingga saat ini. Namun begitulah hidup: mana mungkin segalanya berjalan sesuai kehendak? Siapalah aku ini?
Untuk buku ini, asalkan kalian sudi memberi aku sedikit dukungan—cukup dengan tidak membaca versi bajakan—itulah bentuk dorongan dan sokongan terbesar bagi diriku.
Aku berjanji, buku ini takkan pernah kutinggalkan. Soal pembaruan, aku pun berani menjamin—tak berani berkata muluk-muluk, namun setiap hari paling sedikit sepuluh ribu kata akan tetap menjadi dasar.
Sahabat-sahabat di grup barangkali juga tahu, setiap hari aku menulis hingga lima belas ribu kata. Tentu saja, aku tak berani sesumbar, sebab siapa pula yang tak pernah dilanda sakit kepala, demam, atau urusan hidup lainnya? Maka, aku hanya dapat menjanjikan minimal sepuluh ribu kata per hari; selebihnya, semua tergantung pada antusiasme kalian, para pembaca setia—kalian pasti mengerti maksudku!
Tema buku ini tak lain sejalan dengan judulnya: perjuan